Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Maret 2024 | 16.56 WIB

Cinta Absurd di Sekitar Yamato dan Kematian Mallaby

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Qomar hanya bisa mematung, tak sanggup mengeluarkan satu kata pun. Entah oleh apa, tiba-tiba di kepalanya melintas bayang-bayang Rahma, perempuan yang mencintainya tapi Qomar belum membalas cintanya. Dalam pikiran Qomar, sempat tebersit niat untuk menjalin hubungan dengan Rahma demi melakoni siasat melupakan Hanum.

”Kau sedang memikirkan apa, Mas?” tanya Hanum.

”Semoga peperangan ini segera selesai, Dek!” jawab Qomar seadanya.

Pikiran tentang Hanum dan Rahma terus menggerogoti kepala Qomar. Bahkan, ketika Brigadir Jenderal Mallaby datang ke Surabaya, 25 Oktober 1945, Qomar masih terombang-ambing dalam gelombang cinta yang absurd. Pertempuran bukanlah sesuatu yang mengerikan, bagi Qomar. Kehilangan Hanum-lah yang dirasanya sangat mengerikan. Namun, pikir Qomar, manusia pasti akan kehilangan sesuatu, dan tak ada salahnya ia menjalin hubungan dengan Rahma. Maka, datanglah Qomar menemui Rahma untuk mengajaknya berpacaran.

”Aku mau, Mas,” jawab Rahma kepada Qomar, sehari setelah kedatangan Mallaby.

”Iya!” ucap Qomar. ”Tapi, sekarang peperangan lebih penting. Kedaulatan negeri ini harus dipertahankan.”

Dalam hati Qomar, sebenarnya muncul gejolak lain yang mengingkari ucapannya. Yang terpenting bukanlah peperangan, tapi melupakan atau mendapatkan Hanum seutuhnya.

Qomar berharap Rahma menjadi suaka cintanya jikalau gagal menaklukkan hati Hanum. Atau, muncul siasat lain di kepala Qomar; sambil menunggu Hanum, Qomar melewatinya dengan memacari Rahma.

”Aku akan setia menunggumu, Mas!” kata Rahma. Qomar hanya mengangguk sambil tangannya tetap siaga menggenggam bambu runcing. ”Berhati-hatilah dalam berperang, Mas!”

Tanggal 30 Oktober 1945, Qomar terlibat dalam penyergapan di sekitar Jembatan Merah dan Gedung Internatio bersama pejuang lainnya. Mereka mengintai mobil Buick dari jarak lumayan dekat. Dalam pengintaian ini, Qomar melihat Nurdin, saingannya, yang telah menjamah hati Hanum terlebih dahulu. Nurdin menunjukkan gelagat yang mencurigakan.

”Heh, kau mau ke mana?” pekik Qomar, kemudian disusul bunyi letusan senjata api.

”Itu bukan urusanmu! Aku tak mau mati di medan perang,” sambar Nurdin.

”Bukankah kau kawan dekat Hanum?”

”Ah, persetan dengan Hanum. Dia yang mendekatiku,” kalimatnya berhenti sejenak. ”Maka kujadikan dia cadangan, sembari aku mencari cewek yang lebih sempurna darinya.”

”Asu!” sembur Qomar.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore