Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Desember 2020 | 21.22 WIB

Orang-Orang di Kota Ini

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

IA tahu mereka menunggunya di depan pintu. Berjam-jam menunggunya. Danila mungkin tengah meringkuk, kadang mengepit kedua lututnya. Jijin yang buta akan terus bertanya kepada Salma tentang warna langit dan Salma yang bisu meminta Danila mengatakan sesuatu kepada Jijin. Namun, Danila tak ingin mengatakan apa pun kepada Jijin dan Salma yang keras kepala tak berhenti meminta dan mereka pada akhirnya bertengkar seperti biasa. Danila bisa saja memukul Salma –atau Jijin. Salma bisa pula balik membalas dengan mencakar kepala Danila yang nyaris botak. Jijin yang berjiwa lembut akan menutup telinganya dan menangis terisak-isak karena firasatnya mengatakan sesuatu yang mengerikan tengah mengancam mereka. Danila berdiri dan mengambil benda tajam di dapur. Salma berlari keluar mengambil sepotong kayu. Jijin mengkeret dan bergerak ke sudut ruangan, terus terisak, dan tubuhnya bergetar dan tidak lama barangkali ia akan mati ketakutan. Danila dan Salma saling menyerang. Danila menghunjamkan pisau ke perut Salma. Sebelum roboh, Salma memukulkan sepotong kayu ke kepala Danila dan kepala itu mungkin pecah. Mereka berdua terkapar, bersimbah darah. Kematian segera bekerja dan menyelesaikan semuanya dengan cepat hingga hanya tetesan air dari keran yang sedikit bocor menjadi satu-satunya bunyi yang masih terdengar di rumah itu.

Akan tetapi, begitu ia berdiri di depan rumah (yang makin hari makin tampak kotor dan menjijikkan itu), apa yang ia bayangkan sama sekali tidak terjadi. Ia mengembuskan napasnya yang sejak tadi tertahan di dada. Di teras, di bangku tua, Danila meringkuk, mirip anak kucing yang baik dan penurut. Jijin dan Salma duduk berjejer di depan pintu dan mata mereka memandangi langit kelam –dan ia bertanya-tanya apa yang dilihat Jijin dengan mata butanya itu? Begitu mendengar langkah kakinya yang mendekat, serempak mereka menoleh –kecuali Salma yang masih asyik saja memandangi langit untuk beberapa saat sebelum menyadari kehadirannya– dan Danila berseru: kami sudah lama menunggumu!

Ia bertanya-tanya tentang perasaannya (sebagaimana ia sering bertanya-tanya apa yang dilihat Jijin saat melihat langit dengan mata butanya itu atau apa yang membuat Salma begitu setia kepada lelaki itu dalam penderitaan hidup yang panjang). Ia tidak pernah tahu jawabannya. Ia tidak merasa begitu bahagia saat menemukan mereka baik-baik saja. Namun, ia juga tidak tahu kesedihan macam apa yang akan ditanggungnya jika saja ia menemukan mereka semua mati dengan tubuh penuh luka yang menguarkan aroma amis darah sebagaimana yang sering sekali ia bayangkan ketika kelelahan menggerogoti sekujur dirinya dan membuat pikirannya agak tidak waras.

”Kau membawa pulang sesuatu?” tanya Danila dengan suara khasnya yang terkesan mengancam, yang selama puluhan tahun telah dikenalnya dengan baik tanpa keraguan sedikit pun. Kadang ia berpikir jangan-jangan setelah mati pun Danila masih bisa mengancam orang lain dan mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara seperti itu. Ya, hanya itu yang Danila miliki. Kemampuannya meneror dan menindas. Dan dengan itu pula selama ini ia bertahan hidup. Siapa yang bisa menentang Danila? Siapa yang sanggup mengabaikan kemauannya?

”Tidak,” katanya memperlihatkan tangannya yang kosong. Ia melewati pintu yang menyisakan celah untuk dirinya. Udara semakin dingin di luar dan ia ingin segera menghangatkan diri di dalam selimut yang mungkin saja dulu berwarna cerah, tapi sekarang tidak lebih dari sepotong kain kumal dengan bulu-bulunya yang memuntal. Ia ingin melewati musim hujan ini dengan semestinya. Sudah berjam-jam ia keluyuran di luar. Telapak tangan dan kakinya begitu dingin. Ia tidak bisa lebih lama lagi menahankan embusan angin yang kian membuatnya gemetaran.

Danila bangkit dari bangku –diikuti Jijin dan Salma. Mereka ikut masuk ke dalam.

Danila mendengus, ”Kau harusnya membawa pulang sesuatu!”

Benar. Danila benar. Seharusnya ia membawa pulang sesuatu. Roti kering kesukaan Danila. Atau biskuit berbentuk bulat tipis rasa lemon. Danila akan menikmatinya dengan secangkir teh hangat di musim hujan ini. Dengan cara itu Danila akan merasa kembali memenangkan kehidupan. Membuat bibirnya tak henti menyunggingkan senyum indah. Senyum yang puluhan tahun lalu telah membuat banyak lelaki tersesat dan masuk ke belantara gelap hidupnya.

Jijin dan Salma tidak punya makanan kesukaan secara khusus. Mereka selalu bergembira menerima makanan jenis apa pun yang diberikan kepada mereka. Namun, ia tahu sepasang pengemis tua itu akan sangat gembira bila ia membawakan dua permen yang rasa manisnya memenuhi mulut mereka dan baunya yang enak berputar-putar di udara. Mereka mungkin akan tertawa sepanjang malam bagai sepasang kanak-kanak yang riang.

Akan tetapi, tampaknya mereka hanya akan makan bubur nasi dengan rasa asin yang lama-lama membuat lidah tebal itu untuk selamanya –atau yang lebih buruk dari itu, perlahan mereka mati kelaparan sambil memegangi piring-piring kosong dan doa yang tersendat di kerongkongan. Danila sering mengingatkannya agar bekerja lebih keras dan membawa sesuatu untuk mereka dan meneriakinya dengan kesal bila ia pulang dengan tangan kosong. Jijin dan Salma tak berkata apa-apa, tapi mereka mungkin juga mengutuk di dalam hati. Dan ia cuma berkali-kali berkata, ”Besok kita akan mendapatkan makanan enak.”

Besok dan besok dan besoknya lagi, mereka tetap makan nasi bubur yang membosankan itu. Jijin dan Salma sudah dua bulanan tidak bisa lagi mengemis di jalanan atau mangkal di depan toko-toko dan menunggu belas kasihan orang, lalu memberikan hasilnya kepada Danila sebagai bayaran untuk makan dan tempat tinggal. Mereka sudah terlalu tua untuk kejar-kejaran dengan petugas atau menghadapi amarah orang-orang yang tak menginginkan mereka berkeliaran di luar. Sementara itu, Danila sudah lama sekali tidak lagi menghasilkan uang, baik dari tubuhnya maupun dari perempuan-perempuan yang dulu ikut bersamanya. Rumah pelacuran Danila telah lama mati. Orang-orang meninggalkannya.

Di saat itulah, ia justru kembali kepada Danila. Sebab, baginya, Danila seperti ibunya sendiri yang tak bisa ia biarkan mati sendirian dalam keadaan menyedihkan. Danila yang dulu memberinya makan dan tempat tinggal setelah berhari-hari ia terlunta di jalanan. Danila yang kemudian menjualnya kepada siapa pun yang menginginkannya. Ia marah kepada Danila. Kadang ia ingin membunuhnya diam-diam di saat Danila tertidur di kamar. Namun, nyatanya, di saat ia memiliki banyak kesempatan, ia tak pernah dapat melakukannya.

”Besok, Danila,” katanya. ”Besok aku akan mendapatkannya.”

Danila tua yang malang, pikirnya antara sedih dan marah. Ia tidak tahu sampai kapan akan bertahan di rumah ini. Hidup bersama sepasang pengemis dan Danila yang tak berguna. Barangkali tak lama lagi mereka akan membusuk bersama. Bau mereka akan mencemari kota dan orang-orang tersadar dan mengingat kembali rumah pelacuran Danila yang pernah terkenal itu –Danila yang dulu membuat cemas perempuan baik-baik yang sekuatnya menjaga rumah mereka dari pengaruh kotor seorang pelacur. Sudah pasti tak seorang pun yang akan menangisi mereka. Paling-paling mereka hanya akan muncul di berita surat kabar dengan judul provokatif dan mengundang rasa penasaran untuk beberapa saat. Namun, sebelum itu terjadi, ia akan terus pergi ke luar, keluyuran sepanjang malam dan berharap ada lelaki kesepian dan setengah mabuk yang membuat kesepakatan dengannya untuk menghabiskan satu atau dua jam bersama di penginapan murahan, kucing-kucingan dengan petugas yang makin keras dan tanpa ampun.

”Kau harus datang kepadanya. Sudah kukatakan kau harus datang kepadanya,” kata Danila.

Danila menginginkan ia menemui lelaki yang sekarang sudah melupakan rumah Danila yang tersohor –dan itu sungguh melukai hatinya. ”Kau harus melakukannya.” Itu yang sering dikatakan Danila. Lelaki itu pernah tergila-gila begitu lama pada Danila, sebelum ia menghilang, lalu muncul lagi di kota ini sebagai lelaki saleh yang bertarung dalam pentas politik. Beberapa tahun lalu, lelaki itu memenangi pemilihan wali kota dan Danila mendengar semua itu dengan hati hancur. Lelaki itu satu-satunya orang yang ia cintai dan sekarang mereka bagai malaikat dan manusia sampah. Sejak kemunculan lelaki itu, Danila menua dengan cepat, rambutnya memutih dan rontok dalam sekejap, kulitnya berkerut bagai buah jeruk yang layu. Kesedihan seakan telah merebut semuanya dari Danila. Terlebih setelah lelaki itu berkunjung ke perkampungan ini, tapi tak sekali pun memandang kepada Danila.

”Dia benar-benar tak mengingatku.” Itu yang dikatakan Danila di hari ia memutuskan berhenti mencintai lelaki itu. Di hari ia tahu bahwa segalanya memang sudah berakhir. Ia tak pernah lagi menyebut soal lelaki itu. Sampai wabah mengerikan menjangkiti warga dan tempat ini seketika menjadi kota mati.

”Aku akan menemuinya, Danila,” katanya setengah mengantuk. ”Aku akan membuat lelaki itu mengingat rumah pelacuranmu. Dia tidak bisa melupakanmu begitu saja. Tenang, Danila, kau akan mendapatkan lelaki itu berdiri di depan rumah ini dan membawa roti kering kesukaanmu. Ah, tentu juga permen yang teramat manis untuk Jijin dan Salma. Kita pantas mendapatkan kegembiraan itu.”

Ia tidak tahu kapan tepatnya tertidur. Saat terjaga tengah malam, ia menemukan Danila meringkuk di sisi kanannya dan Jijin dan Salma di sebelah kirinya. Mereka tidur gelisah dan sepertinya sedang bergelut dengan mimpi buruk dan rasa lapar.

Pelan-pelan, ia bangkit dan mengenakan pakaian terbaik milik Danila dan sedikit berdandan. Sore tadi, sebenarnya ia berhasil menemui wali kota itu dan mengenalkan dirinya sebagai orang suruhan Danila. Lelaki itu pura-pura tidak mengingat nama itu. Namun, ia tahu, tak lama lagi diam-diam lelaki itu akan datang ke depan pintu rumah ini dan membawa apa yang ia inginkan.

*

Tengah malam itu, orang-orang di kota ini bergerak cepat ke perkampungan tempat rumah pelacuran Danila berada. Sementara itu, di depan pintu, ia duduk di bangku dan terus teringat bagaimana paras wali kota itu saat ia berkata kepadanya, ”Danila. Danila. Kau tidak bisa melupakan nama itu, Shin.” Orang-orang makin bergerak cepat seolah kejar-kejaran dengan waktu. Ia berpikir, lelaki itu mungkin datang terlambat, tapi tak apa, ia tetap akan menunggu. Demi Danila. Demi Jijin dan Salma. Orang-orang segera menyerbu rumah pelacuran Danila, mereka melemparkan batu dan potongan kayu, bermaksud meneror dan membuat penghuninya ketakutan. Ia terus menunggu dan duduk di sana dan berbisik pada dirinya, ”Ia pasti datang kepadamu, Danila. Ia pasti datang.” Orang-orang merangsek masuk ke dalam rumah pelacuran Danila, tapi tak menemukan apa-apa selain sebuah bangku kosong di depan pintu dan selimut usang di lantai. ”Bakar saja!” kata salah seorang di antara mereka yang mirip suara wali kota. (*)

Rumah Kinoli, 2020

---

YETTI A.KA

Tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat. Kumpulan cerpen terbarunya, Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi Kematian (2020).

Baca juga: Kenapa Telepon Berdering di Hari Minggu?

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=DOZC592WGjg

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore