Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 16 Juli 2023 | 13.45 WIB

Tung Piong

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

”Kalau saya maju kepala desa, inilah salah satu caranya,” ketusnya.

Istrinya bersungut-sungut kecil dari dalam bilik. Lelaki itu merasa perempuan itu memakinya. Dan dia mengeluarkan makian yang paling kejam dan suaranya sebesar lolong anjing. Dia seperti hendak menyayat gendang telinga istrinya. Antoneta pun menangis, dan sambil terisak berpesan bahwa lelaki itu dapat pergi asalkan pulang duluan.

Sejak masuk pesta hingga sepanjang jalan pulang itulah dia berusaha melupakan perselisihan tersebut. Tetapi wajah istrinya yang lusuh dengan mata bengkak terus saja terbayang. Arak kampung tak membuat pikirannya tenang. Jalanan gelap semakin menambah perasaan kalut.

Itu terjadi sebelum tenggorokannya berderit. Sebuah serangan kilat yang mencuri kesadarannya, dan memutuskan secara total seluruh ingatannya. Dia kini menumbuk tanah lantas merembeskan darah ke tanah.

***

”Kau bukan orang yang lahir di kampung ini,” Antoneta Wisang berkata ke suaminya. Keduanya berseloroh di belakang rumah, mengobrol seperti rapat partai, seminggu sebelum tung piong di kampung besar.

”Saya akan mengalahkan keluarga tuan tanah,” ucap lelaki itu.

Dia tahu, istrinya sejak awal menolak rencananya. Perempuan itu memegang teguh adat leluhur. Itu bertentangan dengan ilmu yang dia dapatkan waktu di seminari –saat misionaris Belanda masih mengajar dan kerap mencela penduduk yang menggemari urusan mistis. Namun, dia bukan lagi calon pastor Katolik dan telah terbebas dari kaul. Bagaimanapun dia membutuhkan pertimbangan istrinya.

”Kau harus pergi ke lepo gete dulu,” tutur Antoneta.

”Ritus itu membuang-buang waktu,” lelaki itu menghardik.

”Kita datang untuk meminta restu.”

”Saya tidak butuh restu, tetapi surat suara.”

Keduanya mulai berdebat. Istrinya kerap berceloteh seperti burung hantu, dan lelaki itu menjadi cepat tersinggung ibarat hantu sungguhan. Perkataan perempuan itu salah semua di hadapan lelaki yang bicaranya rumit.

”Sebaiknya kau bekerja menjadi guru agama,” saran istrinya suatu ketika.

”Kauanggap remeh saya?”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore