
Cover buku. (Istimewa)
Modernisasi tidak bisa dielakkan oleh manusia di zaman ini. Orang-orang desa (tiyuh) berbondong pergi ke kota dan kembali ke lempung. Rumah adat biasanya dibiarkan kosong. Tak jarang rusak karena tidak dirawat. Seperti juga kebudayaan, jika tak dirawat akan pula punah. Iin menulis demikian: “bagi rumah panggung yang renta dirayapi kenangan”//sebuah rumah kayu, di jalan berbatu/beranjak renta di makan waktu/lantai dan dinding kering mengabu/tiang-tiang mencoba tegak/berontak di tengah peluh almanak//aku, sang pelancong itu/menatap rumah sambil menerka/berapa banyak silsilah kisah/tersimpan dalam dingin serat kayu/bisu dibungkam sejarah yang berganti istilah//orang-orang berkata, dulu di rumah abu/ibu kerap duduk di depan mettakh/bertahta menenun benang membentang tekang/cucuk andak dan mata kilau menghias sarung/sulaman masa, sepanjang lidah bersambung//agui! telah ia tisik tapis penyumbang,/bekal muli busanding di kuto maro,/tak lupa pula tumpal dan peci/bekal mekhanai pergi mengaji/perjalanan panjang menemukan diri//kini tak ibu di rumah abu/getas pagar kayu, tiang-tiang berganti batu/tapis terlipat benang tak lagi rekat/kain tak pernah selesai dibuat/tekang kehilangan pikat, tergantung di dinding pucat”.
Modernisasi oleh karena budaya urban, tak hanya menimpa masyarakat adat Lampung. Hampir semua budaya-budaya nusantara. Termasuk bahasa ibu yang dikhawatirkan punah, walau sampai hari ini tidak terbukti. Bahasa ini masih tetap digunakan, meski dalam hal-hal tertentu. Demikian pula tradisi/adat acap kita saksikan masih digelar oleh masyarakat adat. Sisi-sisi positif itulah yang hendak disampaikan oleh para penulis Lampung dalam menelisik Lampung dan keLampungan.
Buku Menelisik Lampung (Antologi Karya Sastra 60 Penulis Lampung) ini mencoba penyumbang bagi langkanya tulisan berkonten budaya. Sejumlah penulis yang tak kecil sumbangsihnya bagi konten budaya Lampung ini, di antaranya Luki Pratama, Aan Frimadona Roza, Anton Tri Hastono, Mintarsih Mimin, Yuli Nugrahani, Elly Dharmayanti, Dian Anggraini, Anggi Farhan, Nufaisah Andini Putri, Imanudin, Nurul Hiadayah, Diah Rizki Nur Kalifah, Winda Pratisia, Fadila Hanum, Cykal Qv Ichiya Putri, dan lain-lain.
Melalui buku setebal 385+xviii ini setidak pembaca dapat menelisik Lampung sekaligus mengenal apa-apa yang menjadi tradisi dan geliat penduduknya. Juga tempatan yang bisa dikunjungi sebagai wisatawan; berselancar atas keragaman tradisi dan belajar untuk menghargai budaya. Tabik!
Lampung, 12 Oktober 2025

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
