Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 Oktober 2023 | 16.54 WIB

Menafsir Ulang Dunia dan Cinta serta Fantasi yang Transenden

COVER BUKU - Image

COVER BUKU

Dilema dari kumpulan cerpen terjemahan ini terdapat dalam bahasa terjemahan yang masih membutuhkan pembacaan berulang-ulang untuk sampai pada nuansa dan rasa dalam cerita.

SASTRA terjemahan menjadi embrio yang patut dirawat untuk memproduksi sastra Indonesia yang baru dan superior. Selain itu, sastra terjemahan mendekatkan gagasan yang asing, mengantarkan pada universalitas, serta menjadi medium untuk belajar siasat dalam proses penyampaian informasi dalam cerita. Sekaligus menjadi diversifikasi sastra Indonesia dengan memperkenalkan elemen-elemen budaya asing serta memperkaya strategi penciptaan dalam khazanah sastra Indonesia.

Kumpulan cerpen Sang Nelayan dan Jiwanya merupakan kumpulan cerpen yang diterjemahkan Andreas Nova dari The Model Millionaire; Stories karya Oscar Wilde, sastrawan Irlandia (1854–1900), tokoh gerakan estetika abad ke-19 di Inggris.

Karakteristik kepenyairannya penuh dengan humor satire, metafora, paradoks, fantasi, dialog yang tajam, dan menekankan pada spiritualitas dan moralitas. Kumpulan cerpen ini berisi tujuh cerpen. Masing-masing ”Sphinx tanpa Rahasia”, ”Jutawan Teladan”, ”Sang Nelayan dan Jiwanya”, ”Burung Bulbul dan Mawar”, ”Si Raksasa yang Egois”, ”Teman yang Setia”, dan ”Roket yang Luar Biasa”.

Siasat Penceritaan

Cerpen ”Sang Nelayan dan Jiwanya” (hal 26) menjadi judul dalam kumpulan cerpen sekaligus menjadi cerita yang paling ikonik. Mengisahkan seorang nelayan yang rela membuang jiwanya demi menjadi pengantin laki-laki Putri Duyung Kecil.

Sang Nelayan berhasil membuang jiwanya dan hidup bersama Putri Duyung Kecil. Setiap tahun, sang jiwa datang menemui Sang Nelayan dan menceritakan apa yang telah dilaluinya. Dengan tipu muslihatnya, sang jiwa dapat kembali bersatu dengan Sang Nelayan, meninggalkan Putri Duyung Kecil.

Namun, ketika kembali ke laut, Putri Duyung Kecil telah mati dan kehancuran datang menyapa Sang Nelayan. ”…dan hati yang ada di dalam dirinya remuk karena penuh sesak dengan cintanya, hatinya hancur…” (hal 77).

Cerpen ”Burung Bulbul dan Mawar” mengisahkan penyerahan diri Burung Bulbul untuk mendapatkan bunga mawar merah agar sang pelajar dapat berdansa dengan pujaan hati. Musim sedang tidak bersahabat sehingga mawar merah tidak mekar.

Burung Bulbul, atas nama cinta, rela menyerahkan diri. ”Aku [Burung Bulbul] akan membuatnya [mawar merah] dengan darah dari jantungku sendiri.” (hal 84). Bagi Burung Bulbul, ”Namun cinta lebih baik dari hidup, dan apalah jantung burung dibandingkan dengan hati manusia?” (hal 84).

Bunga mawar merah merekah dan sang pelajar akan berdansa dengan pujaan hati. ”Mawar sudah mekar sekarang; tetapi Burung Bulbul tidak menjawab, karena dia terbaring mati di rerumputan panjang, dengan duri di hatinya.” (hal 88).

Buku ini ditutup dengan cerpen ”Roket yang Luar Biasa” yang menceritakan prosesi pernikahan Pangeran dan Putri Kecil dan pertunjukan kembang api besar. Kemudian disusul cerita-cerita fantasi yang transenden, para kembang api berbicara satu dengan lainnya perihal dunia dan cinta. Bagi Petasan Kecil, ”Dunia ini pasti begitu indah.” (hal 117) dan ”Bepergian meningkatkan wawasan dengan luar biasa, dan menghilangkan prasangka.” (hal 117). Bagi Kembang Api Roda Katrina, ”Tempat mana pun yang kau cintai adalah dunia bagimu.” (hal 118) dan ”Cinta adalah hal usang.” (hal 118).

Bagi Lilin Romawi, ”Cinta tidak pernah usang. Cinta seperti bulan, dan hidup selamanya.” (hal 118). Kemudian, para kembang api membicarakan rasa simpati yang berasal dari proses memikirkan diri sendiri dan berharap orang lain melakukan hal yang sama, serta ditutup dengan kemalangan nasib Roket atas ambisi pribadinya yang ingin memberikan penampilan terbaik.

Roket tidak dinikmati oleh siapa pun, ”Tetapi tidak ada yang mendengarnya [Roket], bahkan kedua anak laki-laki itu, karena tertidur lelap.” (hal 132) dan renungan Lilin Romawi ”Seseorang yang, karena dia sendiri punya kutil yang menyakitkan di kakinya, maka ia selalu menginjak jari orang lain agar merasakan sakit.” (hal 120) merepresentasikan kritik moralitas dan menjadi acuan perenungan bagi pembaca.

Paradoks dan Dilema Sastra Terjemahan

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore