
MENCURI PERHATIAN: Salah satu kuliner dengan nama unik. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)
Esai-esai dalam buku ini membuka lapisan dasar interaksi manusia sebagai pengguna bahasa dan betapa kaya sekaligus cairnya bahasa itu sendiri.
---
BAHASA tidak hanya menunjukkan bangsa, bahkan tidak pula sekadar menentukan harga, bila meminjam istilah Samsudin Adlawi dalam buku ini. Bahasa dengan sengaja juga menunjukkan politik dan maksud tertentu si pengguna.
Kita mengalami perubahan istilah dari jongos, babu, pembantu rumah tangga, hingga asisten rumah tangga. Sebab, setiap istilah yang dipergunakan memiliki maksud tertentu.
Situasi dan sejarah membuat sebuah kata maupun frasa dapat memiliki maksud tidak sekadar makna kamus sendiri. Misalnya, aman dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan bebas dari bahaya; bebas dari gangguan (pencuri, hama, dan sebagainya). Namun, oleh sebuah rezim, kata aman-amankan-amanken justru bahaya sekaligus membawa rasa tidak aman.
Sebab, bila kata tersebut sudah dipergunakan, itu berarti akan ada yang ditahan, dijebloskan penjara, atau bahkan dihilang-musnahkan. Contoh lain, kata kiri tidak hanya menunjukkan arah.
Adlawi dalam esai Metamorfosis ’’Kiri’’ membedah bagaimana asal muasal kiri begitu menyeramkan dalam bahasa politik kita dan selalu dikaitkan dengan kelompok tertentu. ’’Terminologi ’kiri’ sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi hantu. Sebab, kata ’kiri’ masih sangat sensitif bagi bangsa ini (halaman 71).’’
Atau, bagaimana beberapa hewan dalam khazanah berbahasa kita justru mewakili hal-hal lain di luar sosok fauna itu sendiri. Dalam esai Adlawi Binatang Perkaya Bahasa disebutkan bahwa ’’Banyak kosakata untuk istilah dan ungkapan dalam bahasa Indonesia berasal dari binatang. Istilah atau ungkapan yang menggunakan nama binatang ini kebanyakan dipakai untuk mewakili ekspresi, negatif maupun positif (halaman 9).’’
Kedekatan binatang dengan istilah buruk tentu hadir dengan kesadaran bahwa ras manusia di atas kelompok binatang. Maka, tidak aneh bila dalam keseharian istilah-istilah yang memakai nama binatang cenderung berarti kurang baik.
Bahkan, dalam karya sastra kita akan menemukan kecenderungan yang demikian pula. Ulat, misalnya. Larva bagian dari metamorfosis serangga ini beberapa kali dipergunakan sebagai metafora kerakusan dan sifat buruk manusia.
Misalnya, dalam cerpen Ulat dalam Sepatu karya Gus Tf Sakai, Ulat Bulu dan Syekh Daun Jati milik Agus Noor, atau cerpen Ulat Daun Emas besutan Muna Masyari. Kita akan menemukan ulat ialah manifesto karakter hayawaniah manusia dan pola demikian juga lahir dalam percakapan sehari-hari kita.
Perkembangan istilah dalam percakapan yang ditangkap Adlawi juga kadang melompat ke berbagai domain. Misalnya, mengawinkan kata mi dan setan. Lahirnya bukan sebagai mi milik setan si makhluk gaib, melainkan mi yang bila dimakan punya sensasi kesetanan karena begitu pedas.
Bagaimana singkatan ala jalanan menjadi riuh dalam percakapan. Corona yang berarti Comunitas Rondo Merana, pamer paha yang adalah padat merayap tanpa harapan. Di Jogja kita kenal penyederhanaan jakal, jamal, dan monjali, misalnya, untuk Jalan Kaliurang, Jalan Magelang, dan Monumen Jogja Kembali.
Bahasa Indonesia, meski beberapa masih dalam tataran percakapan, begitu cerdas dengan adaptif terhadap apa-apa yang tumbuh di sosial. Misalnya, bahasa dagadu dan bahasa walikan Malang pun sekarang bukan lagi hal asing.
Sebab, bahasa secara individu juga cerdas dan begitu cair. Dan, manusia sebagai ras cerdas penghuni pucuk kelas tak lagi memusingkan wolak-walik dan makna sebuah frasa yang mungkin berlapis-lapis.
Dalam 28 esai ini, Adlawi merangkum fenomena kebahasaan dan menguraikan dengan bahasa yang gamblang. Tuntutannya sederhana bila sekadar memasukkan prokem atau frasa atau istilah tertentu dalam kamus kita.
Esai-esai dalam buku ini justru membuka lapisan dasar interaksi manusia sebagai pengguna bahasa dan betapa kaya sekaligus cairnya bahasa itu sendiri. Bahasa itu hidup, dibayangi banyak makna, terus beranak pinak, sekaligus mengandung pilihan politik yang tak bisa dihindari.
Sebagai orang yang setiap hari berhadapan dengan teks, buku ini adalah oase sekaligus wisata bahasa yang menggembirakan. Dibahasakan laiknya sebuah feature ringan surat kabar, tetapi memotret bagaimana interaksi berbahasa kita.
Tentu 28 esai dalam buku ini bukan rangkuman dari semua fenomena. Yang dihadirkan dalam buku Makan Kapal Selam ini adalah teaser agar pembaca, peneliti, maupun penggila bahasa mengulik dan merangkum lebih jauh dan mendalam. (*)
Photo

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
