
COVER BUKU
SAMPAI hari ini saya percaya bahwa puisi (sajak) berangkat dari peristiwa. Puisi dengan mediumnya yang padat dan singkat, bahkan terkesan begitu cepat untuk memotret sejumlah ihwal, tak pernah lepas dari kejadian di sekelilingnya.
Penyair –kurang lebih hampir sama dengan pemikir– setiap perenungannya seperti menyibak estetika baru dari belantara kehidupan. Dengan kerja pengendapan, ditambah pengalaman hidup selama bertahun-tahun, akhirnya kata-kata itu pun tumpah dalam puisi. Kata-kata yang memayungi peristiwa dari kehidupan itu sendiri.
Dan Nanang R. Supriyatin, penyair yang konsisten, begitu tekun untuk menunggu momen puitik itu hadir. Saya sepakat, sebagaimana yang ditulis Isbedy Stiawan ZS dalam semacam pengantar di kumpulan ini, sesungguhnya momen tersebut telah ”mengendap” jauh sebelum puisi itu ditulis.
Maka, tak mengherankan ketika momen itu mendesak, puisi-puisi pun berlahiran, bahkan dalam sehari bisa hadir beberapa karya yang ditulis. Namun, memang jeda yang panjang turut menjadi jejak bahkan saat puisi tersebut selesai ditulis dan kembali menjadi milik publik.
Suatu hal yang mengingatkan saya pada puisi Iswadi Pratama ihwal puisi seperti melempar secuil batu ke dalam kolam. Sebagaimana upaya untuk menangkap sesuatu yang sebentar dan sementara.
Acap kali ada gema yang panjang tertinggal saat puisi selesai dibaca. Gema yang menyentuh sanubari jauh ke relung dada.
Dan kita pun berhadapan dengan puisi ini:
kalau jendela tertutup. Aku tak dapat memandang langit/ bintang-bintang mengerdip. Awan putih. Pelangi mengurai/rambutnya// aku tak dapat melihat kau berjalan di bawah pohon rindang/ kalau jendela benar-benar tertutup dan aku terkunci dalam/ kamar. Meratapi kesedihan// (puisi ”Jendela”, halaman 8) atau puisi lainnya yang tenang mengamati suasana, begitu tenang dan tertib.
Seorang penyair, barangkali, dapat diibaratkan sebagai pemancing yang selalu membawa umpan agar kata-kata tertangkap kailnya. Ia mungkin hanya menunggu, menjelajah, tidur-tiduran, kemudian berharap segera umpannya kena oleh sambaran yang ingin menyantapnya.
Puisi bertindak sebagai the other voice –meminjam ucapan Oktavio Paz. Si penyair sebagai pengolah kata tentu tidak mengerti mengapa puisi yang ditulis dapat berubah jadi seperti itu. Sebagai sebentuk aura suara, yang bisa menyuarakan keinginan-keinginan di masa mendatang.
Residu Kata
Puisi-puisi Nanang membentangkan sekelumit percikan. Ketika membacanya, kita diajak untuk berdamai dengan diri sendiri. Ia menghidupkan sejumlah kenangan, asmara, atau mungkin hal-hal kecil yang terkadang tak pernah kita perhatikan dengan tulus dalam kehidupan.
Buku ini terdiri atas tiga bagian: Nyanyian Cinta, Nyanyian Keseharian, dan Nyanyian Hari Tua. Terasa bagaimana Nanang mengangkat sejumlah tema besar dalam kehidupan selepas baktinya sebagai abdi negara. Menurut saya, dia banyak melakukan perenungan panjang tentang kehidupan.
Pun saat puisi bergema di akhir, ia meninggalkan residu kata yang dalam. Hal yang membuat diri kita mengembara untuk terus menyibak setiap ingatan, rindu tentang sesuatu ataupun kenangan –yang barangkali hadir hanya sesaat kemudian layak untuk dicatat.
Bahkan dalam sejumlah puisi pendeknya, ia menyeret ke lubuk terjauh. Sehingga membuat saya tergoda untuk terus membacanya berulang-ulang: memakai arloji di pergelangan tangan/ mengingatkan hidup dekat kematian// (puisi ”Arloji”, halaman 31).
Puisi-puisi pendeknya juga meninggalkan rongga saat membacanya. Singkat dan padat, namun mengena ke jantung hati. Misalnya puisi yang ini: setelah percakapan pada malam itu/ adakah kematian dalam gemuruh angin?// dinding-dinding retak, tubuhku gemetar/ malam kepayahan. O, abstraksi!// (puisi ”Setelah Percakapan”, halaman 63).
Pada buku ini, Nanang secara khusyuk dan fokus membedah diri secara pribadi tentu tanpa merasa pasrah terhadap peristiwa yang ada. Ia menguliti setiap sisi kemanusiaan dengan turut membenturkannya terhadap lingkungan atau kehidupan itu sendiri. Tidak menghakimi, tidak berpetuah petuah khotbah. Puisi-puisinya mengalir dan menghidupi fragmen demi fragmen.
Ia menyimpan ”tenaga” baru dalam setiap diksi yang dihamburkannya. Dan puisi-puisinya, saya kira, bergema sampai jauh. Sebagaimana yang ditulisnya ihwal kehidupan:
halaman-halaman dalam buku terbuka/ aksara demi aksara membaca tubuhnya// kehidupan dan kematian berdampingan/ tanpa jarak. Bagai rumah dan kubur//kubur-kubur sepi setelah hujan dan badai/ setelah peziarah pergi satu-satu//seseorang duduk di bawah lampu temaram/ merasakan gonjang-ganjing dadanya// dalam gelap terdengar suara/ apakah di balik pintu atau di atas meja?// entah (puisi ”Buku Hidup”, halaman 43). (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
