
Photo
Labelisasi seksis, kalimat-kalimat yang kedodoran, dan salah ketik bisa ditemukan di berbagai sudut Balada Supri.
---
SAYEMBARA kepenulisan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) terbukti telah menghasilkan nama dan karya yang diakui, baik pembaca kita maupun internasional. Nama-nama seperti Ayu Utami, Ratih Kumala, Andina Dwifatma, Mahfud Ikhwan, Faisal Oddang, hingga Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie terbukti meroket selepas dinobatkan sebagai pemenang sayembara DKJ.
Pada 2018, DKJ mengeluarkan 3 karya sebagai pemenang dan 5 karya sebagai karya yang layak diperhitungkan untuk terbit. Tiga pemenang itu ialah Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi, Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman karangan Ahmad Mustafa, dan tajuk Balada Supri milik Mochamad Nasrullah.
Ketiganya boleh dibilang nama baru yang relatif masih muda dalam kancah sastra Indonesia. Nama baru dan jiwa muda penulisnya diharapkan mampu memberi warna segar dan terobosan dalam kepenulisan sastra. Baik dari tema, cara kepenulisan, maupun mungkin keberpihakan.
Tapi, setelah terbit menjadi buku, Balada Supri yang merupakan juara ketiga sayembara DKJ menjadi karya yang diragukan banyak orang. Beberapa menilai masih sangat mentah, kalimat-kalimat yang tidak kuat, dan kecenderungan untuk tampil megah dengan tema mewah namun cara menulis yang mentah.
Novel ini memotret keluarga empat generasi: Djoko Telu, Djoko Tole, Supri Kumbang, dan Supri Burung. Kelindan tragedi melilit tiga lelaki beda generasi tersebut. Djoko Telu mewakili era penjajahan dan menjadi salah satu musuh Kompeni. Djoko Tole terkait peristiwa 65. Supri Kumbang berada di pusaran Orde Baru, maraknya pembunuhan preman. Dan Supri Burung terkait politik identitas Tionghoa.
Novel ini bisa dianggap sebagai rentetan saga sebuah keluarga yang adalah potret perjalanan Indonesia. Konflik-konflik horizontal di lapisan bawah adalah riak kecil yang mewakili gelombang besar perkara di skala nasional.
Keluarga Supri dalam hal ini secara tidak langsung mewakili yang terjadi di Indonesia. Disajikan dengan sedikit campuran absurditas (untuk tidak terjebak pada lema dewan juri, realisme magis). Muncul interaksi dengan kuntilanak, percakapan dengan hewan laut, dan sebagainya.
Latar budaya patriarki begitu kentara dalam novel ini. Terlebih, novel ini ditulis oleh laki-laki dan fokus tokoh pun laki-laki. Yang mengusik pembacaan adalah munculnya labelisasi seksis terhadap perempuan.
Penulis berkali-kali menyebut ’’istri cerewet’’. Frasa ini tidak menjadi soal bila memang penulis memberi porsi pas agar tampak benar di titik mana cerewet yang dimaksud. Sayang, penulis tidak menghadirkannya.
Sehingga frasa ini tampak sekadar label yang jamak dan mendiskreditkan, bahwa istri selalu cerewet dan mengganggu suami. Juga soal asumsi keperawanan perempuan, bahwa darah saat malam pertama wajib hadir. Sebuah kredo yang merugikan posisi perempuan.
Kesalahan fatal yang hampir menghiasi setiap halaman adalah salah ketik yang dibiarkan begitu saja, seperti tidak disunting dengan baik. Lebih dari itu, banyak kalimat kendur dan kedodoran. Misalnya, Djoko Tole sudah mengenal anak itu sejak ruhnya belum ditiupkan ke dalam janin yang dikandung oleh istrinya yang cerewet (halaman 15).
Hal senada misalkan, beberapa ratus langkah dari rumah ini sudah ada banyak orang-orang (halaman 74). Buku ini disunting dengan ala kadarnya, minimalis yang buruk. Kalimat-kalimatnya kehilangan kekuatan sebab disajikan dengan porsi melembak.
Sebagai buku debut dan pemenang sayembara bergengsi, Balada Supri jelas memancing keriuhan massa. Seberapa akurat tema harus dipertaruhkan dengan kecakapan menulis yang biasa saja.
Ernest Hemingway dengan gagah bicara, beri aku benda apa saja, asbak misalnya, akan kubuat cerita seketika. Tema bukan hal penting yang diutamakan, melainkan kecakapan seorang pencerita dalam merangkai kalimat menjadi babak yang paripurna.
Predikat juara memang selalu mencuri perhatian. Banyak yang memberikan pukau, tak sedikit yang merapal kekecewaan. Hal yang wajar dan tak bisa dimungkiri dalam sebuah kompetisi. Namun, Balada Supri selain diakui ’’bagus’’ oleh dewan juri masih harus berhadapan dengan pendapat pembaca yang mungkin sangat personal dan sedikit bahaya.
Berhasil atau gagalnya Balada Supri membawa angin segar dan kebaruan dalam iklim sastra yang labil, jelas bisa diperdebatkan. Mampukah ia tampil penuh pesona sebagai juara 3 sayembara, tentu masih bisa dicibir bersama. Namun, setidaknya di edisi pertama ini Balada Supri hadir bopeng dan penuh catatan. (*)
Judul: Balada Supri
Penulis: Mochamad Nasrullah
Penerbit: Anagram, Jakarta
Cetakan: I, September 2019
TEBAL: 230 halaman
ISBN: 9786239161705

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
