Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 September 2017 | 01.30 WIB

Di Balik Keputusan Start-up Global Memasuki Pasar Indonesia (2)

Kuo-Yi Lim - Image

Kuo-Yi Lim

JawaPos.com - Maraknya ekosistem start-up telah diikuti bangkitnya dana modal ventura. Seberapa aktif modal ventura itu benar-benar berkontribusi terhadap keberhasilan peluncuran pasar perdana mereka di Indonesia? Apa peran yang mereka mainkan di ekosistem, selain menjadi penyedia modal?


Start-up yang ingin masuk ke pasar Indonesia sering berusaha membawa investor modal ventura untuk membuka pintu pasar. Misalnya tutorial on demand asal Hongkong, Snapask, yang diluncurkan di Indonesia pada awal September setelah bekerja sama dengan investor modal ventura Indonesia, Kejora Group.


Modalku, sebuah platform pinjaman peer-to-peer untuk usaha kecil dan menengah (UKM), juga terbantu oleh Alpha JWC, sebuah perusahaan investasi baru yang berbasis di Jakarta. Alpha JWC menanam modal di sister company Modalku yang berbasis di Singapura, Funding Societies.


Investasi itu dilakukan pada tahap awal, tepatnya ketika pendirinya, Reynold Wijaya dan Kelvin Teo, membangun perusahaan tersebut pada malam hari di Harvard Business School. Ketika duo itu mengembangkan perusahaan tersebut dari Singapura ke Indonesia bersama Iwan Kurniawan, Alpha JWC memberikan arahan kepada beberapa user pertama, karyawan kunci dan mitranya.


Selain membantu start-up dengan arahan operasi dan bisnis, beberapa investor memberikan saran mengenai keputusan strategis. Misalnya modal ventura baru asal Singapura, Monk's Hill Ventures, yang didirikan mantan CEO Infocomm Investments Kuo-Yi Lim dan pendiri Match.com Peng Ong. Monk's Hill dikelola para veteran start-up yang dapat memberikan saran mengenai, misalnya, waktu yang tepat untuk menimbang dan mengelola cash burn saat memasuki pasar.


Cash burn adalah situasi ketika perusahaan menghabiskan modal untuk membiayai pertumbuhan sebelum menghasilkan arus kas. ”Anda harus menunggu dan membakar uang selama beberapa tahun.


Tapi, Anda harus memahami apa tujuan Anda membakar itu. Apakah itu untuk mengumpulkan pengguna atau data? Berapa jumlah yang cukup? Berapa banyak dana yang akan membantu Anda melewati ambang batas tertentu sehingga menjadi kompetitif?” kata Kuo-Yi Lim.


Dia memperingatkan soal mental ”memperoleh semua dana” yang dipopulerkan di dunia start-up dan pendapat bahwa beberapa investor modal ventura bersedia membiayai semuanya. Untuk aplikasi transportasi seperti Go-Jek dan Uber, platform e-commerce seperti Tokopedia dan Amazon, mental the winner takes all memang sulit ditolak.


”Di tempat seperti Indonesia, salah satu alasan ekosistem start-up teknologi, terutama di e-commerce, sangat dinamis, hambatan masuknya tidak tinggi. Hal itu memungkinkan pemain baru masuk dengan relatif mudah,” katanya.


”Daripada berinovasi pada produk atau layanan, jika Anda tidak membakar uang untuk mendapatkan pelanggan, Anda mungkin mengalami masalah saat pesaing dengan kocek yang lebih dalam masuk ke pasar,” lanjutnya.


Salah satu fungsi penting investor modal ventura adalah alokasi sumber daya. Chandra Tjan, salah satu pendiri Alpha JWC, melihat, banyak start-up berdiri setiap tahun. Tapi, dari sebagian mereka, meski produknya bagus, waktunya terlalu dini.


”Beberapa layanan on demand mungkin cocok untuk pasar lain, tapi terlalu dini untuk Indonesia. Layanan pengiriman kebutuhan bahan makanan (groceries, Red) online, misalnya, adalah solusi yang bisa berjalan dengan baik di pasar yang matang seperti Singapura, tapi mungkin masih terlalu dini untuk Indonesia,” urainya.


Alpha JWC berhati-hati dalam berinvestasi, yakni hanya di perusahaan start-up yang memiliki visi dan potensi pasar yang besar. Dengan kata lain, start-up yang potensi pasarnya hanya ada di kota besar dan terkonsentrasi seperti Jakarta tidak akan masuk mandat investasi mereka.


”Start-up harus menargetkan empat kota terbesar di Indonesia. Ketika Jakarta adalah pelabuhan pertama saat memasuki negara tersebut, proposisi value-nya harus Pan-Indonesia,” kata Chandra Tjan.


Seorang pemodal ventura yang tidak ingin dikutip namanya mengatakan, mampu membangun tim berkinerja tinggi di luar kantor pusat sama pentingnya dengan mencocokkan pasar dengan produk.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore