
Photo
JawaPos.com - Berjualan baju bekas atau istilah kerennya thrift shop, atau istilah lokalnya 'awul-awul' kian diminati kalangan anak muda di Semarang. Tak hanya menghasilkan cuan, peluang bisnis ini juga dianggap sebagai solusi untuk mengurangi limbah pakaian.
Tak sembarang baju bekas yang dijual, namun baju-baju bekas bermerek (branded) atau sedang tren yang didatangkan langsung dari luar negeri, seperti Korea, Jepang, dan terkadang Tiongkok. "Kalau bal (satu gulungan, red.) baju, saya suka dari Korea, Jepang gitu tapi kadang juga ada dari Tiongkok," kata pemilik Uniche Gallery Zain, ditemui saat gelaran Markaz Fest Semarang, Kamis (26/1).
Baju-baju bekas itu diimpor dalam bentuk bal-balan, bukan satuan, dengan asumsi satu bal berisi sekitar 25 baju dengan berbagai model yang dikemas dalam bentuk gulungan. "Kalau cari bal yang bagus harus nyoba beberapa kali, kadang dapat yang 70 persen bagus, 30 persen 'reject'. Begitu sebaliknya," katanya, dikutip dari Antara.
Pameran atau festival thrift sering dimanfaatkannya untuk mendulang rezeki dengan menjajakan baju-baju impor bekas, sementara informasi kegiatan didapatnya dari media sosial maupun komunitas. Zain menceritakan awalnya berbisnis thrift saat pandemi Covid-19 yang membuat banyak usaha gulung tikar, sehingga berpikir mencari usaha dengan modal kecil namun menghasilkan untung yang lumayan besar.
Untuk membangun sebuah bisnis thrift shop, Zain menyebutkan modal yang dibutuhkan sekitar Rp 4-6 juta, tetapi kesulitannya adalah melewati trial and error saat memilih pakaian yang bagus.
"Kalau acaranya besar ya modalnya besar. Tapi, satu bal baju biasanya start dari harga Rp 5 juta. Untuk penghasilan tergantung event thrift-nya ya. Kalau besar ya sehari bisa sampai Rp 5 juta. Tapi, kalau event-nya kecil ya minimal Rp 1 juta dapat lah," katanya.
Selain Zain, ada juga Novia Ayu, 25, yang membuka usaha thrift bernama Rarepose.co sejak 2022 berawal dari keinginannya mencari penghasilan tambahan hingga keterusan sampai sekarang. Dalam berbisnis thrift biasanya ada sistem khusus pengolahan baju bekas sebelum dijual kembali, diawali dari sortir kelayakan, hingga dimasukkan ke laundry untuk dicuci bersih.
Ke depan, Novia menilai bisnis baju bekas bermerek masih prospek, khususnya dalam satu tahun ke depan. Hal ini mengingat banyak anak muda yang tertarik untuk membeli baju bekas ketimbang harus membeli baru karena mahal.
Sejauh ini, Novia masih berfokus menjual baju bekasnya secara online, lewat media sosial maupun situs e-commerce. Namun, tak jarang juga mengikuti pameran thrift untuk melayani penjualan luring.
"Untuk penjualan kita masih fokus di online, di media sosial. Kalau weekend kita biasanya ikut car free day (CFD) atau event seperti ini," pungkasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
