
Photo
JawaPos.com - PT Indosat Tbk (ISAT) baru saja membagikan dividen Rp 9,5 triliun. Dividen tersebut terdiri atas dividen tahunan Rp 4,5 triliun dan dividen interim Rp 5 triliun.
Pembagian dividen itu berlangsung menjelang merger dengan PT Hutchison 3 Indonesia. Menurut Pengamat pasar modal Nusantara Investama Kuntho Priyambodo, dividen Rp 9,5 triliun tersebut adalah yang terbesar selama sepuluh tahun terakhir.
Pada 2017 Indosat membagikan dividen Rp 1,1 triliun. Pada 2018 turun sebanyak Rp 397 miliar. Lantas, pada 2020 Indosat tak lagi membagikan dividen.
Kuntho Priyambodo berpendapat, pembagian dividen itu sangat menguras kas perusahaan. Sejatinya, pembagian dividen tidak mengganggu kas dan operasional perseroan, kewajiban ke karyawan dan pelanggan IM2, komitmen pembangunan ke Negara, serta kewajiban membayar uang pengganti di kasus korupsi IM2.
Kuntho Priyambodo menyebut, berdasar laporan keuangan September 2021, kas di Indosat hanya Rp 11 triliun. Artinya pasca tebar dividen, kas Indosat hanya tersisa Rp 1,5 triliun. Padahal CAPEX tahunan Indosat selama ini Rp 8 triliun.
"Pembagian dividen interim memang sudah diumumkan sebelumnya. Namun dividen tahunan yang ditarik dari laba ditahan, tak ada disclosure di rencana merger. Dengan disisakan kas Rp 1,5 triliun, operasional Indosat dipastikan 'terseok-seok'. Alangkah baik jika perusahaan tetap menjaga retain earnings besar agar bisa bersaing di tengah kompetisi yang tinggi di industri telko," ujar Kuntho dalam keterangannya, Selasa (30/11).
Ia menyebut, Indosat memang bisa menambah likuiditas dengan terbitkan obligasi atau meminjam uang dari bank. Namun, dengan rasio utang dan ekuitas (debt to equity ratio) 2,7x, bagi Indosat tidak mudah untuk mendapatkan pendanaan dengan bunga yang kompetitif.
Sebenarnya Indosat memiliki pilihan untuk menggembangkan usahanya melalui dana murah dengan menjaga retain earnigs dari hasil penjualan aset perusahaan yang bisa diinvestasikan kembali. Bukan malah bagi dividen dan pinjam ke bank atau terbitkan obligasi yang dapat menaikan rasio hutang.
"Dengan dividen tahunan yang ditarik dari retain earnigs, maka DER Indosat akan melesat menjadi 3,6x. Ini jauh di atas rival terberat mereka, XL yang memiliki DER 2,45x. Kinerja kinclong Indosat tahun ini karena penjualan tower. Bukan dari operasional organik. Ketika penjualan tower dihilangkan, laba perseroan masih merah," tuturnya.
Kuntho menilai rencana merger Indosat H3I akan meleset jauh. Sebab dua perusahaan itu merupakan perusahaan yang tidak sehat.
Melihat laporan keuangan Maret 2021, ekuitas H3I minus Rp 257 miliar. Ekuitas H3I terus tergerus akibat akumulasi kerugian di 3 tahun terakhir. Rugi bersih H3I juga terbilang spektakuler yaitu Rp 1,7 triliun. Bahkan 3 tahun terakhir H3I tak pernah membukukan keuntungan.
Akibat perusahaan yang terus merugi, kemampuan mereka menggelar jaringan dan pertahankan kualitas layanan juga terbatas. Itu tercermin dari penjualan H3I yang stagnan hanya Rp 3,3 triliun. Sehingga merger ini tidak membawa ke arah perbaikan baik untuk Indosat maupun H3I.
"Dengan memaksakan pembagian dividen Indosat yang besar, beban perseroan akan semakin berat. Ditambah dengan beban kinerja keuangan H3I yang jauh lebih sulit dari Indosat. SRO, Kominfo, dan KPPU harus melihat dengan jeli dalam berikan izin merger Indosat H3I," kata Kuntho.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, PT. Indosat Tbk (Indosat Ooredoo) membagikan total dividen sebesar Rp 9.499.982.920.045 atau Rp 1.748 per lembar saham. Dividen diumumkan dalam dua bentuk terpisah kepada pemegang saham.
Pertama, dividen tahunan berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Indosat Ooredoo yang digelar Jumat (26/11) secara virtual, sebesar Rp 4.500.003.349.355 atau Rp 828 per lembar saham. Kedua, Dividen Interim berdasarkan kinerja keuangan sembilan bulan tahun 2021 sebesar Rp 4.999.979.570.690 atau Rp 920 per lembar saham.
Dalam RUPSLB Indosat Ooredoo, Direktur Utama Indosat Ooredoo Ahmad Al-Neama menyampaikan, dalam sembilan bulan pertama 2021, total pendapatan Indosat Ooredoo meningkat 12,0 persen Year on Year (YoY) menjadi Rp 23 triliun. Pendapatan seluler naik 10,3 persen YoY menjadi Rp18,8 triliun.
Sementara itu EBITDA meningkat 22,7 persen YoY mencapai Rp 10,4 triliun dalam sembilan bulan tahun ini karena kombinasi pertumbuhan top-line dan fokus berkelanjutan pada efisiensi biaya operasional.
Performa ini dikatakan membantu Perseroan memberikan pertumbuhan margin EBITDA sebesar 4,0 bps YoY, menjadi 45,1 persen. Indosat Ooredoo juga mencatatkan laba bersih sebesar Rp 5,8 triliun.
“Kami sukses mempertahankan momentum pertumbuhan dan menghasilkan kinerja keuangan yang sangat baik melalui eksekusi strategi transformasi yang disiplin,” jelas Al-Neama di Jakarta
Tidak hanya itu, lanjut dia, Indosat Ooredoo juga berhasil memberikan kinerja jaringan dan layanan telekomunikasi digital yang luar biasa kepada pelanggan. Dengan semangat #BisaBangkitBersama yang belum lama ini digaungkan, Indosat Ooredoo mengaku berkomitmen penuh untuk terus mendukung agenda pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai Digital Powerhouse di kawasan Asia Tenggara.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
