
TERAMPIL: Ida Rachmawati dengan sejumlah tas kancas yang diproduksinya. Selain tas, Ida juga memproduksi kerudung dan gamis.
Langkah terbaik berbisnis adalah dengan menjalankannya. Adagium tersebut dipegang teguh oleh Ida Rachmawati saat memulai usaha konfeksinya pada 2018. Pandemi Covid-19 sama sekali tak membuat goyah lini usahanya tersebut.
---
IDA Rachmawati dengan semangat berkisah soal bagaimana memulai bisnisnya lima tahun lalu. Mulanya, ibu dua anak tersebut bekerja di bagian tiket sebuah agen perjalanan. Lantaran saat bekerja terus kepikiran buah hatinya, Ida memutuskan resign dan mencari kerja yang bisa dilakukan sembari momong anak. Dipilihlah lini usaha konfeksi.
Saat itu Ida menjajal peruntungan sebagai reseller kerudung. Menurut Ida, status reseller ternyata tak memuaskannya. ”Saat itu saya perhatikan model dan jenis kainnya. Lalu, timbul pemikiran sepertinya bisa ya kalau saya bikin sendiri,” ujar Ida saat ditemui di kediamannya, kawasan Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu (22/11) lalu.
Ida lantas berburu dan mencari informasi kepada kolega juga famili di mana bisa mendapatkan bahan kerudung. Dengan modal tak sampai Rp 10 juta, Ida yang punya keterampilan menjahit lantas membuat kerudung dengan berbagai model.
Untuk diversifikasi bisnis kerudungnya, Ida merambah pembuatan gamis muslimah. Kerudung dan gamisnya ternyata mampu memberikan keuntungan yang lantas membuat Ida berpikir soal pengembangan usaha di bidang lain.
Maret 2020, datang pandemi Covid-19 di Indonesia. Ida berkisah, masker dan pelindung wajah saat itu sangat susah dicari. Dan, ketika dua barang yang jadi kebutuhan pokok kala pandemi ada di tangannya, lagi-lagi semangat do-it-yourself (DIY) muncul.
”Ketika melihat masker dan face shield saat pandemi itu, saya yakin bisa memproduksinya. Saya telepon dan tanya lagi ke sana sini di mana bisa beli mika, spons, kain, atau tali yang kiloan,” tutur perempuan 47 tahun itu. ”Setelah ketemu jalur bahan-bahan, ya sudah saya garap bersama tetangga-tetangga untuk kemudian bisa dijual,” lanjut Ida.
Dengan sistem penjualan getok tular, Ida mendapatkan pembeli. ”Saya pasang di status WhatsApp, teman-teman atau relasi usaha kerudung dan gamis itu yang kemudian pesan. Jumlah eceran atau partai besar, saya tindak lanjuti semua,” ungkapnya. Produk kerudung dan gamisnya diberi brand Ayyashlubna.
Keuntungan dari memproduksi masker dan pelindung wajah itu lantas dipakai Ida mendanai lini bisnisnya yang lain. Ya, pada 2021, Ida mulai menekuni pembuatan tas perempuan berbahan kanvas. Bermodal kurang lebih Rp 15 juta, Ida mulai membuat tas.
”Agar sesuai dengan zaman dan mode tas yang diinginkan perempuan-perempuan masa kini, saya berkonsultasi dengan anak saya,” ucap Ida.
Ida tak ragu memakai konsep ATM alias amati, tiru, modifikasi dalam menjalankan bisnis tasnya tersebut. Dari hasil pengamatan itu, lantas tercetus konsep tas custom. Di mata Ida, dengan tas yang dilabeli nama MOMO yang sifatnya custom itu, Ida bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Sama seperti saat menggarap kerudung, Ida memberdayakan sekitar lima tetangganya untuk menggarap pesanan tas.
Nah, wawasan dan jejaring Ida makin luas setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI tahun lalu. Wadah pelatihan dan pengembangan bagi UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) milik BRI itu sangat membantu Ida.
Yang disukai Ida dari kegiatan di Rumah BUMN BRI tersebut, pelaku bisnis bisa praktik serta dibimbing langsung. Bahkan, UMKM yang bergabung mendapat pelatihan, luring maupun daring, secara intensif. ”Bisa tiga kali seminggu,” ujar Ida. ”Saya dapat ilmu menjaga atau meningkatkan kualitas produksi, pemasaran produk kekinian secara digital, dan diajak berpameran,” sambungnya.
Per tahun lalu, omzet penjualan tas Ida mencapai Rp 5 juta–Rp 10 juta per bulan. Dalam sebulan, produksi tasnya berkisar antara 50 sampai 200 buah. ”Tahun depan, saya ingin lebih menyeriusi berjualan via sosmed. Target lainnya, lebih banyak produk saya hadir di butik atau galeri UMKM,” harap Ida. (dra/c7/fal)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
