Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 April 2017 | 09.43 WIB

2018, Ekspor Herbisida ke Australia Tumbuh 100 Persen

NAIK: Direktur Corporate Engangement Monsanto Indonesia Herry Kristianto (kiri) bersama Site Lead PT Monargo Kimia Muhammad Zoel Akbar melihat produk di sela acara `Qualitude Launching` di Tangerang. - Image

NAIK: Direktur Corporate Engangement Monsanto Indonesia Herry Kristianto (kiri) bersama Site Lead PT Monargo Kimia Muhammad Zoel Akbar melihat produk di sela acara `Qualitude Launching` di Tangerang.


PT Monargo Kimia, anak perusahaan Monsanto Indonesia, berancang-ancang meningkatkan volume ekspor herbisida (pembasmi gulma) ke Australia pada 2018. Perusahaan memprediksi volume ekspor sarana produksi pertanian tersebut akan tumbuh 80 sampai 100 persen.



Melalui Perundingan Perjanjian Kerja sama Ekonomi Menyeluruh Indonesia–Australia (IA-CEPA), peluang ekspor produk herbisida terbuka kembali. Kementerian Luar Negeri optimistis mampu menuntaskan semua butir negoisasi di akhir 2017 mendatang. Forum tersebut menjadi topik pertemuan Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Australia Malcomm Turnbull di Sydney, Australia pada 26 Februari. Salah satu butir kesepakatannya adalah menghapus bea masuk herbisida dan pestisida.



Site Lead PT Monago Kimia Muhammad Zoel Akbar mengatakan, Australia merupakan pasar ekspor utama produk herbisida, selain Jepang dan Korea Selatan. Negeri Kanguru itu mengambil porsi lebih dari 90 persen ekspor herbisida. Mereka membutuhkan herbisida untuk menanggulangi gulma (rumput) sebagai salah satu organisme penganggu tanaman yang dapat merugikan. Selain itu, gulma juga dapat menjadi tempat berlindung dan berkembangnya hama penyakit untuk tanaman sehingga sangat penting untuk dikendalikan.



Menurut Akbar sebelum 2014, ekspor herbisida ke Australia sempat tercatat hingga 9 juta liter dengan perolehan devisa USD 20 juta. Namun, negeri benua itu menerapkan pengenaan bea masuk 5 persen. Sebaliknya, hambatan tarif itu tidak berlaku dengan Malaysia.



“Pengenaan tarif bea masuk 5 persen menyebabkan daya saing ekspor herbisida Indonesia menurun. Bahkan tahun 2016, volume ekspor herbisida Indonesia tergerus 50 persen atau hanya 4,5 juta liter dibandingkan ekspor sebelum di tahun 2014. Adapun tahun 2016 lalu, sedikit mengalami peningakatan menjadi 5 juta liter,”ujar Akbar usai acara ‘Qualitude Launching’ di Tangerang, Rabu (12/4). Untuk tahun ini, perusahaan mematok target volume ekspor setara dengan 2016



Direktur Corporate Engagement Monsanto Indonesia Herry Kristanto mengatakan, informasi yang diperoleh Kementerian Luar Negeri bahwa perumusan petunjuk teknis dari kesepakatan bilateral antara kedua negara ini dapat dituntaskan pada akhir 2017.



”Kalau nota kesepahaman kepala negara ini dapat direalisasikan, berarti ekspor herbisida Indonesia ke Australia tidak lagi dikenakan tarif, sehingga akan menjadi lebih lebih kompetitif dari produk herbisida yang sama yang di produksi oleh Malaysia. Kita berharap dengan dihapuskannya tarif ini volume ekspor mampu dikembalikan ke 9-10 juta liter atau setara dengan US$ 40 juta,”ujar Herry.



Herry menyebutkan pasar herbisida di Australia mencapai 85 juta liter per tahun. Itu berarti , masih ada peluang besar bagi perusahaan untuk menggenjot pemasaran ke Australia. (*/dio/sep)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore