Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 April 2018 | 20.42 WIB

Harga Gambir Anjlok, Petani Kelabakan

Petani gambir di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar). - Image

Petani gambir di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar).

JawaPos.com - Petani gambir di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), mengeluh. Harga komoditas tanamannya turun drastis dalam dua bulan belakangan.


Sebelumnya, harga gambir sempat merangkak naik di angka Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Tapi kemudian terjun bebas menjadi Rp 18 ribu per kilogram.


"Kami tidak tahu kenapa turunnya drastis sekali. Sekarang banyak petani gambir di kampung turun ke sawah dan membiarkan ladang gambirnya," terang Susanto, 31, salah seorang petani di Kabupaten Pesisir Selatan, Selasa (17/4).


Begitu juga pengakuan, Riko, 35, petani gambir lainnya. Menurutnya, harga gambir di kisaran Rp 28 ribu per kilogram. Angka itu nyaris tidak memberikan untung bagi petani yang bekerja lama untuk memperoleh getah gambir. "Memanen gambir tidak mudah. Kami butuh bekal untuk tinggal di pondok hingga dua pekan selama proses panen," terang Riko.


Lalu untuk proses pengambilan getahnya juga membutuhkan tenaga manusia yang tidak sedikit. "Prosesnya panjang. Panen daun gambir dulu. Setelah itu, daun dimasak untuk diambil getahnya. Lalu baru dicetak menjadi gambir untuk dijual ke pengumpul. Kalau harga rendah, dari mana kami bisa gaji pekerja yang turut memanen," keluhnya.


Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar Candra angkat bicara soal anjloknya harga gambir. Menurutnya, hal itu terjadi karena petani tidak mau menjual hasil panennya pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Padahal, pihaknya telah mewanti-wanti dan meminta masyarakat untuk menyalurkan produksi gambirnya melalui BUMDes.


BUMDes merupakan sebuah lembaga yang bisa membeli hasil petani dan menjual langsung ke pasar yang telah ditentukan. Sehingga terbebas dari permainan harga. "Mayoritas petani menjual ke pedagang pengumpul. Nah, produksi banyak. Pengumpul bisa saja mempermainkan harga. Makanya jualnya ke BUMDes," ujar Candra.


Misalnya petani gambir di Kabupaten Limapuluh Kota. Pemerintah Daerah setempat telah mengerahkan petani untuk menjual hasil panennya kepada BUMDes. Hasilnya, gambir di sana stabil. Bahkan sempat mencapai Rp 150 ribu per kilogram.


"Gambir bukan untuk konsumsi seperti pangan. Melainkan dikirim ke luar negeri. Jadi akan banyak mata rantainya dari pengumpul. Nah, BUMDes bisa memutus mata rantai itu," tegasnya.


Keengganant petani gambir menjual ke BUMDes karena belum bisa membayarkan uang langsung sesaat setelah gambir diserahkan. Uang pembayaran baru diserahkan setelah BUMDes menjualnya. "Petani mau uang tunai. Sedangkan BUMDes belum punya modal besar untuk sistem bayar langsung. Ini yang jadi persoalannya," tukas Candra.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore