
Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni (baju putih) bersama FT dan YS yang menjadi tersangka kasus prostitusi, Senin (17/9).
JawaPos.com - Aparat Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya membongkar praktek prostitusi berkedok tempat pijat. Lokasinya di sebuah rumah, Jalan Lebak Jaya II Tengah, Surabaya.
Polisi yang sudah menduga adanya aktivitas ilegal di rumah itu langsung melakukan penggeledahan. Pasangan suami-istri berinisial YS, 34, dan FT, 35, yang mendiami rumah itu sempat menutupi praktek prostitusi. Bahkan mereka mencoba melawan petugas
Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni mengatakan, sempat terjadi pertengkaran antara pasutri itu dan polisi. Namun petugas mampu meredam dan menggelandang keduanya ke Mapolrestabes Surabaya.
"Mau alasan apalagi. Pasti mereka berusaha menutupi usaha prostitusinya itu. Tapi berhasil kami bongkar. Kami bahkan menemukan dua terapis di bawah umur yang standby di rumah itu," kata Ruth di Mapolrestabes Surabaya, Senin (17/9).
YS dan FT kemudian menjalni proses penyidikan lebih lanjut. Dirinya juga sudah mengamankan kedua korban yang dirahasiakan identitasnya di lokasi perlindungan.
Ruth menyatakan, penyidik masih berupaya untuk memulihkan kondisi psikis dan fisik korban. "Satu korban kami rahasiakan lokasinya. Yang satu lagi kami tempatkan di shelter khusus," terang Ruth.
Terkait kasusnya sendiri, saat ini sudah ada sejumlah fakta yang didapat terkait aktivitas prostitusi berkedok pijat yang digeluti YS dan FT. Pertama, FT dan YS menawarkan sejumlah layanan seks. Guna menarik pelanggan, kedua tersangka memanfaatkan media sosial.
"Si YS ini yang bertugas mencari pelanggan. Biasanya YS hanya menerima orang-orang yang dikenalnya saja. Itupun juga melalui media sosial," ungkap Ruth.
Kedua, soal tarif. YS mematok harga Rp 700 ribu kepada pelanggan untuk sekali pijat. Harga itu sudah termasuk layanan plusnya. Kemudian hasil dari tiap pelanggan akan disisihkan sebesar Rp 300 ribu dan diberikan kepada terapisnya.
"Si FT yang berperan sebagai tenaga administrasi. Maksudnya, dia yang kebagian tugas mencatat siapa saja tamunya dan berapa uang pemasukannya. Semua itu dilakukan di rumah FT dan YS," paparnya.
Sementara itu, YS mengaku dia tidak merekrut terapisnya. Dia mengaku ada beberapa perempuan yang pernah mendatanginya dan meminta pekerjaan. YS pun menerima korban bekerja di rumahnya. YS menerapkan sistem gajian bulanan. "Ngomongnya ingin jadi pembantu. Tapi setelah sampai di rumah, dia ngomong bisa pijet," aku YS.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
