
Ranu Regulo, Alternatif Wisata yang aman Saat Pendakian Gunung Semeru Ditutup akibat Erupsi. (Instagram @ranuregulo.official)
JawaPos.com - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) langsung menutup jalur pendakian Gunung Semeru setelah terjadi erupsi yang cukup besar pada Rabu sore (19/11). Namun, wisatawan masih punya alternatif wisata yang tak kalah indah, yakni Ranu Regulo.
"Kita pastikan bahwa saat ini, pendakian (Ranu Kumbolo Gunung Semeru) ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan," tutur Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha di Lumajang, Jumat (21/11).
Ia mengatakan penutupan jalur ini diambil, mengingat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan status Gunung Semeru menjadi level IV atau Awas.
"Intinya radius 8 km dari puncak itu disarankan tidak ada aktivitas manusia, sehingga daerah Nukumbolo maupun jalur-jalur lain tentunya tidak memungkinkan untuk dilalui oleh para pendaki," lanjutnya.
Namun, bagi para pendaki yang sudah terlanjur memesan tiket maupun berada di Pos Perijinan Pendakian Gunung Semeru di Desa Ranu Pani, tidak perlu khawatir, karena wisata Ranu Regulo tetap dibuka.
"Ranu Regulo ini berada cukup jauh dari puncak Semeru dan cukup jauh dari radius 8 km tadi, sehingga aktivitas pengunjung apabila mau mengunjungi maupun berkemah di Ranu Regulo, masih diperkenankan," tutur Rudijanta.
Ranu Regulo merupakan danau alami kawah (maar) berwarna biru kehijauan yang terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Lumajang.
Terletak di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Lumajang, dengan ketinggian 2.100 MDPL, Ranu Regulo tak kalah populer dengan Gunung Semeru dan Gunung Bromo. Pengunjung bisa berkemah sambil menikmati pemandangan alam yang indah.
Tertarik berwisata di Ranu Regulo, anda bisa melakukan pembelian tiket secara online di https://bromotenggersemeru.id/. Tiketnya pun terjangkau, yakni Rp 24.000 untuk weekday dan Rp 34.000 untuk weekend.
Terjadi Erupsi Gunung Semeru pada Rabu (19/11) pukul 14.13 WIB. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat tinggi kolom abu mencapai 2.000 meter di atas puncak atau 5.676 MDPL.
Awan panas berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut. Erupsi terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi sekitar 16 menit 40 detik.
BPBD Kabupaten Lumajang melaporkan ada dua kecamatan yang terdampak, yakni Pronojiwo dan Candipuro. Hingga Jumat pagi (21/11), jumlah warga yang mengungsi adalah 499 jiwa, dengan 21 rumah rusak parah dan 124 hewan ternak mati.
Para pengungsi tersebar di sejumlah lokasi, di antaranya SD 04 Supiturang, Balai Desa Oro-oro Ombo, Masjid Ar-Rahman, SD Sumberurip 02, Rumah Kepala Desa Sumbernujur, dan Kantor Kecamatan Candipuro.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
