Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 April 2018 | 13.05 WIB

Mandi Kembang, Dipijat, dan Makan Nasi Kuning

RITUAL JAMASAN: Salah satu ritual Jamasan Sukmo Pusoko Rogo, yakni ibu membasuh anaknya dengan menggunakan air kembang dari Blumbang Macari. - Image

RITUAL JAMASAN: Salah satu ritual Jamasan Sukmo Pusoko Rogo, yakni ibu membasuh anaknya dengan menggunakan air kembang dari Blumbang Macari.

JawaPos.com - Desa Pesanggrahan, Kota Batu, Jawa Timur (Jatim), memiliki tradisi unik untuk acara khitanan. Seorang anak akan menjalani serangkaian ritual sebelum bagian alat kelaminnya dipotong.


Sebanyak 15 anak menuju Blumbang Macari, Desa Pesanggrahan, Jumat (13/4). Mereka adalah siswa Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum yang hendak dikhitan. Belasan bocah itu didampingi ibunya masing-masing.


Kehadiran belasan anak beserta orang tuanya di kolam aiar seluas 600 meter itu untuk menjalani Jamasan Sukmo Pusoko Rogo. Sebuah ritual yang dilakukan jelang sehari acara khitanan.


Prosesi ritual Jamasan Sukmo Pusoko Rogo diawali dengan pemotongan rambut sang anak. Potongan rambut itu lalu ditimbang dengan timbangan emas. Selanjutnya, anak yang hendak dikhitan dimandikan dengan air Blumbangan Macari. Blumbang tersebut telah ditaburi dengan kuncup bunga mawar berbagai warna. Masing-masing anak disiram sebanyak 17 kali.


Usai dimandikan, sang ibu memijat anaknya dengan bubuhan beras kencur. Setelah itu, setiap ibu menyuapi anaknya dengan nasi kuning yang ditempatkan dalam wadah dari daun pisang. Begitu prosesi berakhir, mereka kemudian kembali ke rumah masing-masing.


Ketua Panita Penyelenggara Khitan, Ulul Azmi mengatakan, ritual jamasan memang baru pertama kali digelar. Tapi sebenarnya tradisi ini sudah ada sejak lama. Pihaknya ingin mengemas tradisi tersebut menjadi berbeda. Salah satunya dengan memanfaatkan aset berupa Blumbang Macari.


Ada makna tersendiri dari setiap tahapan ritual. Seperti potong rambut untuk menandai perubahan. "Tanda segala keburukan, halangan rintang ini dipotong. Menandai perubahan masa kanak-kanak," paparnya.


Kemudian rambut yang ditimbang bermakna sebagai bentuk dari akikah. Sebagb 15 anak yang akan di khitan, 3 diantaranya belum diakikah. "Dipotong rambutnya, ditimbang dengan timbangan emas. Senilai emas inilah ditukar dengan sedekah," sambung Ulul.


Sedangkan mandi kembang bermakna sebagai doa untuk menandai anak-anak tersebut telah melepas masa kekanak-kanakan menuju akil baligh. "Bunga artinya doa. Selama bunga belum mengering, artinya doa masih ada," jelasnya.


Selanjutnya ada prosesi pijat. Tujuannya agar peredaran darah sang anak lancar. Kemudian disuapi makanan oleh sang ibu. "Insya Allah itu terakhir kali bagi mereka untuk disuapi. Karena setelah khitan, beranjak dewasa, harus bisa mandiri," ulas Ulul.


Serangkaian ritual tersebut dilaksanakan sebelum anak-anak dikhitan pada Sabtu (14/3) pagi. Mereka juga akan dikirab dengan menggunakan 4 kuda tunggangan dan mobil willys mulai dari Lahor hingga Alun-alun Kota Batu.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore