
RITUAL JAMASAN: Salah satu ritual Jamasan Sukmo Pusoko Rogo, yakni ibu membasuh anaknya dengan menggunakan air kembang dari Blumbang Macari.
JawaPos.com - Desa Pesanggrahan, Kota Batu, Jawa Timur (Jatim), memiliki tradisi unik untuk acara khitanan. Seorang anak akan menjalani serangkaian ritual sebelum bagian alat kelaminnya dipotong.
Sebanyak 15 anak menuju Blumbang Macari, Desa Pesanggrahan, Jumat (13/4). Mereka adalah siswa Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum yang hendak dikhitan. Belasan bocah itu didampingi ibunya masing-masing.
Kehadiran belasan anak beserta orang tuanya di kolam aiar seluas 600 meter itu untuk menjalani Jamasan Sukmo Pusoko Rogo. Sebuah ritual yang dilakukan jelang sehari acara khitanan.
Prosesi ritual Jamasan Sukmo Pusoko Rogo diawali dengan pemotongan rambut sang anak. Potongan rambut itu lalu ditimbang dengan timbangan emas. Selanjutnya, anak yang hendak dikhitan dimandikan dengan air Blumbangan Macari. Blumbang tersebut telah ditaburi dengan kuncup bunga mawar berbagai warna. Masing-masing anak disiram sebanyak 17 kali.
Usai dimandikan, sang ibu memijat anaknya dengan bubuhan beras kencur. Setelah itu, setiap ibu menyuapi anaknya dengan nasi kuning yang ditempatkan dalam wadah dari daun pisang. Begitu prosesi berakhir, mereka kemudian kembali ke rumah masing-masing.
Ketua Panita Penyelenggara Khitan, Ulul Azmi mengatakan, ritual jamasan memang baru pertama kali digelar. Tapi sebenarnya tradisi ini sudah ada sejak lama. Pihaknya ingin mengemas tradisi tersebut menjadi berbeda. Salah satunya dengan memanfaatkan aset berupa Blumbang Macari.
Ada makna tersendiri dari setiap tahapan ritual. Seperti potong rambut untuk menandai perubahan. "Tanda segala keburukan, halangan rintang ini dipotong. Menandai perubahan masa kanak-kanak," paparnya.
Kemudian rambut yang ditimbang bermakna sebagai bentuk dari akikah. Sebagb 15 anak yang akan di khitan, 3 diantaranya belum diakikah. "Dipotong rambutnya, ditimbang dengan timbangan emas. Senilai emas inilah ditukar dengan sedekah," sambung Ulul.
Sedangkan mandi kembang bermakna sebagai doa untuk menandai anak-anak tersebut telah melepas masa kekanak-kanakan menuju akil baligh. "Bunga artinya doa. Selama bunga belum mengering, artinya doa masih ada," jelasnya.
Selanjutnya ada prosesi pijat. Tujuannya agar peredaran darah sang anak lancar. Kemudian disuapi makanan oleh sang ibu. "Insya Allah itu terakhir kali bagi mereka untuk disuapi. Karena setelah khitan, beranjak dewasa, harus bisa mandiri," ulas Ulul.
Serangkaian ritual tersebut dilaksanakan sebelum anak-anak dikhitan pada Sabtu (14/3) pagi. Mereka juga akan dikirab dengan menggunakan 4 kuda tunggangan dan mobil willys mulai dari Lahor hingga Alun-alun Kota Batu.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
