Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 16 September 2018 | 12.30 WIB

Bahayanya Blue Whale Challenge, Permainan yang Mendorong Bunuh Diri

ILUSTRASI. Bunuh diri (bundir) dengan cara gantung diri. Games - Image

ILUSTRASI. Bunuh diri (bundir) dengan cara gantung diri. Games

JawaPos.com - Permainan bersifat tantangan ini berhasil bikin geger masyarakat. Ada sejumlah pendapat yang berbeda tentang asal muasal Blue Whale.


Tetapi banyak orang percaya bahwa nama itu diambil dari perilaku sejumlah paus biru yang sengaja mendamparkan diri mereka ke pinggir pantai. Menyebabkan mereka mati.


Nama ini kemudian digunakan oleh kelompok yang diduga melakukan tekanan pada remaja untuk melakukan bunuh diri. Permainannya cukup sederhana, ada seorang kurator yang akan memberikan 50 tugas pada para peserta selama 50 hari.


Jenis tantangan yang diberikan meningkat dari menonton video kekerasan atau film horor ke sesuatu yang lebih mengerikan -bahkan seruan bunuh diri.


"Untuk anak-anak, tolong jangan langsung menelan mentah-mentah semua informasi dari luar," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Barat, Suprianus Herman, dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Minggu (16/9).


Ia mengimbau kepada khususnya siswa sekolah agar mengakses permainan yang bersifat positif. Game yang bersifat mengasah otak.


Herman tak menampik, blue whale challenge sangat berbahaya. Karena dari 50 hari tantangan itu sampai ada yang mati dan bunuh diri.


Sehingga ia menilai, permainan semacam itu tidak memberikan dampak positif bagi kehidupan setiap orang yang ikut bermain.


"Jangankan sampai mati seperti itu. Main game normal berjam-jam saja sudah tidak baik," tegasnya.


Herman pun menyarankan kepada seluruh anak agar terus melakukan kegiatan positif, baik di rumah maupun di luar rumah. Hal itu bisa dimulai dari memperkuat iman dan taqwa. Selain itu, juga banyak kegiatan sekolah yang positif.


"Jangan yang tidak jelas seperti itu diambil," pintanya.


Ia menuturkan, kurikulum 2013 adalah bentuk antisipasi serta pengawasan dari pemerintah dalam meng-handle persoalan semacam ini. Di dalam kurikulum 2013 yang diutamakan adalah pendidikan karakter (pendikar).


"Tidak ada pendikar yang bisa diambil dalam permainan seperti ini," ucapnya.


Tujuan dari pendikar yakni membentuk anak yang baik. Berpikiran baik, berkepribadian baik, berperilaku baik. Di sekolah, keluarga, maupun di masyarakat.


"Jadi pendikar itu bukan ada mata pelajaran khusus. Tapi di semua mata pelajaran itu di integrasikan ada pendikarnya," jelas Herman.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore