Beberapa orang terlihat menyeberang dengan memotong jalan raya di Jalan Pandanaran, Kota Semarang meskipun sudah tersedia JPO. /M Iqbal Amar/Radar Semarang
JawaPos.com – Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) adalah fasilitas umum perkotaan yang disediakan pemerintah sebagai akses penyeberangan dan untuk memberi ruang kepada masyarakat pejalan kaki.
Namun nyatanya, keberadaan JPO masih belum dimanfaatkan secara sepenuhnya oleh masyarakat.
Hal itu seperti nasib dari JPO yang berada di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Banyak masyarakat di Kota Semarang yang masih belum atau bahkan enggan untuk memanfaatkan JPO di wilayah tersebut. Masyarakat pejalan kaki lebih nyaman memotong jalan raya meskipun lebih berisiko.
Dilansir dari Radar Semarang (JawaPos Group) contoh dari kurang diminatinya JPO ini terlihat di Jalan Pandanaran.
Masyarakat pejalan kaki yang sehari-hari beraktivitas di wilayah itu lebih memilih menyeberang dengan memotong jalan raya meskipun kondisi lalu lintas sedang padat.
Pejalan kaki yang terdiri dari anak sekolah, pekerja swasta, maupun orang-orang yang melintas itu terlihat menyeberang jalan meskipun sebenarnya sudah ada JPO yang bisa digunakan.
Bahkan, batas lajur jalan raya berupa pot bunga yang diletakkan di median jalan sebagian ada yang dihilangkan atau dibuka untuk akses penyeberangan.
Salah seorang masyarakat yang menyebrang dengan memotong jalan raya bernama Fajar Aditya mengaku bahwa alasannya tidak menggunakan JPO adalah karena ia merasa lebih cepat dan efektif. Sehingga, dirinya tetap lebih suka untuk tidak menggunakan JPO saat menyeberang.
Meskipun cara menyeberang dengan memotong jalan raya itu lebih berisiko dibandingkan jika menggunakan JPO, ia tetap memilihnya. Sebab, menurutnya hal itu sudah lazim dilakukan masyarakat yang beraktivitas di sana apalagi saat menjelang dan setelah Sholat Jumat.
“Karena lebih cepat memotong jalan daripada lewat JPO harus naik turun tangga,” ujarnya.
Meskipun menyeberang lewat JPO masih kurang diminati masyarakat, tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali yang menggunakan. Salah seorang masyarakat lain yang memilih untuk menyeberang lewat JPO adalah Amir Fadilah.
Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai karyawan swasta tersebut mengaku tetap memilih menyeberang lewat JPO sebagai wujud menghargai pemerintah dalam mengakomodasi warganya yang berjalan kaki. Selain itu, dirinya merasa lebih mudah menyeberang dengan JPO daripada harus memotong jalan raya yang lebih berisiko.
“Saya lebih nyaman menggunakan JPO karena bisa santai dan safety juga sih,” kata dia.
Meskipun demikian, ia memaklumi masih banyak masyarakat yang memilih untuk memotong jalan raya ketika menyeberang. Hal itu lantaran ia menganggap alasan utama masyarakat yang memotong jalan adalah terburu-buru dan ingin cepat sampai ke lokasi yang dituju. Sehingga akhirnya mereka memotong jalan raya meskipun sedang padat.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
