Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Januari 2024 | 03.25 WIB

Tantangan Sosial Vaksinasi Polio, Pakar Unair Tekankan Pentingnya Pendekatan Budaya

Pemkot Surabaya gelar putaran pertama SUB Pekan Imunisasi Nasional (SUB PIN) Polio serentak, Senin (15/1). - Image

Pemkot Surabaya gelar putaran pertama SUB Pekan Imunisasi Nasional (SUB PIN) Polio serentak, Senin (15/1).

JawaPos.com–Kini pemerintah sedang menggalakkan vaksinasi polio, lantaran adanya penemuan tiga kasus polio di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebagai informasi polio adalah penyakit menular yang disebabkan virus polio. Virus itu dapat menyebabkan kelumpuhan pada kaki, otot-otot, dan bahkan kematian. Salah satu penyebab meningkatnya polio pada beberapa daerah tersebut yakni rendahnya tingkat vaksinasi.

Untuk itu, pemerintah perlu menyelenggarakan sosialisasi vaksinasi secara masif. Dilansir dari Unairnews, Pakar Komunikasi Kesehatan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Dr Liestianingsih Dwi Dayanti Dra MSi menilai upaya pemerintah dalam melakukan sosialisasi vaksin polio sudah cukup baik dan tepat.

”Pemerintah telah mengimbau masyarakat misalnya untuk melakukan imunisasi rutin bagi anak, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta membiasakan kebiasaan BAB (buang air besar) di jamban,” ujar Liestianingsih Dwi Dayanti.

Namun, tidak semua masyarakat memahami pentingnya mencegah virus polio. Padahal Indonesia telah masuk ke dalam status kejadian luar biasa (KLB) polio.

Oleh sebab itu, dosen FISIP itu menuturkan bahwa pencegahan polio tidak cukup dengan sosialisasi kesehatan. Menurut dia, perlu adanya pendekatan lain yakni pendekatan budaya yang lebih dekat.

”Dengan pendekatan ini kita bisa melibatkan tokoh-tokoh masyarakat seperti tokoh agama, tokoh adat, dan lain-lain,” tutur Lies.

Pendekatan kesehatan maupun budaya perlu menyasar seluruh wilayah Indonesia, termasuk wilayah terluar, terdepan, tertinggal (3T).

”Hingga saat ini sosialisasi vaksin polio masih belum merata di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, bisa dimulai dengan pendekatan di sekolah-sekolah. Lalu petugas vaksinasi bisa terjun ke masyarakat layaknya vaksinasi Covid-19,” kata pakar komunikasi Liestianingsih Dwi Dayanti.

Di samping itu, seluruh elemen masyarakat ikut serta menyuarakan urgensi vaksin polio. Termasuk perguruan tinggi juga bisa menjadi salah satu fasilitator untuk mendukung pencegahan polio dengan berbagai pendekatan.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore