Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 Juli 2022 | 03.32 WIB

Harga Cabai di Palembang Melambung Rp 120.000 Per Kilogram

MAKIN PEDAS: Sario memilah cabai dagangannya di Pasar Keputran, Surabaya, Minggu (26/12). Menjelang akhir 2021, harga sejumlah barang kebutuhan pokok naik. (Dimas Maulana/Jawa Pos) - Image

MAKIN PEDAS: Sario memilah cabai dagangannya di Pasar Keputran, Surabaya, Minggu (26/12). Menjelang akhir 2021, harga sejumlah barang kebutuhan pokok naik. (Dimas Maulana/Jawa Pos)

JawaPos.com–Harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional Palembang, Sumatera Selatan, melambung hingga Rp 120.000 per kilogram.

Ida, pedagang di Pasar Perumnas Palembang mengatakan, kenaikan harga cabai itu sudah dirasakan dalam dua pekan terakhir. ”Kemarin masih Rp 100.000 per kilogram, tapi hari ini (8/7) sudah Rp 120.000 per kilogram,” kata Ida seperti dilansir dari Antara, Jumat (8/7).

Lantaran tingginya harga cabai itu, sebagian pembeli mengurangi kebutuhannya. Dewi, pedagang lain di Pasar Lemabang Palembang mengatakan, hanya menjual sekitar 20 kilogram cabai merah atau menurun hingga 50 persen dibandingkan sebelumnya.

”Warga sepertinya berhemat, mengurangi pembelian cabai,” terang Dewi.

Sementara itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan selaku ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk merespons kenaikan harga cabai. Kepala Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan R. Erwin Soeriadimadja mengatakan, kenaikan harga cabai yang dipengaruhi cuaca perlu disikapi secara cepat. Salah satunya dengan menambah pasokan dan memperlancar distribusi.

”Kondisi ini lantaran tingginya kebutuhan Sumsel terhadap bahan pokok tersebut yang tak didukung dengan produksi dari petani setempat,” tutur Erwin.

Dia menambahkan, cuaca tak menentu pada masa pancaroba membuat sentra perkebunan cabai di Sumsel mengalami gagal panen sehingga mengerek harga. ”Bukan hanya cabai, kita juga mengantisipasi bahan pangan lain seperti bawang yang selama ini disuplai dari Brebes menghadapi Idul Adha,” terang Erwin.

Sejauh ini, menurut dia, BI sebagai ketua TPID sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sumsel untuk mengantisipasi kondisi tersebut demi menjaga kestabilan harga. Secara keseluruhan terdata bahwa inflasi Sumsel masih terkendali di kisaran 4,0 persen, sementara target nasional 3,5 persen plus minus satu persen.

Dia menjelaskan, saat ini sulit ditemukan daerah di Tanah Air yang benar-benar mandiri. Oleh karena itu, program Sumsel Mandiri Pangan yang dicanangkan Pemprov Sumsel mendapat dukungan Bank Indonesia bahkan program itu layak diadopsi menjadi Sumatera Mandiri Pangan.

”Kami sedang memasifkan digitalisasi farming, yang terbukti efektif mencegah kegagalan panen. Pilot project sudah dilakukan di Ogan Ilir,” papar Erwin.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore