
Gereja Oikumene, Samarinda, yang terkena teror bom.
JawaPos.com - Polisi terus mendalami kasus pengeboman di Gereja Oikumene, Samarinda, Minggu (13/11) lalu. Ya, empat balita jadi korban dari aksi bom molotov. Bahkan, Intan Olivia, satu dari empat bocah korban pengeboman meninggal dunia akibat luka bakar yang ditimbulkan dari ledakan.
Penjagaan ekstraketat masih dilakukan kepolisian dan TNI di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Seragam dinas ditambah persenjataan lengkap mengamankan bangunan keramik putih tempat jemaat dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) beribadah.
Ditambah aparat berpakaian sipil yang lalu lalang di sekitar lokasi. Puluhan personel Polri dan TNI pun diwajibkan 24 jam bergantian menjaga keamanan lokasi bom yang dilakukan Juhanda alias Jo.
Sejumlah pintu masuk ke lokasi dijaga ketat. Tak cukup, radius lima kilometer, petugas juga ditaruh di sejumlah titik. Hal itu baru dilakukan aparat berseragam cokelat setelah adanya peristiwa bom di Gereja Oikumene.
Lima unit motor tak berubah dari posisinya sejak awal kejadian bom tersebut meledak. Sejumlah aparat yang berjaga dari Detasemen B Pelopor Polda Kaltim dan TNI banyak yang tak tahu siapa saja pemilik kendaraan tersebut.
“Kalau yang Honda Kharisma pelat H 2372 PE itu milik pelaku, yang lain kurang paham,” ujar seorang petugas dikutip dari prokal.co (Jawa Pos Group), Rabu (16/11).
Sebagian bangunan ada yang rusak akibat ledakan itu, termasuk motor yang terparkir di halaman gereja. Garis polisi yang dipasang membuat sejumlah warga yang melintas terpaksa memperlambat laju kendaraannya hanya untuk sekadar melihat kondisi setelah pengeboman.
Sejauh ini, polisi telah memeriksa 18 saksi dalam kasus tersebut. satu lagi berstatus tersangka, yakni Juhanda. 18 aksi itu diperiksa secara terpisah di ruang Satreskrim Polresta Samarinda.
Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin mengatakan, semua yang diamankan di Polresta Samarinda masih berstatus sebagai saksi. Bahkan, Juhanda sendiri pun baru dikeluarkan surat perintah penahanan (SP-Han).
Jenderal yang sebelumnya menjabat di Wakabaintelkam Mabes Polri itu menyebut, meski dari BNPT sudah memantau aktivitas Juhanda sejak setahun lalu, polisi bukannya tak mengawasi.
“Itu sifatnya rahasia, bukan untuk dipublikasikan,” jelasnya.
Perwira lulusan Akpol 1984 itu menegaskan, kepolisian kembali melakukan olah TKP lanjutan setelah sebelumnya tak maksimal lantaran sudah menjelang petang.
Juhanda dan 18 orang lainnya kini diamankan di Polresta Samarinda. Pemeriksaan terus dilakukan aparat kepolisian. Belum ada tambahan baru tersangka dari pemeriksaan kepolisian. (*/dra/aim/*/him/fel/riz/rom/k15/fab/JPG)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
