Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Desember 2018 | 20.37 WIB

Analisis Tim Ahli Gedung dan Bangunan soal Ambles Jalan Gubeng

Kondisi tanah yang ambles di Jalan Raya Gubeng, Surabaya, Rabu (19/12/2018). Amblesnya jalan ini diduga akibat proyek pengembangan RS Siloam. - Image

Kondisi tanah yang ambles di Jalan Raya Gubeng, Surabaya, Rabu (19/12/2018). Amblesnya jalan ini diduga akibat proyek pengembangan RS Siloam.

JawaPos.com - Bermacam-macam spekulasi muncul terkait penyebab amblesnya sebagian Jalan Raya Gubeng, Selasa malam (18/12). Namun, hingga kemarin, belum ada satu pun pihak yang memastikan penyebab insiden tersebut.


Semua hanya berani mengatakan bahwa jalan tersebut ambles karena robohnya dinding penahan tanah di proyek pengembangan Rumah Sakit (RS) Siloam. Meski demikian, belum jelas kenapa dinding tersebut bisa ambrol.


Ketua Tim Ahli Gedung dan Bangunan Pemkot Surabaya Mudji Irmawan Arkani menjelaskan, salah satu penyebab jalan ambles di mana pun adalah pergeseran tanah. Kemungkinan tersebut seharusnya sudah diperhitungkan kontraktor. Terutama jika ingin membuat bangunan yang memiliki basement. Pembangunan seharusnya dilakukan ketika tanah tidak sedang bergeser. "Kalaupun sedang bergeser selama pembangunan, harusnya bisa segera dilakukan deformasi (penguatan, Red)," jelasnya.


Sebab, pembangunan basement membuat struktur bangunan otomatis berubah. Bangunan yang awalnya tegak lurus ke atas bisa dengan sekejap miring begitu saja. Menurut dia, deformasi tak akan dilakukan jika kontraktor tidak memiliki jadwal pengawasan proyek yang ketat. "Ada kok alatnya, dari situ kita bisa melihat ke arah mana tanah bergeser, sehingga bisa diikuti," tutur Mudji.


Jika hal tersebut tidak diikuti, kejadian ambles seperti itu akan kerap terjadi. Dinding penahannya roboh karena ada pergeseran tanah. Sedangkan penguatan tidak dilakukan secara dini. Lambat laun, dinding tersebut tidak mampu menahan beban. Akibatnya, bangunan di atasnya ambrol. Dalam kasus di Jalan Raya Gubeng, beban yang diampu merupakan sebuah jalan.


Mudji kemarin memantau langsung kondisi jalan yang ambles. Kedatangannya ke lokasi bertujuan mencari penyebab utama robohnya dinding penahan tersebut. "Karena kan ini proyek swasta, saya tidak bisa berspekulasi banyak," jawabnya.


Namun, dia melihat kejanggalan. Yakni, satu-satunya yang rusak adalah dinding penahan tersebut. Analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) bangunan tersebut dinyatakan sudah memenuhi kriteria.


Pada bagian lain, di Jakarta beredar kabar bahwa jalan ambles itu disebabkan aktivitas geologi Sesar Waru dan Sesar Surabaya. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho membantah hal tersebut. Rabu (19/12) dia menjelaskan bahwa saat insiden terjadi, tidak ada aktivitas geologi sama sekali. "Kalau menurut seismograf, ada dua kali amblesan. Pukul 21.51 dan 22.30," tuturnya.


Sutopo juga mengatakan bahwa ada kesalahan konstruksi dengan tidak adanya dinding pembatas konstruksi. Hal itu diperparah dengan air hujan yang membuat tanah semakin berat. Akibatnya, tanah bergerak ke arah penggalian. "Kejadian ini mirip dengan penggalian batu bara di Kalimantan Timur beberapa minggu lalu," kata Sutopo.


Insiden tersebut juga direaksi Polda Jatim. Polisi kini mencari tahu siapa yang harus bertanggung jawab. Kapolda Jatim Irjen Pol Lucky Hermawan mengaku sudah memeriksa sebelas saksi. Namun, dia tidak menjelaskan identitas sebelas saksi tersebut. Yang jelas, mereka adalah karyawan dari tiga perusahaan yang ikut dalam proyek pembangunan basement milik RS Siloam. "Jangan sampai masing-masing menyampaikan hasil analisisnya sehingga menimbulkan suasana semakin keruh," ucapnya.


Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana mengatakan, saat ini pemkot hanya fokus pada upaya pemulihan kembali Jalan Raya Gubeng yang ambles.


Kemarin pemkot membentuk tim ahli untuk segera memikirkan pembangunan kembali. Rencananya, anggaran pembangunan menggunakan APBD dari pos dana cadangan yang biasa digunakan untuk situasi bencana. "Untuk besaran anggarannya, kami akan laporkan dulu ke Bu Wali (Wali Kota Tri Rismaharini, Red)," jelasnya.


Sejak insiden terjadi hingga kemarin, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini belum muncul. Biasanya, Risma tampil langsung memimpin anak buahnya setiap ada kejadian tidak biasa di Surabaya. Ke mana Risma? Kabaghumas Pemkot Surabaya Muhammad Fikser menyatakan, kondisi Risma belum sehat. Risma belum bisa berjalan secara normal. Kaki kanannya belum pulih betul setelah keseleo saat sidak saluran air di Jalan HR Muhammad, Rabu (12/12). "Ibu tetap memberikan arahan lewat Line," ujar Fikser tadi malam.


Fikser juga mengklarifikasi pernyataan akun Instagram @trirismaharini yang di-posting Selasa (18/12). Menurut dia, akun tersebut palsu. Risma tidak punya akun medsos kecuali Line. "Kami sudah mengajukan supaya akun itu dihapus. Tapi, enggak ada respons dari Instagram," ujarnya.


Apakah pihak swasta dilibatkan untuk pemulihan jalan? Whisnu mengatakan, hal tersebut belum diputuskan. Pemkot saat ini hanya memikirkan kapan jalan itu diperbaiki. "Daripada nunggu pihak swasta ndak pulih-pulih, pemkot gunakan dana APBD," tegasnya.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore