Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 31 Juli 2017 | 15.35 WIB

Berawal dari Bakar Batu, Bentrok Pecah, 1 Tewas dan 12 Kena Panah

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal - Image

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal

JawaPos.com - Bentrok terkait Pilkada kembali terjadi di Puncak Jaya, Papua. Menyusul aksi saling serang antara pendukung Paslon No 3 Yuni Wonda-Deinas Geley, dengan Paslon No 1 Yustus Wonda-Kirenius Telenggen dan No 2 Henok Ibo-Rinus Telenggen di Kota Baru Puncak, Mulia, Sabtu (29/7) kemarin.


Aksi tersebut membuat 16 Honai terbakar, 12 orang mengalami luka panah dan 1 orang meninggal dunia akibat luka tembak.


Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol A M Kamal ketika dikonfirmasi Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group) membenarkan terjadinya bentrokan di Puncak Jaya yang menyebabkan belasan Honai terbakar dan puluhan orang luka-luka itu. Dirinya juga menyayangkan pertikaian itu terjadi saat kasus Pemilukada sementara masih dalam proses Mahkamah Konstitusi (MK).


“Beberapa pejabat Provinsi seperti kapolda, Pangdam XVII Cenderawasih, wakil gubernur, Ketua DPRP Papua serta beberapa pendeta ikut datang ke Puncak Jaya untuk menyelesaikan pertikaian yang terjadi antar pendukung. Meski kelompok yang bertikai telah melakukan kesepakatan damai, namun beberapa kali telah terjadi tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tidak mentaati perdamaian yang telah disepakati,”beber Kamal.


Bahkan polisi sendiri, kata Kamal, telah melakukan penangkapan dan penahanan terhadap beberapa pelaku tindak kejahatan di Puncak Jaya. Namun pertikaian masih saja terjadi. Polri juga tetap melakukan tindakan tegas terhadap provoktor dan pelaku kejahatan yang semuanya akan merugikan masyarakat Puncak Jaya.


Dijelaskan Kamal, bentrok berawal ketika massa dari kubu No 1 melakukan ritual bakar batu. Pada saat melakukan bakar batu, api berkobar besar dan berasap tebal yang mengakibatkan massa yang dipimpin Loni Telenggen salah paham dan menganggap adanya penyerangan serta pembakaran rumah dan honai.


Selanjutnya, massa yang dipimpin Loni secara serentak lari mengarah ke lokasi Posko no 3. Namun sebelum tiba di posko no 3, massa pendukung no 3 melihat sekelompok massa yang datang maka terjadilah perang dengan menggunakan panah dan alat perang lainnya.


“Saat kejadian, pihak kepolisian bersama TNI melakukan tindakan untuk memisahkan kedua kubu yang bertikai. Namun massa tidak menghiraukan imbauan dari TNI/Polri. Pada saat itu terdengar bunyi tembakan dari kerumunan kelompok yang bertikai, sehingga aparat kepolisian mengeluarkan tembakan peringatan untuk menghentikan perang, tetapi perang antara kedua masih berlanjut,” terangnya.


Lanjut Kamal, Kepolisian dan TNI akhirnya dapat memisahkan kedua kelompok yang bertikai. Dimana kedua kelompok kembali ke tempatnya masing-masing yang dikawal oleh aparat Polri dan TNI. Menurutnya, kondisi saat ini angggota Kodim 1714/PJ dan anggota Polres Puncak Jaya bersiaga di sekitar tempat kejadian.


Pada 2 Juli lalu bentrok antar pendukung pasangan Cabup dan Cawabup terjadi di Kampung Kampung Pagaleme, Distrik Pagaleme. Dalam bentrok tersebut sebanyak 17 rumah terbakar dan 4 warga mengalami luka-luka terkena anak panah.


Bentrok yang terjadi awal Juli tersebut sudah diselesaikan dan masing-masing kubu telah menyepakati Kesepakatan Patah Panah di Mapolres Puncak Jaya, Senin (3/7) lalu. Namun sayangnya, kesepakatan damai yang sudah disepakati tersebut tampaknya tidak ditaati oleh segelintir oknum pendukung pasangan calon Bupati dan Wabup Puncak Jaya hingga akhirnya kembali terjadi bentrok, Sabtu (29/7).

Editor: Muhammad Syadri
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore