Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 November 2016 | 23.49 WIB

Mengintip Kerja Keras Srikandi Polres Banjarmasin

Polwan Unit PPA Satuan Satreskrim Polresta Banjarmasin - Image

Polwan Unit PPA Satuan Satreskrim Polresta Banjarmasin

JawaPos.com - Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polresta Banjarmasin yang menangani kasus kekerasan terhadap anak  dan perempuan memiliki motto melayani dengan hati dan tanpa kekerasan.



MAULANA, Banjarmasin



Unit PPA berada di Satuan Satreskrim di bawah kepemimpinan Kasat Reskrim AKP Arif Prasetya. Ruangan Unit PPA persis berada di samping kanan ruang Kasat Reskrim dengan jumlah anggota berisi 10 personel Polwan.



Sementara Kepala Unit (Kanit) PPA belum ada yang mengisi dan sementara dikepalai oleh Kasubnit Aipda Devi Triana, yang dibantu 9 pesonelnya yaitu Brigadir Florentine, Bripda Anna Meirina dan Bripda Samirah Shahab, Bripda Putri Wandias serta Bripda Handira Laksminita, Bripda Hesti Setyaningrum dan Bripda Audina Rahim, Bripda Meita Prasetya Andini.



Saat berkunjung ke ruang PPA sudah ada 9 orang polwan cantik dengan memakai seragam yang berbeda. Ruang Unit PPA berbeda dengan ruang unit lain di jajaran Satreskrim Polresta Banjarmasin. Hal yang membedakan adalah sebuah kasur terpasang di sudut ruangan yang fungsinya untuk istirahat para korban maupun tersangka yang terjerat kasus.



“Abang mau wawancara apa? Tentang kegiatan kami di PPA?” tanya Bripda Samirah.



Kalimat itu membuka perbincangan ringan bersama srikandi-srikandi Unit PPA. Aipda Devi mengatakan bahwa penanganan kasus yang dilakukan unitnya tidak berbeda dengan unit lain, yakni memeriksa pelaku dan korban serta saksi.



Namun jelas Devi, unitnya tidak turun langsung ke lapangan melakukan penangkapan atau berburu pelaku. Selain itu, aktivitas mereka melakukan sosialisasi ke tengah masyarakat, baik sekolah, perkampungan maupun di jalan-jalan dan pasar.



“Kami lebih banyak menangani penyidikan dan sosialisasi ke lapangan tentang perlindungan anak dan perempuan,” katanya.



Devi mengungkapkan, setiap kendala dan hambatan dalam bekerja selalu ada, terlebih dalam penanganan kasus seperti pencabulan maupun KDRT.



“Pemeriksaan cukup susah kepada korban anak balita. Karena keterangan mereka selalu berubah-ubah, tapi kami maklum karena usia mereka masih anak dan kuncinya harus sabar,” ungkap Devi.



Menurutnya, sikap humanis selalu ditunjukan kepada setiap masyarakat, baik itu pelaku atau korban yang terjerat kasus dengan tujuan agar pemeriksaan dan penanganan cepat rampung dan membuat mereka menyegani penyidik.



“Banyak pelaku yang enggan mengaku jujur melakukan ulahnya. Tapi dengan sikap ramah dan bersahabat yang kami tunjukan, akhirnya mereka mengaku jujur, meski sebelumnya kami dibuat lelah,” ujar Devi.



Dikatakan Devi, selain korban dan pelaku yang sering plin-plan, banyak juga masyarakat yang melapor kemudian membatalkan apa yang telah dilaporkan ke kepolisian.



“Laporan sudah diterima dan cek TKP, tiba-tiba keluarga yang melapor malah membatalkan laporan. Kebanyakan alasan mereka karena takut dan malu,” jelas Devi.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore