
Ketua Asosiasi Kratom Borneo (AKB) Kalbar, Suhaeri.
JawaPos.com - Harga kratom di Kalbar anjlok. Penyebabnya lantaran warga negara Amerika Serikat (AS) yang datang langsung membeli dalam partai besar. Padahal potensi ekspor terbuka lebar lantaran pemerintah sudah mengizinkan niaga komoditas ini.
“Ada indikasi orang ini datang ke gudang-gudang milik pemain kratom di Pontianak. Lalu mencari harga terendah dan memborong langsung dalam jumlah banyak. Hal ini merusak harga di tingkat distributor kita dan buyer di Amerika Serikat sana,” ujar Ketua Asosiasi Kratom Borneo (AKB) Kalbar Suhaeri, Kamis (20/7), sebagaimana diberitakan Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Jumat (21/7).
Menurutnya, daun yang dikenal masyarakat lokal sebagai purik ini baru booming beberapa tahun terakhir dan mengalami keseimbangan pasar. Padahal dulu hanya segelintir orang yang tahu daun tanaman keras hutan Kalimantan ini memiliki nilai ekonomis. Namun sekarang para petani dan pedagang kratom lokal kian banyak. Apalagi saat ini niaga kratom sudah dilegalkan.
“Akibatnya suplai terlalu banyak. Sementara permintaan di sana (Amerika Serikat) tumbuhnya tidak terlalu cepat. Persaingan ekonomi ini yang membuat harga turun,” jelasnya.
Perkembangan teknologi informasi yang kian berkembang juga menjadi penyebabnya. Pasalnya, saat ini banyak orang-orang sudah bisa melakukan penjualan secara online. Anjloknya harga semakin diperparah dengan banyaknya yang menjual kratom berkualitas di bawah standar.
“Kratom ini perlu perlakuan khusus untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Harusnya berpikir jangka panjang. Prinsip entrepreneurship tangguh ini yang seharusnya kita miliki,” lugas Suhaeri.
Senada disampaikan salah seorang pengusaha kratom besar Kalbar, Faisal Putra. Menurutnya, datangnya warga AS tersebut patut dipertanyakan. Sebab, warga negara asing ini sudah masuk ke kampung-kampung untuk mencari suplai yang murah. “Dia punya modal besar, sehingga bisa beli dalam jumlah banyak,” ujanrya.
Beberapa temannya, kata Faisal, juga sudah didatangi supaya menjual ke warga AS tersebut. Sementara dirinya mengaku menahan diri dahulu untuk tidak menjual, karena harganya saat ini sedang anjlok.
“Saat ini, harga remah kratom di Pontianak berkisar Rp 35 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya bisa tembus Rp 60 ribu per kilogram. Sedangkan harga daun basah di tingkat petani cuma Rp 7000 per kilogram,” ungkapnya.
Faisal juga mempertanyakan legalitas usaha dan izin dari WNA ini. Pemerintah, terutama Imigrasi perlu mengecek apakah keberadaan orang asing ini di Kalbar memiliki izin tinggal dan berbisnis atau tidak.
“Bagaimana dengan visanya apakah untuk melancong atau bekerja. Karena yang saya tahu, sekali pengiriman kratom dia bisa sepuluh kontainer sekali jalan. Seharusnya bisa dideportasi kalau melanggar aturan,” tuturnya.
Dia berharap, pemerintah dapat melindungi pelaku usaha lokal. Jangan sampai Kalbar sebagai endemik kratom hanya menjadi penonton. “Sedangkan negara lain sudah membudidayakan dan mengembangkan tanaman ini,” lugas Faisal.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
