Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Desember 2016 | 14.58 WIB

Dari Seribu Pemuda Hanya Satu yang Baca Buku

Pengunjung membaca buku yang dijajakan pada gelaran Festival Indonesia Menggugat, di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Kamis (1/12). - Image

Pengunjung membaca buku yang dijajakan pada gelaran Festival Indonesia Menggugat, di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Kamis (1/12).

JawaPos.com – Sebanyak 14 komunitas literasi dan 20 penerbit dan toko buku alternatif ikut serta dalam kegiatan Pekan Literasi Kebangsaan (PLK) di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) selama satu minggu (1-7/12). Acara yang dibuka budayawan Sunda, Hawe Setiawan ini mengembalikan semangat literasi di kalangan pemuda.



Hawe Setiawan mengatakan, budaya literasi ini menjadikan masyarakat lebih selektif terhadap aksi-aksi pencemaran di dunia maya. ”Saat ini masyarakat sudah cerdas. Ketika di sosial media terdapat aksi saling menghina, minimalnya bisa meng-unfriend perteman,” ungkapnya.



Menurut dia, Gedung Indonesia Menggugat ini dibangun atas budaya literasi. Untuk itu, dia mengingatkan betapa pentingnya budaya literasi terutama bagi pada kalangan pemuda.



Menurut Ketua Pelaksana Pekan Literasi Furqon AMC, kegiatan tersebut merupakan inisiaasi sederhana dari masyarakat di Kota Bandung, terutama para pemuda. ”Mereka (pemuda, red) percaya bahwa demokrasi bukan sekedar urusan elektroral semata. Demokrasi perlu disamai dengan gagasan yang utuh dan kualitatif,” ucap Furqon.



Dia menyakini, gerakan literasi ini menjadi hal penting yang perlu dimajukan. Diakuinya, daya baca di Indonesia masih minim. Yakni, 1 banading 1.000 orang yang setiap tahunnya membaca. Artinya, dari 1.000 orang pemuda hanya satu orang yang membaca setiap tahunnya.



”Di Eropa, seorang mahasiswa setiap bulannya harus membaca tiga buku dengan bacaan di luar mata kuliah,” ungkapnya.



Jika dikalkulasikan dalam setahun, lanjut dia, orang tersebut bisa membaca 36 buku. Buku-buku tersebut, di akhir tahun dipersentasikan kepada masing-masing dosen. Banyaknya buku yang dibaca, akan menumbuhkan daya nalar kritis bagi para pemuda.



”Kalau kita lihat kampus di Indonesia, nampaknya tidak ada kewajiban bagi mahasiswa untuk membaca buku lain di luar matakuliah,” jelasnya.



Selain itu, intimidasi kampus kepada mahasiswa agar cepat menyelesaikan perkuliahan. Dia membenarkan jika lulusan perguruan tinggi nantinya akan memiliki keterampilan. Akan tetapi, tidak memiliki nalar kritis. (nit/fik/yuz/JPG)

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore