
Endog Abang jadi pengganti oleh-oleh saat tak kebagian gunungan.
JawaPos.com - Tradisi berebut gunungan saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak ada dilakukan di Solo, Jawa Tengah. Hal serupa juga terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Saking banyaknya yang ingin mendapatkan gunungan, tidak sedikit warga yang tak kebagian. Salah satunya seperti dialami Endang Guntoro, warga Sutodirjan, Pringgokosuman, Gedongtengen, Kota Yogyakarta.
Tak ingin pulang dengan tangan hampa, perempuan berusia 61 tahun itupun mencari penggantinya. Endok abang (telur merah) dan suruh (daun sirih) banyak dicari ibu-ibu yang tak kebagian saat rebutan gunungan hasil bumi.
Kedua benda tersebut dipercaya dapat memberikan berkah, meski bukan berasal dari gunungan yang diarak dari Keraton Yogyakarta. "Tadi tidak kebagian. Jadinya beli (endog abang) banyak akan diberikan ke tetangga-tetangga juga," kata Endang di sekitar Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, Jumat (1/12).
Hampir setiap tahun, Endang bersama ibu-ibu tetangga selalu mengikuti puncak acara perayaan Sekaten. Berupa perebutan hasil bumi gunungan di halaman Masjid Gede Kauman. Hanya saja, ia tak beruntung seperti ibu-ibu yang lain.
Endog abang sendiri terbuat dari telur ayam yang direbus. Kemudian kulitnya diberi warna merah dan ditusuk menggunakan ruas batang bambu. Biasanya ditambah dengan potongan kertas yang telah dibentuk sedemikian rupa.
Endog abang memiliki 3 makna. Telur (endog-jawa) diartikan sebagai sebuah kelahiran. Warna merah sebagai perlambangan dari kesejahteraan. Kemudian ruas bambu panjang yang menusuk berarti hubungan vertikal dengan pencipta (Tuhan).
Sehingga endog abang dapat diartikan sebagai simbol kelahiran kembali untuk kehidupan ke depan yang lebih baik. Serta simbol hidup sejahtera dengan selalu berpedoman dengan garis yang telah ditentukan oleh Tuhan. Biasanya, endog abang hanya ditemui saat Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS).
Lain halnya dengan Kurni, 59, warga dari Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman. Ia terpaksa harus berdesakan dengan para pria untuk mendapatkan keberkahan yang dipercayanya. "Dapat sedikit, kacang panjang. Ya karena kepepet (terpaksa berdesakan)," ujarnya.
Rayahan atau rebutan gunungan terjadi di pelataran halaman Masjid Gede Kauman sekitar pukul 11.00 WIB. Awalnya, delapan gunungan dan Gunungan Bromo dikeluarkan dari Keraton Yogyakarta.
8 Gunungan itu, satu dibawa ke Kadipaten Pakualaman, satu ke Kantor Gubernur di Kepatihan. Sisanya diperebutkan oleh masyarakat di halaman masjid. Khusus Gunungan Bromo dikembalikan lagi ke keraton. Upacara ini merupakan wujud rasa syukur dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dari Keraton Yogyakarta.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
