Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Desember 2017 | 21.43 WIB

Gunungan Ludes, Ibu Ini Berburu 'Endog Abang'

Endog Abang jadi pengganti oleh-oleh saat tak kebagian gunungan. - Image

Endog Abang jadi pengganti oleh-oleh saat tak kebagian gunungan.

JawaPos.com - Tradisi berebut gunungan saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak ada dilakukan di Solo, Jawa Tengah. Hal serupa juga terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).


Saking banyaknya yang ingin mendapatkan gunungan, tidak sedikit warga yang tak kebagian. Salah satunya seperti dialami Endang Guntoro, warga Sutodirjan, Pringgokosuman, Gedongtengen, Kota Yogyakarta.


Tak ingin pulang dengan tangan hampa, perempuan berusia 61 tahun itupun mencari penggantinya. Endok abang (telur merah) dan suruh (daun sirih) banyak dicari ibu-ibu yang tak kebagian saat rebutan gunungan hasil bumi.


Kedua benda tersebut dipercaya dapat memberikan berkah, meski bukan berasal dari gunungan yang diarak dari Keraton Yogyakarta. "Tadi tidak kebagian. Jadinya beli (endog abang) banyak akan diberikan ke tetangga-tetangga juga," kata Endang di sekitar Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, Jumat (1/12).


Hampir setiap tahun, Endang bersama ibu-ibu tetangga selalu mengikuti puncak acara perayaan Sekaten. Berupa perebutan hasil bumi gunungan di halaman Masjid Gede Kauman. Hanya saja, ia tak beruntung seperti ibu-ibu yang lain.


Endog abang sendiri terbuat dari telur ayam yang direbus. Kemudian kulitnya diberi warna merah dan ditusuk menggunakan ruas batang bambu. Biasanya ditambah dengan potongan kertas yang telah dibentuk sedemikian rupa.


Endog abang memiliki 3 makna. Telur (endog-jawa) diartikan sebagai sebuah kelahiran. Warna merah sebagai perlambangan dari kesejahteraan. Kemudian ruas bambu panjang yang menusuk berarti hubungan vertikal dengan pencipta (Tuhan).


Sehingga endog abang dapat diartikan sebagai simbol kelahiran kembali untuk kehidupan ke depan yang lebih baik. Serta simbol hidup sejahtera dengan selalu berpedoman dengan garis yang telah ditentukan oleh Tuhan. Biasanya, endog abang hanya ditemui saat Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS).


Lain halnya dengan Kurni, 59, warga dari Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman. Ia terpaksa harus berdesakan dengan para pria untuk mendapatkan keberkahan yang dipercayanya. "Dapat sedikit, kacang panjang. Ya karena kepepet (terpaksa berdesakan)," ujarnya.


Rayahan atau rebutan gunungan terjadi di pelataran halaman Masjid Gede Kauman sekitar pukul 11.00 WIB. Awalnya, delapan gunungan dan Gunungan Bromo dikeluarkan dari Keraton Yogyakarta.


8 Gunungan itu, satu dibawa ke Kadipaten Pakualaman, satu ke Kantor Gubernur di Kepatihan. Sisanya diperebutkan oleh masyarakat di halaman masjid. Khusus Gunungan Bromo dikembalikan lagi ke keraton. Upacara ini merupakan wujud rasa syukur dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dari Keraton Yogyakarta.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore