
Terdampak Bencana Banjir dan Longsor Sumatera, 30 Ribu Hektare Sawah di Aceh Terancam Gagal Panen. (istimewa)
JawaPos.com-Dosen Manajemen dan Mitigasi Bencana dari Universitas Airlangga (Unair) Hijrah Saputra menyoroti upaya pemerintah dalam menghadapi potensi bencana di Tanah Air.
Hal ini Hijrah sampaikan usai terjadi bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Hingga Rabu (3/12) pukul 15.05 WIB, korban meninggal sudah mencapai 807 jiwa.
Hijrah mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam menangani bencana di Sumatera. Seperti evakuasi dengan helikopter dan kapal perang, distribusi logistik, pemulihan listrik, hingga melakukan modifikasi cuaca.
"Antisipasi jangka pendek mungkin sudah cepat walaupun ada beberapa titik yang sulit dijangkau secara geografis agak sedikit terlambat. Tetapi saya pikir antisipasi jangka panjangnya masih lemah," tutur Hijrah di Surabaya, Rabu (3/12).
Menurut dia, hal ini karena sistem peringatan dini bencana alam di Indonesia belum dipasang merata. Belum menjangkau desa-desa terpencil, tata ruang belum disiplin, dan rehabilitasi lingkungan masih sporadis.
Karena itu, diperlukan langkah-langkah mitigasi yang konkret. Langkah pertama atau jangka pendek, SAR harus memanfaatkan 72 jam golden time, yakni dengan cara menyuplai logistik dan layanan kesehatan.
"Langkah jangka menengah dengan melakukan audit kerusakan, perbaikan infrastruktur, dan relokasi warga dari zona merah. Lalu jangka panjangnya adalah rehabilitasi DAS, reboisasi lereng, normalisasi sungai, hingga integrasi mitigasi ke RPJMD," tandas Hijrah Saputra.
Secara khusus, Hijrah menyoroti banyaknya kayu gelondongan yang terbawa banjir bandang di wilayah Sumatera dan Aceh. Kayu-kayu tersebut diduga beradal dari penebangan kayu di hulu DAS yang membuat banjir semakin parah.
"Dalam ekosistem, pohon berperan penting menyimpan cadangan air tanah dan sebagai penahan agar tidak longsor. Video yang beredar di medsos jelas menunjukkan banyak kayu terdampar di sungai dan pesisir," terang Hijrah.
Fenomena tersebut menegaskan bahwa bencana di Sumatera tidak semata dipicu oleh faktor alam saja, tetapi juga akibat aktivitas penebangan hutan yang tidak terkendali, sehingga fungsi pohon tidak berjalan optimal.
“Ini bukan sekadar takdir, tetapi konsekuensi dari cara kita mengelola alam dan kesiapan sistem kita. Kalau kita ingin mengurangi korban di masa depan, maka kita harus disiplin tata ruang, ekologis DAS, dan integrasi sistem peringatan dini," tukas Hijrah Saputra.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022