Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Mei 2024 | 17.05 WIB

Setelah Sempat Memikirkan Dahulu, Warga Gayam Kota Kediri dengan Tegas Menolak Hasil Appraisal Pengadaan Tanah Tol Kediri-Tulungagung

Warga RW 1 Kelurahan Gayam memasang banner penolakan hasil penaksiran harga tanah terdampak Tol Kediri-Tulungagung yang dinilai rendah. (Foto: Ayu Isma/JPRK) - Image

Warga RW 1 Kelurahan Gayam memasang banner penolakan hasil penaksiran harga tanah terdampak Tol Kediri-Tulungagung yang dinilai rendah. (Foto: Ayu Isma/JPRK)

JawaPos.com – Pengadaan tanah untuk proyek strategis nasional (PSN) Tol Kediri-Tulungagung (Ki Agung) kembali terhambat.

Warga di Kelurahan Gayam, Mojoroto, yang sebelumnya menyatakan pikir-pikir terlebih dulu, kini dengan tegas menolak hasil appraisal (penaksiran harga tanah, Red) di wilayahnya.

Dilansir dari Radar Kediri JawaPos Grup, Jumat (10/5), warga di Kelurahan Gayam itu menolak hasil appraisal karena alasan harga yang ditawarkan dianggap terlalu murah dari harga pasaran.

Penolakan harga tersebut datang dari sejumlah warga Kelurahan Gayam yang mengikuti musyawarah tahap pertama, pengadaan tanah gelombang kedua, tepatnya pada hari Kamis (2/5) lalu.

Diketahui, pertemuan untuk menyampaikan hasil penaksiran harga dari kantor jasa penilai publik (KJPP) tersebut memang mendapat respons yang beragam.

Nur Kholis, salah satu warga terdampak mengatakan nilai appraisal masih di bawah harga wajar daerah tersebut.

Sebelumnya, salah satu warga menyebut tanahnya dihargai Rp 3,2 juta per meter. Namun, ia menepis pernyataan itu.

Sebab, di lingkungan RT 02/I rata-rata tanah pekarangan dihargai Rp 2,2 juta per meter. Sedangkan tanah sawah, dihargai Rp 1,3 juta per meter.

“Kalau ternyata benar Rp 3,2 juta, saya malah senang. Tetapi yang saya tahu, semua rata-rata Rp 2,2 juta per meter untuk tanah pekarangan,” ujarnya.

Dengan alasan harga itu pula, hingga kemarin warga masih belum memberi persetujuan. Alasannya, dengan lokasi lahan yang strategis mereka bisa mendapat harga yang lebih tinggi.

“Kalau hanya segitu, di dekat UB (Kampus negeri Universitas Brawijaya, Red) ya tidak umum. Sekarang ada tanah di dekat UB yang dijual sudah Rp 3,5 juta per meter,” lanjutnya.

Sanggahan serupa juga disampaikan Indah, 50, bukan nama sebenarnya. Jika warga lainnya mempersoalkan harga tanah, ia justru menyoroti nilai ganti rugi terhadap bangunan dan tanamannya.

“Karena kalau tanah sepertinya kan sudah nggak bisa berubah, sudah dikunci. Yang saya sayangkan itu nilai bangunan dan tanaman saya,” ujarnya.

Selain itu, rumahnya juga merangkap toko kelontong tergolong strategis lokasinya. Bukan hanya itu, menurutnya lahan pekarangannya juga mencakup belasan pohon buah yang masih produktif.

“Rumah saya ini juga sudah keramik sampai belakang. Dan toko saya ini juga alhamdulillah ramai terus. Mungkin juga akses jalannya besar,” sambungnya terkait bangunan yang berdiri di lahan seluas sekitar 600 meter persegi itu.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore