
Warga RW 1 Kelurahan Gayam memasang banner penolakan hasil penaksiran harga tanah terdampak Tol Kediri-Tulungagung yang dinilai rendah. (Foto: Ayu Isma/JPRK)
JawaPos.com – Pengadaan tanah untuk proyek strategis nasional (PSN) Tol Kediri-Tulungagung (Ki Agung) kembali terhambat.
Warga di Kelurahan Gayam, Mojoroto, yang sebelumnya menyatakan pikir-pikir terlebih dulu, kini dengan tegas menolak hasil appraisal (penaksiran harga tanah, Red) di wilayahnya.
Dilansir dari Radar Kediri JawaPos Grup, Jumat (10/5), warga di Kelurahan Gayam itu menolak hasil appraisal karena alasan harga yang ditawarkan dianggap terlalu murah dari harga pasaran.
Penolakan harga tersebut datang dari sejumlah warga Kelurahan Gayam yang mengikuti musyawarah tahap pertama, pengadaan tanah gelombang kedua, tepatnya pada hari Kamis (2/5) lalu.
Diketahui, pertemuan untuk menyampaikan hasil penaksiran harga dari kantor jasa penilai publik (KJPP) tersebut memang mendapat respons yang beragam.
Nur Kholis, salah satu warga terdampak mengatakan nilai appraisal masih di bawah harga wajar daerah tersebut.
Sebelumnya, salah satu warga menyebut tanahnya dihargai Rp 3,2 juta per meter. Namun, ia menepis pernyataan itu.
Sebab, di lingkungan RT 02/I rata-rata tanah pekarangan dihargai Rp 2,2 juta per meter. Sedangkan tanah sawah, dihargai Rp 1,3 juta per meter.
“Kalau ternyata benar Rp 3,2 juta, saya malah senang. Tetapi yang saya tahu, semua rata-rata Rp 2,2 juta per meter untuk tanah pekarangan,” ujarnya.
Dengan alasan harga itu pula, hingga kemarin warga masih belum memberi persetujuan. Alasannya, dengan lokasi lahan yang strategis mereka bisa mendapat harga yang lebih tinggi.
“Kalau hanya segitu, di dekat UB (Kampus negeri Universitas Brawijaya, Red) ya tidak umum. Sekarang ada tanah di dekat UB yang dijual sudah Rp 3,5 juta per meter,” lanjutnya.
Sanggahan serupa juga disampaikan Indah, 50, bukan nama sebenarnya. Jika warga lainnya mempersoalkan harga tanah, ia justru menyoroti nilai ganti rugi terhadap bangunan dan tanamannya.
“Karena kalau tanah sepertinya kan sudah nggak bisa berubah, sudah dikunci. Yang saya sayangkan itu nilai bangunan dan tanaman saya,” ujarnya.
Selain itu, rumahnya juga merangkap toko kelontong tergolong strategis lokasinya. Bukan hanya itu, menurutnya lahan pekarangannya juga mencakup belasan pohon buah yang masih produktif.
“Rumah saya ini juga sudah keramik sampai belakang. Dan toko saya ini juga alhamdulillah ramai terus. Mungkin juga akses jalannya besar,” sambungnya terkait bangunan yang berdiri di lahan seluas sekitar 600 meter persegi itu.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
