Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Desember 2023 | 06.59 WIB

Pemkab Lombok Tengah Cegah Stunting Lewat Edukasi kepada Calon Pengantin

Bupati Kabupaten Lombok Tengah, Lalu Fathul Bahri dalam Sosialisasi Pencegahan Stunting melalui Peningkatan Gizi dan Kesehatan Calon Pengantin dan Pasangan Usia Subur di Kabupaten Lombok Tengah.

JawaPos.com -Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah terus berupaya menurunkan angka prevalensi stunting melalui upaya pencegahan dengan sasaran calon pengantin dan pasangan usia subur (PUS). Upaya itu digencarkan karena saat ini kabupaten Lombok Tengah merupakan daerah dengan prevalensi stunting tertinggi di seluruh Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Hal tersebut disampaikan Bupati Kabupaten Lombok Tengah, Lalu Fathul Bahri dalam Sosialisasi Pencegahan Stunting melalui Peningkatan Gizi dan Kesehatan Calon Pengantin dan Pasangan Usia Subur di Kabupaten Lombok Tengah pada Senin (4/12).

Lalu mengatakan, seluruh sektor harus bergerak untuk menurunkan angka stunting. Terutama harus lebih banyak menuju ke pondok-pondok pesantren untuk diberikan edukasi lalu sekolah-sekolah lain karena pencegahan jauh lebih penting untuk dilakukan demi generasi-generasi yang akan datang.

Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, angka prevalensi stunting di NTB mencapai 32.7 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 1.3 persen dari angka stunting di NTB pada tahun 2021.

Kabupaten Lombok Tengah menjadi kabupaten dengan angka prevalensi stunting tertinggi yakni sebesar 37 persen. Angka ini bersumber dari data SSGI tahun 2022.

Sedangkan berdasarkan data e-PPGBM per Agustus 2022, angka prevalensi stunting di Kabupaten Lombok Tengah berada pada angka 13.34% dengan entrian sebesar 97.4 persen.

Selain upaya itu, Bupati Lalu juga menyebut bahwa pihaknya telah menyiapkan SMA Taruna Nusantara yang dipersiapkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Lombok Tengah.

“Kami telah menyiapkan 35 hektar tanah untuk SMA Taruna Nusantara dan progresnya sudah mencapai 80 persen,” tambahnya.

Ia juga berharap angka prevalensi stunting yang telah mencapai 13.34% berdasarkan data e-PPGBM di Kabupaten Lombok Tengah terus mengalami penurunan.

Selain itu, Lalu juga mengimbau agar SKI (Survei Kesehatan Indonesia) harus dikawal karena SKI berbicara data dan data yang dirilis harus rill dan jelas.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Lombok Tengah Baiq Sri Hastuti Handayani mengatakan bahwa dalam rangka menyikapi angka prevalensi stunting yang masih tinggi berdasarkan data SSGI, diperlukan upaya dan gerak iring bersama dari multisektor baik dari tingkat Kabupaten sampai ke desa/kelurahan untuk bersama mengintegrasikan program percepatan penurunan stunting.

Salah satunya adalah optimalisasi pencegahan dari hulu atau penyiapan keluarga bebas stunting bagi calon pengantin.

Calon pengantin (catin) dijadikan sebagai sasaran intervensi sensitif dan spesifik sesuai dengan amanat Perpres Nomor 72 Tahun 2021 dan Perka BKKBN Nomor 12 Tahun 2021. Catin harus melakukan pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan pendampingan kesehatan reproduksi dan edukasi gizi sejak 3 bulan sebelum menikah.

Lebih lanjut, Sri Hastuti mengatakan, berdasarkan laporan pendampingan oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) melalui aplikasi Elsimil dari Januari-Oktober 2023, persentase jumlah catin yang terdampingi mencapai 200 persen.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore