Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 September 2022 | 03.48 WIB

Pemandian Patemon, Jember, dan Cerita Mistis yang Menyelimutinya

BIKIN FRESH: Pengunjung beraktivitas di kolam renang utama Pemandian Patemon, Tanggul, Jember. Air yang segar dipadu dengan udara sejuk menjadi daya tarik utama wisatawan. (Alfian Rizal/Jawa Pos) - Image

BIKIN FRESH: Pengunjung beraktivitas di kolam renang utama Pemandian Patemon, Tanggul, Jember. Air yang segar dipadu dengan udara sejuk menjadi daya tarik utama wisatawan. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Cerita turun-temurun menyebut, pemandian tertua di kota penghasil tembakau itu menjadi lokasi bersatunya cinta Dewi Rengganis dan Andi Sose, seorang pangeran dari Makassar. Karena itu, hingga kini airnya diyakini bisa membuat hubungan percintaan langgeng.

---

AREA Pemandian Patemon, Jember, tampak syahdu ketika disambangi Jawa Pos beberapa waktu lalu. Suara gemericik air hingga gesekan daun menemani pengunjung ketika menapaki anak tangga. Pemandian yang terletak 27 kilometer dari pusat kota itu menyimpan banyak kisah. Dulu pemandian tersebut adalah telaga. Dewi Rengganis sering kali mandi di tempat yang terletak di lereng Gunung Argopuro tersebut. Suatu ketika, dia mengetahui ada seorang pria bernama Andi Sose yang mengintipnya. Akibatnya, Dewi Rengganis marah besar kepada pangeran asal Makassar tersebut.

Andi beralasan, ketika melintas di atas perbukitan, dirinya selalu melihat Rengganis. Dari pertemuan itu, mereka saling jatuh hati dan menjalin hubungan serius. Hingga akhirnya, muncul istilah patemon yang memiliki arti bertemu. ”Bahasa Madura-nya itu katemon,” jelas Sunarko, ahli waris Pemandian Patemon.

Kisah cinta mereka memunculkan mitos. Masyarakat percaya para pengantin baru yang berendam bakal memiliki hubungan yang awet. Sering kali mereka masih mengenakan baju pengantin saat berendam. Bahkan, ada yang berasal dari luar Jember. Sunarko pun heran dari mana mereka mengetahui mitos tersebut. ”Pernah lima pengantin barengan semua,” ungkapnya.

Air yang diyakini berasal dari Danau Taman Hidup itu dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Menurut Sunarko, seorang sesepuh dari Tengger menyebut Pemandian Patemon memiliki air suci. Pemberian dari Sang Hyang Widhi. Saat Tahun Baru Imlek, warga Tionghoa mengambil air tersebut untuk membersihkan rumah.

Air itu juga menjadi media pengobatan bagi pengunjung yang kesurupan karena berbuat asusila. Sebab, lokasi tersebut dijaga dua ekor naga gaib berwarna hijau dan kuning. Mereka menjaga pemandian yang berada di ketinggian 500 mdpl tersebut dari para pengunjung yang memiliki niatan kurang terpuji.

Sunarko bercerita, pada 2008 sekelompok orang berusaha melakukan ritual penarikan mustika gaib. Namun, mereka gagal karena sang naga tidak menyukainya. Mereka pun terlempar puluhan meter hingga lari terbirit-birit. Cerita lain, ada juga yang mencoba menarik pusaka dari salah satu kolam hingga terseret arus air yang tenang. Pengelola lantas memutuskan untuk melarang hal-hal berbau klenik. ”Bisa berimbas ke pengunjung yang lain. Misalnya, sakit,” ujarnya.

Menengok ke perbukitan sisi utara yang dikelilingi pohon bambu. Di bawah pohon jati, pengunjung akan melihat area pemakaman. Makam itu ditemukan Sunarko pada 1989. Tiga makam merupakan tempat dikuburkannya para pejuang yang meninggal saat era kerja paksa kolonial Belanda.

Sementara, satu makam lainnya merupakan makam Mbah Eyang Kiai Sapu Jagat. Nama lain dari Mbah Eyang Kiai Tirto Kusumo. Sunarko mengetahui hal tersebut ketika seseorang asal Banten memastikan tempat peristirahatan terakhir Sapu Jagat. Tempat itu ditemukan setelah orang tersebut berkeliling ke berbagai daerah.

Sunarko pernah bermimpi bertemu dengan Mbah Eyang Kiai Sapu Jagat. Dia menggambarkannya sebagai seorang pria dengan perawakan tinggi. Jenggotnya lebat menutupi dada. Dengan rona kulit yang putih. Beliau adalah seorang penyebar agama Islam di Jember dari takhta Kerajaan Banten. ”Saya juga gak tahu tiba-tiba dapat mimpi gitu,” katanya.

Dia menyebutkan, ada tujuh arca yang terpendam di segala penjuru Pemandian Patemon. Belum diketahui orang yang meletakannya. Namun, dipastikan arca kuno itu ada sebelum era keislaman di Indonesia. Lokasi tepat arca tersebut sudah diketahui saat peneliti dari Pemda Jember melakukan riset. Alat berat juga sudah diterjunkan untuk mengambil arca di kedalaman 8 meter.

Namun, jika arca dipaksa diambil, area pemandian akan ambrol. Sebab, arca itu terpendam di lumpur. Akhirnya, para peneliti membatalkan rencana mereka dan merahasiakan lokasi pasti arca tersebut.

Keganjilan lain diceritakan Slamet, ketua koordinator Pemandian Patemon. Saat pemandian itu dipugar, para pekerja tidak mengadakan ruwatan terlebih dahulu. Padahal, ruwatan merupakan hal esensial untuk menghormati para leluhur. Seorang mandor langsung jatuh sakit esoknya dan penyakitnya tidak diketahui dokter. ”Dibawa ke sini lagi, dikasih air langsung sembuh,” jelas dia.

Cerita lain, Nico Muhammad, seorang pengunjung yang menggeluti bela diri, mengungkapkan bahwa energi Pemandian Patemon sangat terasa positif saat malam 1 Sura. Dia bercerita, salah seorang gurunya merasakan aura kehadiran Dewi Rengganis dan para sesepuh tanah Jawa.

Bahkan, sang guru sempat bermimpi dikunjungi seorang naga sebelum datang ke Pemandian Patemon. Saat Sunarko dimintai konfirmasi, barulah diketahui bahwa naga tersebut adalah penjaga sekitar. ”Kami pelaku ritual merasa diundang untuk Suroan di Patemon,” tuturnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore