Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 Mei 2022 | 00.24 WIB

Dampak Wabah PMK, Harga Sapi Bali Meroket, Capai Rp 19 Juta Per Ekor

Petugas saat menyuntikan vitamin pada  seekor sapi kandang sapi di kawasan, Rangkapan Jaya, Depok, Jawa Barat, Jumat (20/05/20222). Penyemprotan dilakukan UPTD Rumah Potong Hewan Depok  sebagai upaya pencegahan menyebarnya penyakit mulut dan kuku (PMK) pa - Image

Petugas saat menyuntikan vitamin pada seekor sapi kandang sapi di kawasan, Rangkapan Jaya, Depok, Jawa Barat, Jumat (20/05/20222). Penyemprotan dilakukan UPTD Rumah Potong Hewan Depok sebagai upaya pencegahan menyebarnya penyakit mulut dan kuku (PMK) pa

JawaPos.com - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia, ternyata berdampak signifikan pada kenaikan harga Sapi. Di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Harga sapi Bali naik sebesar 50 persen lebih.

"Setelah adanya PMK harga sapi meroket. Sebelumnya di kisaran Rp14 juta - Rp16 juta per ekor, sedangkan saat ini ada di harga Rp18 juta-Rp19 juta untuk jenis sapi Bali," kata Kepala Dinas Pertanian Tapin Wagimin di Rantau, Kamis (26/5) dikutip dari Antara.

Dijelaskan, dengan adanya arahan pemerintah pusat terhadap pembatasan transaksi perdagangan sapi dari daerah produktif ternak, seperti ; Medan, Jawa Timur dan Jawa Tengah menjadi faktor utama naiknya harga sapi.

"Sesuai arahan menteri, sapi dari tiga daerah itu tidak boleh masuk ke daerah lain, karena terindikasi PMK," ujarnya.

Selain sapi yang berasal dari tiga wilayah tersebut, kata dia, masih diperbolehkan masuk ke Kalimantan Selatan, namun harus melalui proses pemeriksaan kesehatan yang ketat.

"Misalnya dari Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur, boleh saja masuk dengan syarat memenuhi standar kesehatan dan tidak terindikasi PMK," ujarnya.

Saat ini, ketersediaan sapi di Tapin menjelang Idul Adha baik dari peternak ataupun pedagang ada 850 ekor.

Jumlah tersebut, kata dia, diperkirakan masih cukup, namun karena pembatasan transaksi tersebut harga ditingkat petani dan pedagang menjadi naik.

"92 persen masyarakat Tapin, lebih memilih sapi dibanding kambing sebagai hewan kurban," ungkapnya.

Seorang peternak sapi di Tapin Aiman Fadillah menjelaskan, meskipun harga naik, sekarang daya beli masyarakat masih cukup tinggi.

"Ada 25 ekor sapi yang sudah dibeli ataupun dipesan. Sekarang tidak bisa memenuhi permintaan pesanan lagi karena mencari sapi sulit sekali," ujarnya.

Tahun lalu, kata dia, dengan harga yang standar paling murah Rp12 juta - Rp13 juta penjualan sapi lebih 40 ekor saat memasuki momentum bersejarah umat muslim tersebut.

"Tahun lalu, saya malah kekuatan sapi, saking banyaknya permintaan. Sekarang, harga tinggi, sapi sulit dicari," ujarnya.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore