
Siswa saat mengikuti kegiatan belajar sacara tatap muka dengan kapasitas 50 persen di Sekolah Dasar Negeri 014 Pondok Labu, Jakarta Selatan, Jumat (4/2/2022). Presiden Jokowi meminta pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) dievaluasi, terutama di 3 pro
JawaPos.com–Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar minta pemerintah kota agar penerapan pembelajaran tatap muka (PTM) sementara dihentikan. PTM selama hampir dua bulan dilaksanakan, sementara waktu dikembalikan ke sistem dalam jaringan (daring/online).
Ketua IDI Kota Makassar Siswanto Wahab mengatakan, alasan siswa harus kembali belajar daring karena tingginya angka kasus harian yang terjadi selama sepekan terakhir.
”Angka kasus Covid-19 di Makassar setiap hari makin tinggi sehingga sangat penting agar dikeluarkan kebijakan untuk melindungi anak-anak kita,” ujar Siswanto Wahab seperti dilansir dari Antara di Makassar.
Dokter Siswanto mengatakan, ada tiga poin penting untuk perhatikan masa depan anak. Yakni hak anak hidup, hak anak sehat, dan hak anak mendapatkan Pendidikan.
Menurut dia, seluruh warga sekolah termasuk guru dan staf sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki risiko yang sama untuk tertular dan menularkan Covid-19 untuk sementara dibatasi interaksinya.
”Anak-anak adalah masa depan kita. Mereka generasi penerus bangsa dan kita wajib melindungi mereka. Seiring meningkatnya kasus harian, interaksi warga sekolah harus dibatasi juga, apalagi PPKM di Makassar naik ke level 3,” kata Siswanto Wahab.
Humas IDI Makassar dokter Wachyudi Muchsin menambahkan, panduan dari WHO, publikasi ilmiah, publikasi di media massa, dan data Covid-19 di Indonesia pada saat ini menjadi alasan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring jauh lebih aman.
”Melihat meningkatnya kembali kasus Covid-19 saat ini dengan varian baru Omicron perlu pembelajaran melalui sistem jarak jauh alias online dijalankan untuk amannya,” terang Wachyudi Muchsin.
Yudi, sapaan akrab dokter Wachyudi Muchsin juga meminta dinas pendidikan melakukan evaluasi. Apakah protokol kesehatan PTM sudah efektif diterapkan atau belum.
Penerapan prokes PTM, menurut dia, harus dimulai dari pendidikan disiplin hidup bersih sehat dari rumah hingga ke sekolah. Termasuk mempersiapkan kebutuhan penunjang kesehatan anak seperti masker, bekal makanan dan air minum, pembersih tangan, hingga rencana transportasi.
”Orang tua juga harus memperhatikan kebutuhan anak termasuk mendorong vaksin di seluruh tingkatan umur,” ucap Wachyudi Muchsin.
Selain itu, dia menambahkan, perlu diajarkan juga pada anak dan guru untuk mengenali dan mengetahui gejala awal sakit dan melapor pada guru apabila diri sendiri atau teman ada yang mengalami gejala sakit. Selama pandemi Covid-19 anak masih sangat memerlukan pendampingan orang tua saat sekolah mengingat risiko sakit parah apabila tertular.
”Sebaiknya anak belajar dari rumah melihat saat ini kasus meningkat dengan varian baru Omicron,” papar Wachyudi Muchsin.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
