Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 Oktober 2018 | 01.59 WIB

Aksi Bela Tauhid, Ada Narasi Pemisahan Agama dan Negara

Konvoi massa Aksi Bela Tauhid di Kota Medan, Jumat (26/10). - Image

Konvoi massa Aksi Bela Tauhid di Kota Medan, Jumat (26/10).

JawaPos.com - Markas Polda Sumatera Utara (Sumut) dikepung ribuan massa aksi bela tauhid yang konvoi dari Masjid Raya Al Mashun, Jumat (26/10). Massa berkumpul tepat berada di Jalan Sisingamangaraja depan Mapolda Sumut. Lalu lintas di jalan itu pun lumpuh total. Jalan itu menjadi lautan manusia.


Massa yang berunjukrasa menuntut pelaku pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid ditangkap. Sehingga massa menggelar aksi sebgai bentuk desakan.


Kata Sekretaris Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) ulama Sumut, Ustad Zulkarnain, kedatangan massa ke Polda Sumut ingin membuat laporan ihwal pembakaran bendera itu. Pembakaran bendera dianggap penghinaan bagi umat Islam dan Pancasila.


"Akhirnya timbullah kemarahan umat Islam. Maka umat Islam hari ini tumpah, menuntut satu hal, bubarkan ormas si pembakar dan tangkap pelaku pembakarannya," ungkap Ustad Zulkarnain.


Menurut Zulkarnain, dengan menghina Islam berarti juga menghina Pancasila sebagai ideologi bangsa. Untuk itu tutur dia, Banser sudah tidak layak lagi untuk eksis di Indonesia dan patut dibubarkan.


"Narasi yang dibangun rezim sekarang, mencoba memisahkan agama dan negara dengan isu sekularisasi. Saya kira ini grand design, makanya polanya rezim, tidak akan berani menangkap atau menghukum Banser," jelasnya.


Soal polisi yang menyebut itu adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Zulkarnain membantah. Dia mengatakan, jika Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menyatakan jika bendera yang dibakar bukan bendera HTI. Melainkan bendera umat Islam yang berlafazkan Tauhid.


"Dari video yang tersebar tidak ada logo HTI, melainkan hanya bendera syahadat yang tertulis dalam kain hitam. Maka saya kira Polisi harus arif melihat persoalan ini. Kalau kita tegaskan itu bendera Tauhid. Jika HTI menggunakan bendera serupa, itu persoalan lain," pungkasnya.


Di tengah aksi, Kapolda Sumut, Irjen Agus Andrianto menemui massa. Dia memastikan laporan dari massa diterima. Nantinya, Polda Sumut akan meneruskan ke Mabes Polri.


"Apa yang sudah kita dengar dari paparan Kabareskrim dan penyidikan di Direskrimum Polda Jabar, ada yang ingin membuat rusuh. Sehingga terjadi pembakaran bendera yang ada kalimat Tauhid," sebutnya.


Selain itu, Agus juga menyampaikan kepada massa bahwasanya Sumut adalah milik bersama. Karenanya sebagai Kapolda, dirinya harus menjaga semuanya.


"Sumut adalah milik kita bersama. Kasian masyarakat yang lain, karena bukan hanya kita yang tinggal di Sumut. Jadi sebagai Kapolda harus menjaga semuanya," tandasnya.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore