
TENANG: Seminggu terakhir Gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas.
JawaPos.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) mengungkapkan masih ada sekitar 587 Kepala Keluarga (KK) yang masih tinggal di zona merah Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Merapi. Mereka tetap tidak mau direlokasi usai letusan dahsyat pada akhir 2010 silam.
"Penyebarannya saya tidak tahu persis, tapi sekarang masih 587 KK. Mereka masih berada di zona merah, dilarang untuk tempat tinggal. Boleh beraktivitas tapi tidak boleh ditempati," kata Kepala Pelaksana BPBD DIJ, Biwara Yuswantara saat ditemui di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, Kamis (24/5) siang.
Secara garis besar, alasan mereka enggan untuk direlokasi selepas bencana 2010 itu karena masalah ekonomi. Terlebih saat ini sumber perekonomian yang ada di lereng Merapi semakin meningkat, dengan menjamurnya spot-spot wisata. "Di atas aktivitas ekonomi tumbuh berkembang, kemudian enjoy," ucapnya.
Namun demikian, pihaknya terus melakukan pendekatan agar mereka yang berada di zona merah itu berkenan untuk direlokasi. Upayanya itu pun mengalami perkembangan, tahun ini ada 30 Hunian Tetap (Huntap) yang dibangun untuk 30 KK. "Kami terus melakukan pendekatan," ujarnya.
Dikatakan pula, aktivitas Merapi yang bergejolak ini mayoritas mereka yang berada di zona merah mengungsi. Dari data yang diperoleh ada 55 jiwa yang bermalam di Balai Desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan.
Anggaran sebesar Rp 9,5 miliar dari Pemda DIJ tahun ini pun siap digunakan sewaktu-waktu khusus untuk bencana. Baik ketika terjadi di Merapi, atau yang lain.
Namun, hingga kini belum ada pengajuan permohonan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman. Artinya, Pemkab setempat sudah cukup mengatasinya. "Tapi logistik, seperti tikar, makanan sudah kami salurkan," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng, Sarwa Pramana menginstruksikan kepada tiga daerah terdampak gunung Merapi, yakni Kabupaten Boyolali, Klaten dan Magelang untuk melakukan persiapan dini erupsi Merapi.
Diantaranya yakni menentukan titik pengungsian dan juga menyiapkan kandang komunal untuk hewan ternak milik warga. Hal ini karena, nantinya jika terpaksa dilakukan, evakuasi tidak hanya dilakukan terhadap warga melainkan juga hewan ternaknya.
"Untuk masing-masing kabupaten sudah saya minta untuk mengecek kesiapannya. Seperti peralatan, kemudian selter yang akan digunakan untuk tempat evakuasi korban. Juga kandang komunal," ungkap Sarwa saat berada di kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Klaten, Rabu (24/5).

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
