
MENJAHIT: Siti Mashuda saat melakukan kegiatannya sebagai penjahit baju di dalam Lapas Wanita Klas II A Malang, Jumat (20/4).
JawaPos.com – Siti Mashuda terlihat begitu telaten membuat pola pada selembar kain yang akan diubahnya menjadi sebuah pakaian ketika ditemui JawaPos.com, Jumat (20/4). Jari-jemarinya terlihat licah memainkan sejumlah peralatan jahit. Usai membuat pola, dilanjutnya dengan jahitan jelujur sebelum nantinya di-finishing menggunakan mesin jahit.
Kali ini, perempuan berusia 48 tahun itu akan membuat sebuah baju pesta untuk perempuan. Nantinya baju tersebut akan digunakan oleh salah satu karyawan Lapas Wanita Klas II A Malang.
Ya, perempuan yang akrab disapa Mashuda itu memang tidak seperti penjahit kebanyakan yang membuka tempat usaha di rumah ataupun di suatu tempat khusus. Dia biasa melakukan pekerjaanya itu di dalam lapas. Pasalnya, Mashuda sendiri merupakan salah satu warga binaan di lapas perempuan tersebut.
Selama 2,5 tahun belakangan, Mashuda memang menjalani masa hukumannya sembari bekerja sebagai penjahit di dalam lapas. Uang hasil menjahit itu pun kerap dia kirimkan ke keluarganya yang berada di Surabaya. Terutama untuk ketiga anaknya yang berada di rumah.
Mashuda sendiri merupakan seorang single parent. Suaminya telah meninggal dunia sejak 8 tahun yang lalu. Tak ayal, Mashuda harus menghidupi ketiga anaknya, meskipun berada di dalam jeruji besi.
Dengan tekad kuat, dirinya masih terus berusaha memikirkan cara agar anak-anaknya bisa menjalani kehidupan sehari-hari dan setidaknya tidak kekurangan biaya. Oleh karena itu, dirinya memanfaatkan keterampilan menjahitnya untuk bisa mengirimkan sejumlah uang ke rumah.
"Setiap bulan tidak tentu kirim (uang)nya. Tergantung banyaknya jahitan yang saya kerjakan," ujarnya ketika ditemui JawaPos.com, Jumat (20/4). Dia mengatakan, uang yang dikirimkan untuk anak-anaknya tersebut mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu. Tergantung uang premi yang diterima dari hasilnya menjahit baju.
"Kalau lagi rame, juga pernah mendapat Rp 500 ribu sebulan," kata dia. Uang tersebut, lanjut Mashuda, biasa dikirimkan melalui adik kandungnya yang biasa merawat anaknya.
"Saya kirim ke rekening adik. Ya untuk keperluan sekolah anak saya yang terakhir," jelasnya. Untuk diketahui dari tiga anaknya, satu di antaranya masih duduk di bangku sekolah kelas 1 SMP. Sedangkan anak lelakinya yang nomor dua, harus rela putus sekolah. Sementara anak pertamanya sudah menikah dan bekerja.
Perempuan kelahiran Surabaya tersebut menceritakan, kehidupannya saat ini berawal saat dirinya terjerumus dalam dunia narkotika. Hal itu terjadi tepatnya setelah suaminya meninggal dunia. Mashuda pun harus menghidupi ketiga anaknya.
Karena hasil dari pekerjaan menjahitnya kurang bisa menutupi kebutuhan sehari-hari, dia kemudian merangkap menjadi rentenir. Akibat dari pekerjaan barunya tersebut, dia pun berteman dengan orang-orang baru. Dari pertemanan itu pulalah, dia akhirnya mengenal obat-obatan terlarang.
"Awalnya karena teman, nawarin untuk memakai (narkoba)," jelasnya. Dirinya pertama kali mengenal obat terlarang itu sekitar tahun 2015, yakni narkoba jenis sabu. Selanjutnya, setelah memakai, dia kemudian berkembang menjadi pengedar sabu.
Alasannya, karena terimpit masalah ekonomi. "Ya saya mikir anak-anak saya untuk biaya sekolah. Terdesak kebutuhan ekonomi," papar dia. Jadi, selain menjadi pemakai, Mashuda juga menjadi pengedar narkoba.
Namun, Tuhan sepertinya mempunyai rencana lain. Sekitar tiga tahun yang lalu, pihak kepolisian menggrebeknya saat dia memakai barang haram itu di rumah. Mashuda pun dijebloskan di lapas Medaeng, Surabaya. Setelah 7 bulan mendekam di lapas tersebut, dia kemudian dipindahkan ke lapas Wanita Klas II A Malang.
Hal itu pun seketika mengubah hidupnya. Dia berpikir bagaimana kehidupan anak-anaknya di rumah, apalagi tanpa kehadiran orang tua. Oleh karena itu, ketika masuk ke lapas wanita Klas II Malang, dirinya kemudian memilih keterampilan menjahit yang setidaknya bisa menghasilkan uang.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
