Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Maret 2018 | 00.45 WIB

Pelanggan Rela Menunggu di Gubuk Hingga Dini Hari

Langsung ambil: Durian masak pohon di Desa Wonorejo, Lawang. - Image

Langsung ambil: Durian masak pohon di Desa Wonorejo, Lawang.

JawaPos.com - Yulaikha memiliki cara tersendiri dalam menjual durian. Perempuan berusia 55 tahun itu tak pernah menjual kepada tengkulak untuk kemudian dipasarkan secara luas. Melainkan dengan mengundang pembeli datang langsung ke kebun durian.


Yulaikha tinggal di Dusun Tlogorejo, Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim). Dia memiliki perkebunan seluas 1.500 meter persegi. Lahannya ditanami pisang, kopi dan rumput gajah.


Di antara tanaman-tanaman itu, tumbuh pohon durian yang selalu berbuat lebat. Setidaknya ada 20 batang pohon durian. Sekarang, buah durian di perkebunan Yulaikha sedang banyak-banyaknya karena memang lagi musim.


Yulaikha mengaku tidak pernah menjual duriannya ke luar kebun. Pembeli datang langsung ke perkebunan dan bebas membeli durian berapa saja jumlahnya.


"Tidak pernah jual ke luar. Kadang saja karena banyaknya permintaan, saya sampai sungkan karena duriannya sedikit," kata Yulaikha kepada JawaPos.com saat berkunjung ke perkebunannya.


Harga durian di perkebunan Yulaikha bervariasi. Mulai Rp 25 ribu hingga di atas Rp 40 ribu per buah. Hal ini tergantung dari ukuran durian yang akan dibeli.


Namun, pembeli yang datang ke perkebunan milik Yulaikha harus sedikit memiliki kesabaran. Sebab saat datang, pembeli tidak langsung dipetikkan durian. Melainkan harus menunggu si raja buah jatuh sendiri dari pohon.


Artinya, semua durian yang dijual Yulaikha merupakan buah masak pohon. Tidak ada istilah karbitan untuk membuat durian cepat matang. Bahkan, ada garansi tidak tertulis bagi pembeli durian.


Bila buah yang didapat rasanya tidak enak atau hambar, sang pemilik akan menggantinya dengan yang baru. Atau bila durian yang didapat ukurannya kecil-kecil, pembeli akan mendapatkan tambahan buah.


"Pernah ada orang komplain duriannya tidak ada rasa. Kemudian diganti langsung oleh ibu (Yulaikha). Padahal duriannya sudah habis dimakan di rumah," ungkap Alwi, salah satu pelanggan setia kebun durian milik Yulaikha.


Penasaran bagaimana rasanya menunggu durian runtuh, JawaPos.com kemudian ikut mencobanya. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh sebanyak tiga kali dari arah dalam setelah setelah 30 menit menunggu.


Tanpa membuang waktu, JawaPos.com langsung saja mencari sumber suara jatuhnya durian. Hasilnya, tiga durian berukuran sedang didapat.


Sementara dari pantauan, beberapa pembeli lain yang datang terlebih dulu tampak sibuk menikmati durian matang dengan aroma yang menggoda. Mereka menikmati si raja buah di gubuk bambu yang dibangun ala kadarnya.


Tidak jauh dari tempat tersebut, terdapat tumpukan kulit durian yang dibakar. Tujuannya untuk mengusir nyamuk dan serangga lain. "Enak banget, benar-benar manis," cetus Veve, salah satu pembeli asal Pasuruan.


Selang sejam setelah tiga durian runtuh, terdengar lagi suara berdebum yang cukup kencang. Setelah mencari ke dalam kebun sambil sesekali mendongak ke atas karena takut jika ada durian runtuh lagi, JawaPos.com menemukan satu buah durian yang cukup besar berwarna hijau. Kali ini aromanya cukup kuat.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore