Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Desember 2017 | 14.50 WIB

Kisah Program Bayi Tabung dari Pasangan Beda Negara

PASANGAN BEDA NEGARA: Gary Cooper (kedua kanan) dan Muntini (kedua kiri) bersama Atiqa Zelina Cooper (kiri) dan Zinia Nabila Cooper. - Image

PASANGAN BEDA NEGARA: Gary Cooper (kedua kanan) dan Muntini (kedua kiri) bersama Atiqa Zelina Cooper (kiri) dan Zinia Nabila Cooper.


Dia merasa pergi umrah merupakan jalan yang dipilihkan Allah. Sebab, semua proses keberangkatan begitu lancar. Gary dapat cuti dari kantornya. Keduanya cari travel umrah pun langsung dapat. “Persiapan dua minggu langsung terbang,” ujar dia.


Setiba di Tanah Suci, mereka ke Hijr Ismail untuk memohon doa di tempat mustajab itu. Muntini ingin berdoa di depan Hajar Aswad. Namun, dia terdorong oleh jamaah lain tepat ke depan pintu Kakbah. Di situ dia memanjatkan doa memohon anak. Tak kurang lima menit dia menghadap kiblat umat muslim sedunia itu.


Sepulang dari Tanah Suci, optimisme Muntini semakin menyala-nyala. Keduanya memulai langkah untuk kembali mengikuti program bayi tabung. Pada Maret 2009, mereka kembali ke dr Aucky. Kali ini, dia datang dengan penuh kepasrahan kepada Tuhan.


Memulai proses dari awal, tiga embrio berhasil ditanam ke rahim Muntini. Tiga hari kemudian dia sesak napas. Padahal tak punya riwayat asma. Kata dokter itu karena banyak obat yang dikonsumsi.


Muntini mengungkapkan, untuk yang tak punya mag tidak sakit. Tapi dia punya mag kronis. Akibatnya perutnya kembung seperti hamil. Bahkan, dia sempat pingsan hingga harus dirawat terlebih dulu.


Setelah membaik, pada hari ke-14 proses bayi tabung, Gary dan Muntini mendatangi dr Aucky untuk diambil darah dan kadar beta human chorionic gonadotropin (bHCG). Mereka diminta menelepon pihak rumah sakit pada pukul 12.00 WIB untuk mengecek hasil. Kemudian keduanya kembali ke hotel, tempat mereka beristirahat selama di Surabaya.


Jarum waktu beranjak ke angka 12. Keduanya saling bertatapan. Mereka cemas bagaimana hasil bayi tabung mereka kali ini. “Gary, kamu saja yang menelepon (rumah sakit),” perintah Muntini. “Tidak, kamu saja,” balas dia.


Dengan membulatkan tekad, Muntini mengangkat gagang telepon dan menekan nomor rumah sakit untuk menanyakan hasil setelah darah diambil. “Sebentar ya, Bu. Saya cek dulu di laboratorium,” kata perawat kepada Muntini.


Dia semakin deg-degan. Setengah jam kemudian dia kembali menelepon. “Selamat ya, Bu,” ujar perawat di ujung telepon. “Selamat apa?” balas Muntini. “Ibu hamil. Anak ibu kembar. Sore kembali lagi ketemu dokter,” lanjut perawat.


Muntini melompat girang. Gary menahan Muntini. “Tidak boleh melompat, kamu sedang hamil,” ujar Gary. “Kita harus segera salat untuk bersyukur,” lanjut Gary.


Mereka akhirnya pulang ke Balikpapan dengan kekuatan baru. Meski masih ada tantangan selama sembilan bulan untuk mempertahankan janin di kandungan. Selama hamil, emosi Muntini tak menentu. Bila tertawa, 5 menit kemudian bisa menangis atau mengamuk karena hal sepele. Dia sampaikan itu ke keluarga untuk dimaklumi.


Muntini tidak mengalami morning sickness dan mengidam. Namun, dia memperlakukan diri seperti ibu hamil pada umumnya. Bahkan pada usia kandungan 4,5 bulan, dia ke Australia bersama suami dengan seizin dokter. Pada usia kandungan 7 bulan, Muntini ke Surabaya karena ingin melahirkan di sana.


Mestinya dia mengurangi aktivitas supaya sang bayi tidak lahir prematur. Tapi saat menjelang Lebaran, kala itu dia malah berbelanja ke mal. Sempat kontraksi tapi dia menguatkan diri dan bed rest. Masuk usia kandungan 8,5 bulan, dia sudah tak kuat. Rasanya seisi perutnya hendak keluar.


Muntini ke rumah sakit dan dr Aucky menyatakan dia bisa melahirkan pada keesokan hari. Gary yang saat itu bekerja di PT Thiess Contractors Indonesia di Kalimantan Selatan langsung terbang ke Surabaya. Bayi mereka lahir normal dan sehat. Dua bayi cantik tersebut lahir pada 23 Oktober 2009 lalu. Anak yang keluar pertama diberi nama Atiqa Zelina Cooper. Tiga menit kemudian Zinia Nabila Cooper.


Tak ada perlakuan spesial kepada kedua anak mereka, meski mendapatkannya lewat perlu perjuangan panjang. Gary mendidik dengan pola reward and punishment. Jika berlaku baik diapresiasi. Jika sebaliknya diberi sanksi.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore