Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Februari 2017 | 12.40 WIB

Potret Buruk Pelayanan RSUD, Pasien Meninggal di Ruang Tunggu 

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


JawaPos.com - Pelayanan RSUD Karawang kembali menjadi sorotan. Salah seorang pasien, Titih (60), meninggal Senin (30/1) kemarin di ruang tunggu pelayanan.


Encun, anak almarhumah mengaku ibunya meregang nyawa ketika masih menunggu ruangan untuk dirawat. Tapi belum sempat mendapat ruangan, warga Dusun Pondok Bales, Desa Lemah Subur, Kecamatan Tempuran itu meninggal di ruang tunggu RSUD.


Dia bercerita, sesampainya di akses masuk instalasi gawat darurat, pihaknya yang ikut mengantar almarhumah disambut seorang satpam berseragam hitam. Kemudian satpam itu bertanya apakah pasien melahirkan atau bukan.


"Kalau bukan pasien melahirkan, silahkan cari rumah sakit lain. Karena ruangan sudah penuh," ujar Encun menirukan perkataan satpam RSUD tersebut dilansir Karawang Bekasi Ekspres (Jawa Pos Grup), Rabu (1/2). 


Akhirnya, lanjut Encun, keluarga membawa pulang kembali almarhumah dengan penuh kecewa. Dan keluarga mencoba meminta pertolongan ke politisi Partai Golkar, mengenai apa yang dialami keluarga saat berobat ke RSUD. Kemudian, Partai Golkar yang diwakili Asep Syarifudin yang juga anggota DPRD Karawang membawa kembali almarhumah ke RSUD untuk dirawat. 


Namun sesampai di IGD ada salah seorang satpam yang tanpa basa basi, kembali merespond dengan tak ramah."Dia bilang lagi, ruangan Penuh, silakan cari rumah sakit lain," beber Encun. 


Asep Syarifudin yang akrab disapa Asep Ibe menyayangkan sikap satpam RSUD ini yang dinilai tidak sopan. "Mungkin memang pihak satpam sudah dikomunikasikan dahulu oleh pihak perawat atau dokter yang ada di IGD jika bed yang ada di IGD itu penuh. Tapi kan bisa menyampaikan bahasanya dengan etika, kan pasti ada SOP-nya," kata Asep Ibe.


Asep Ibe juga mengakui, memang saat pertama datang dirinya melihat langsung jika kondisi ruangan IGD itu penuh. Dan setelah dikomunikasikan ke Kepala Bidang Perawatan dan Direktur Rumah Sakit, akhirnya diambil inisiatif untuk dibawakan blankar baru  serta dilayani dengan semestinya sambil menunggu ruangan IGD kosong.


"Ya, memang saya akui saat melihat kondisi pasien sepertinya sudah sangat parah. Kasihan sekali memang, dan yang sangat saya sesalkan seharusnya pasien pengidap penyakit jantung itu langsung ditangani saat pertama datang tanpa harus dibawa bolak balik. Sehingga akhirnya harus meregang nyawa," ungkapnya.


Sementara itu Direktur RSUD Karawang, dr Asep Hidayat Lukman membantah telah mengabaikan pasien Titih. Ia mengaku sudah melakukan penanganan kepada korban. 


"Saya sudah menginstruksikan petugas untuk memasukkan almh Titih ke IGD dengan memberikan kasur tambahan dan dibaringkan di blankar untuk sementara sampai dengan ada bed di IGD ada yang kosong ," katanya.


Asep juga menambahkan, almh Titih sudah ditangani secara maksimal, dengan memberi infus dan obat-obatan yang dibutuhkan yang tersedia di RSUD..


"Kami sudah memberi infus dan obat - obatan yang dibutuhkan. Namun umur di tangan Allah. Kami hanya berusaha sesuai kondisi dan kemampuan kami," ujar Asep Hidayat.


Asep juga mengungkapkan, meski baru saja mendapat akreditasi tingkat paripurna bintang lima pekan lalu, kapasitas RSUD Karawang tidak sanggup menampung pasien yang membludak setiap hari. "Ruang ICU kami hanya sanggup menampung 8 pasien,"pungkas Asep.(nna/kbe/mam/JPG)

Editor: Imam Solehudin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore