
Ilustrasi: Daging sapi impor
JawaPos.com – Kasus Anstraks di tiga dusun Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo terus menjadi perhatian serius Pemkab Kulonprogo. Rekam jejak sapi yang terkena antraks di Dusun Ngaglik diteliti.
Antraks adalah penyakit menular dan sangat mematikan disebabkan bakteri Bacillus anthracis dalam bentuknya yang paling ganas. Antraks bermakna ‘batubara’ dalam bahasa Yunani. Istilah ini digunakan karena kulit para korban menghitam.
Sekda Kulonprogo Astungkoro mengatakan berdasarkan pemeriksaan di laboratorium, sapi yang sempoyongan sebelum diporak (disembelih) warga dinyatakan positif antraks. Namun pemkab masih mencari tahu bagaimana kasus antraks bisa muncul di Purwosari.
‘’Kami masih terus menelusuri sapi itu belinya dari mana?’’ kata Astungkoro.
Pendataan ternak di Purwosari dan desa sekitarnya sudah dilakukan. Ribuan ternak sudah divaksinasi sebagai pencegahan. Agar lebih efektif, tim pemkab harus menemukan asal sapi yang positif antraks itu dari mana.
‘’Dengan begitu pemerintah bisa memutus distribusi ternak dari sana. Mencegah penyebaran penyakit yang sama (antraks),” kata Astungkoro kepada Jawa Pos Radar Jogja.
Masyarakat sekitar Purwosari sudah diberi edukasi dan penyuluhan instansi terkait. Warga diminta melapor jika ada ternak memiliki gejala klinis terjangkit antraks atau sakit dan mati mendadak.
“Warga dilarang memotong ternak yang sakit. Apalagi mengonsumsi dagingnya,” kata Astungkoro.
Kepala Dusun Ngaglik Suwaryono mengatakan sapi sakit dan disembelih warga memang milik warganya. Suwaryono tidak tahu asal atau dari mana sapi tersebut dibeli. ‘’Sudah lama (sapi dimiliki warga), mungkin sekitar 10 tahunan,” kata Suwaryono.
Sebelumnya, gejala antraks dialami 16 warga Dusun Ngaglik, Ngroto, dan Penggung. Mereka dilaporkan telah membaik usai menjalani pengobatan medis. Namun, salah seorang di antara mereka diketahui meninggal dunia pada awal Januari 2017.
Kepala Dinkes Kulonprogo Bambang Haryatno membenarkan satu warga terduga antraks meninggal. Tapi dia belum bisa memastikan yang bersangkutan meninggal karena antraks. Sebab sudah berusia lanjut, dan memiliki riwayat penyakit jantung.
“Kemarin setelah dicek, kumannya bukan itu (antraks) tapi memang dia juga kena (gejala antraks) di kulitnya,” kata Bambang.
Antisipasinya, warga diimbau membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Tidak memotong atau memakan daging hewan yang sakit. Tidak menyarankan warga menyembelih ternak yang sehat hingga situasi dinyatakan kondusif.
“Kami menyiagakan seorang tenaga kesehatan untuk memantau perkembangan di Purwosari,” kata Bambang. (tom/iwa/mar)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
Siaran Tunda Moto3 Inggris 2026! Ini Jadwal dan Link Live Streaming Veda Ega Pratama di Silverstone
Juara Piala Presiden 2026! 3 Pemain Persebaya Jalani Pemulihan Jelang Super League 2026/2027
