Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 November 2016 | 11.05 WIB

Simak Nih! Jatuhnya Helikopter TNI AD Diprediksi karena...

Sebuah mobil ambulance milik TNI yang mengantar korban helikopter bell 412 di kamar jenazah RSUD Tarakan.Minggu (27/11) - Image

Sebuah mobil ambulance milik TNI yang mengantar korban helikopter bell 412 di kamar jenazah RSUD Tarakan.Minggu (27/11)

JawaPos.com - Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan, Nanang Buchori angkat bicara menanggapi penemuan Helikopter jenis Bell 412 EP-AH 5166 yang jatuh di Long Sulit, Kecamatan Mantarang Hulu, Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara).



Dia mengungkapkan, cuaca di Kaltara sangat sulit diprediksi sehingga bagi para penerbang harus tetap waspada saat berada di langit Kaltara. Terutama di daerah Kabupaten Malinau maupun Kabupaten Nunukan, karena masih banyak perbukitan dengan pertumbuhan awan cumulus.



“Kondisi cuaca di Long Sulit pada umumnya berawan dengan status cumulus yang dapat terbentuk dengan sangat cepat,” ungkapnya dikutip dari Radar Tarakan (Jawa Pos Group).



Diketahui, Awan di daerah tersebut memiliki ketinggian hingga 1.500 fit dan kondisi awan ini diperkirakan sampai pada tanggal 2 Desember mendatang, dan untuk saat ini wilayah kaltara harus tetap waspada. Karena wilayah bagian samudera pasifik ada siklon atau tekanan rendah sehingga pertumbuhan awan-awan konvektif dan menyebabkan hujan yang cukup berat.



“Kepada seluruh masyarakat dan para penerbang harus tetap waspada hingga 2 Desember 2016 mendatang, karena banyak pertumbuhan awan yang sangat cepat tejadi,” imbaunya.



Dengan kondisi demikian, lanjut Nanang, pesawat tidak boleh sembarangan. Kalaupun nekat harus tetap berhati-hati, dan kalau bisa hindari awan gelap.



“Karakteristik daerah yang menggunakan nama depan long di Nunukan maupun Malinau, merupakan perbukitan. Sehingga, berbeda dengan wilayah lainnya. Apalagi awan-awan yang ada di sana dipengaruhi oleh angin pegunungan sehingga cepat terbentuk gumpalan-gumpalan rendah,” bebernya.



Awan ini, ditambahkan Nanang, biasanya akan muncul dipagi hari dan akan hilang pada saat terbitan matahari. Dan akan mengakibatkan kabut di daerah pegunungan, sehingga pesawat yang melintas harus terus waspada,” tuturnya. (*/eru/ddq/fab/JPG)

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore