Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 November 2016 | 19.48 WIB

Kemegahan Jembatan Dompak dan Pusat Pemerintahan Kepri (3)

Jembatan Dompak yang menghubungkan Kota Tanjungpinang dengan Pulau Dompak terlihat dari ketinggian. - Image

Jembatan Dompak yang menghubungkan Kota Tanjungpinang dengan Pulau Dompak terlihat dari ketinggian.

JawaPos.com TANJUNGPINANG - Setelah selesainya persoalan perkara Pemprov Kepri dengan PT Nindy Karya pembangunan Jembatan I Dompak jadi mangkrak selama tiga tahun anggaran.



“Terhentinya pembangunan, tentu menjadi kabar buruk bagi kinerja Pemprov Kepri pada waktu itu. Meskipun menuai pro dan kontra. Pembangunan harus tetap berlanjut,” ujar Kepala Biro Pembangunan Provinsi Kepri, Sardison dilansir Batam Pos (Jawa Pos Group).



Lantas pembangunan dilanjutkan lagi semasa Gubernur Kepri HM Sani, pada 2014. Sang gubernur membuat terobosan yang cukup berani untuk melanjutkan pembangunan jembatan tersebut.



Kelanjutan pekerjaan itu dilelang dan akhirnya proyek itu jatuh ke pangkuan PT Wijaya Karya (WIKA) dengan nilai kontrak Rp 312 miliar.



Penandatangan kontrak kerja dilakukan pada Juni 2014. Kemudian pada bulan Juli, Gubernur Sani melakukan peletakan batu pertama untuk kelanjutan pembangunan tersebut.



Gubernur Sani pada waktu itu, memberikan waktu 18 bulan kerja kepada kontraktor. Dengan harapan pada Desember 2015 pembangunan selesai.



Sani pada waktu itu mengatakan, kehadiran Jembatan I Dompak, akan menjadi spirit bagi percepatan pembangunan Tanjungpinang sebagai Ibu Kota Provinsi Kepri.



Dia punya keyakinan pembangunan yang dilakukan akan membawa kesejahteraan masyarakat. Bahkan Gubernur Sani sudah menyematkan nama Hang Tuah pada Jembatan I Dompak tersebut.



”Kita ingin Pulau Dompak dirancang elegan. Jembatan I Dompak menjadi jembatan harapan bagi percepatan pembangunan Tanjungpinang, Pulau Dompak khususnya,” ujar mendiang Sani kala itu.



Pada 19 Agustus 2015, Gubernur Sani purna tugas sebagai Gubernur Kepri. Berselang satu setengah bulan kemudian, tepatnya Jumat, 2 Oktober 2015 sekitar pukul 16.40 WIB.



Jembatan megah itu mengalami musibah yang tak diinginkan, pembangunan di P9 mengalami ambruk. Kejadian tersebut memutus harapan untuk menjadi pembangunan jembatan tercepat di Indonesia. Yakni selama 18 bulan.



”Padahal pekerjaan yang tersisa sekitar 280 meter lagi sampai Desember 2015. Kejadian itu benar-benar memukul semangat kami. Kami sudah berupaya bekerja sesuai dengan Standar Operasional (SOP) yang ada,” imbuh Pimpinan Proyek Jembatan I Dompak, Adi Prayitno.



Menurut Adi, meskipun pihak WIKA mengalami kerugian hampir Rp 30 miliar, tanggungjawab merupakan hal yang utama. Seiring berjalannya waktu, pihaknya dengan segala resiko bisa menyelesaikan pembangunan sesuai dengan yang diharapkan.



Diakuinya, ambruknya sebagian jembatan merupakan kendala terbesar pihaknya dalam pembangunan. ”Di luar itu, kondisi cuaca yang menghambat kami dalam bekerja. Kami bekerja siang dan malam untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan ini,” papar Adi. (**/iil/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore