Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Agustus 2020 | 12.49 WIB

217 Karya Bertema Pandemi di Manifesto VII

Jaelangkung Tak Mengerti Corona karya Nasirun yang menjadi salah satu peserta pameran daring Manifesto VII. (Dok/Galnasonline) - Image

Jaelangkung Tak Mengerti Corona karya Nasirun yang menjadi salah satu peserta pameran daring Manifesto VII. (Dok/Galnasonline)

JawaPos.com – Galeri Nasional Indonesia menaja pameran daring Manifesto VII yang menampilkan 217 karya. Pameran bertema Pandemi yang menghadirkan karya-karya pilihan dari undangan terbuka tersebut dapat diakses melalui laman galnasonline mulai Sabtu, 8 Agustus 2020. Manifesto VII dibuka oleh Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid di ruang daring.

Hilmar dalam sambutannya menyebut Manifesto VII melibatkan kalangan luas yang tidak hanya seniman saja. ’’Pameran ini menjadi jauh lebih partisipatif. Menampilkan ekspresi, pengalaman dari masyarakat selama pandemi,’’ katanya. Sejak pertama digelar tiap dua tahun pada 2008, Manifesto acap kali hanya mengundang perupa rekomendasi kurator saja. Kali ini, ketentuan itu dilonggarkan dengan membuka kesempatan kepada siapa saja untuk dapat mengirimkan karya.

Undangan terbuka untuk mengirimkan karya dalam pameran Manifesto VII berlangsung hingga 14 Juli 2020. Undangan tersebut terbuka untuk video sebagai karya maupun yang berisi rekaman proses penciptaan dan hasil akhir sebuah karya. Medium video dipilih karena dinilai paling representatif mengekspresikan gagasan, pengalaman, pernyataan, dan harapan peserta pameran untuk disajikan dalam bentuk daring.

Hasil dari undangan terbuka ini terkumpul 333 karya dari 267 peserta. Lalu, para kurator melakukan proses kurasi hingga mendapatkan 217 karya dari 204 peserta. Karya yang muncul dalam Manifesto VII sangat beragam. Dari mulai karya lukisan yang dihadirkan lewat medium video, tari, pemeranan teater, hingga karya dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Variasi ini menunjukkan perkembangan seni media baru di Indonesia yang semakin menggeliat di tengah tantangan dan kompleksitas.

Keragaman karya merespons tema pameran dan bentuk penyajian yang virtual berikut kebinekaan latar belakang pencipta dan proses penciptaannya menjadi kekuatan Manifesto VII. Hilmar menyebut Manifesto VII sebagai titik berangkat untuk seni rupa dan masa depan yang lebih baik . ’’Kita tidak ingin sekadar merekam apa yang terjadi, tetapi juga membangun imajinasi tentang masa depan yang lebih baik,’’ kata Hilmar.

Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto menyebut Manifesto VII menjadi pameran daring pertama berisi karya-karya baru yang diselenggarakan galeri milik negara itu pasca Covid-19 mewabah. Pada masa awal serangan Korona, Galeri Nasional sebenarnya telah menaja pameran daring. Namun, pameran virtual itu hanya menampilkan koleksi tetap milik negara. Menurut Pustanto, Manifesto VII menjadi salah satu inovasi kreatif yang dilakukan Galer Nasional dalam konteks merespons perubahan situasi.

Maklum, pameran ini sebenarnya tidak didesain untuk hadir di jalur daring. Perubahan situasi akibat pandemi mengubah semua desain awal Manifesto VII yang telah matang disiapkan sejak tahun lalu. Berbagai penyesuaian harus dilakukan untuk mencari format terbaik Manifesto VII. ’’Harapannya, Manifesto VII dapat diterima publik dan menjadi referensi pameran daring yang bisa terus dikembangkan menjadi lebih baik,’’ katanya.

Manifesto VII disajikan rapi. Para kurator yang terdiri dari Rizki A. Zaelani, Citra Smara Dewi, Sudjud Dartanto, Bayu Genia Krishbie, dan Teguh Margono cermat menyusun kriteria dari pembacaan mereka terhadap karya pilihan. Menurut Rizki, hasil kurasi karya yang beranekaragam bisa dibagi ke dalam dua tipe peserta pameran, seniman dan non seniman. Para seniman menghadirkan karya kompleks yang sarat dengan metafor untuk hubungan antara pandemi dengan struktur nilai di luar kemampuan nalar manusia.

Di lain pihak, peserta non seniman dari latar belakang berbeda-beda mulai dari dokter, mahasiswa, guru, pegawai, hingga ibu rumah tangga, menonjolkan dua jenis respons terhadap kondisi pandemi. ’’Pertama, menunjukkan perjuangan mereka beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi, dan ke dua, menghadirkan pandemi sebagai sebuah laporan situasi yang menggugah,’’ katanya.

Di laman galnasonline, karya-karya disajikan tidak berdasar dua tipe peserta tersebut. Namun, para kurator membagi karya berdasar lima kriteria. Pengunjung pameran cukup klik salah satu kriteria untuk melihat karya. Lima kriteria itu adalah Reaksi Balik dengan sub kriteria Seni & Kemungkinan, Seni Menyimpan Jawaban, dan Seni sebagai Perlawanan. Kriteria selanjutnya adalah Asimilasi Disimilasi dengan sub kriteria Hadir, dan Resapi.

Kriteria ke tiga Persejajaran dengan sub kriteria Sesuatu Ada di Sana, dan Sesuatu Ada di Sini. Kriteria ke empat adalah Fantasikan dengan sub kriteria Kisah, dan Tubuh. Lalu, kriteria terakhir adalah Gema yang tak memiliki sub kriteria. Pengelompokan karya berdasar kriteria ini memudahkan penonton Manifesto VII untuk menikmati pameran.

Keragaman bentuk dalam Manifesto VII menunjukkan dinamika perkembangan seni rupa di Indonesia. Para kurator pameran sepakat menempatkan Manifesto VII sebagai pemetaan perkembangan seni rupa di Indonesia melalui cara yang lain dan tidak biasa. Pameran ini menunjukkan dinamika yang tak hanya bicara soal tantangan perkembangan ekspresi seni media baru di Indonesia, tetapi juga memasuki kerumitan persoalan tentang perkembangan media-media baru bagi ekspresi seni rupa.

Zusfa Roihan, salah satu seniman peserta pameran, menyebut Manifesto VII memberikan tantangan kurasi yang berbeda. ’’Menurut saya pameran ini berhasil mengajak seniman bereksperimen dalam pembuatan karya berbasis video yang mungkin medium tersebut tidak cukup akrab bagi banyak seniman,’’ katanya. Seniman yang juga mengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung ini menyebut Manifesto VII tidak hanya meluaskan jangkauan apresiator namun juga menambah kemungkinan-kemungkinan penjelajahan ide seniman dalam berkarya.

Pameran dua tahunan ini diinisiasi dan diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia untuk pertama kali di tahun 2008 dalam rangka menyambut peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Berlanjut ke Manifesto II Percakapan Masa (2010), Manifesto #3 Orde dan Konflik (2012), Manifesto No.4 Keseharian (2014), Manifesto V Arus (2016), Manifesto 6.0 Multipolar: Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi (2018), dan sekarang Manifesto VII Pandemi. (tir)

 

Editor: tir
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore