alexametrics

Film Pembalasan Dendam

24 April 2022, 06:05:28 WIB

Film Pembalasan Dendam

setelah memasuki gudang kamera

di punggung kutub yang paling dingin,

bocah-bocah panas berebut keluar

dari mulut dari hidungku,

lalu kamera-kamera meleleh

dan membungkus sekujur tubuhku

–maka bersiap-siaplah:

aku bisa menjadi mata kail

menyusupi bola matamu,

aku berputar sebagai film horor

di balik tengkorakmu,

kau tak bisa kabur dari bioskop itu

ketika monster-monster merayap keluar

dari layar yang enggan membawa kapalmu melaju,

di lidah-lidah berduri mereka kau semanis

popcorn tenggelam dalam lumpur karamel panas,

dan tak ada jeritan kau terdengar

di telinga mana pun: aku menghapus track suara

sebelum meluncur menuju tungku panas

di ruang proyektor,

aku tinggal menghitung mundur

sampai seluruh nama di kredit berpulang

ke balik selimut beludru yang tebal

sebelum melihat tubuhmu

sebagai gulungan film yang terburai,

koyak di bawah langkah-langkah

para calon penonton memutari lobi bioskop:

tak ada poster wajahmu terpampang

di sisi dinding mana pun.

(Jakarta, Agustus 2021)

Doa Terakhir, Mungkin

semalam adalah doa

terakhir

dengan lidah tersalib

dan mahkota duri mengikat lambung

dan bebatu mendarat di dasar paru-paruku

semalam adalah doa

di mana aku meminta

kau jangan bangunkan aku

dengan alibi apa pun

semalam paku-paku berkarat

terlepas dari langitmu

seperti malam-malam yang lalu

sepulang kerja di cermin aku

menatap tubuhku:

sebongkah bangkai yang lelah

dan bola arwah bodoh

bingung mencari jalan keluar

dari badan yang jelas penuh

lubangnya

maka semalam aku berdoa

dan semoga esok malam

aku tak usah lagi berdoa padamu

tapi pagi ini aku masih terbangun

sekali lagi

dengan lendir menetes

dari setiap ronggaku

dan seragam itu tak bosan-bosannya

mendekap bangkaiku

(Jakarta, Agustus 2021)

Bertemu Aljabar untuk Pertama Kali

aku tak tahu kalau angka boleh

berdiri di samping huruf –tahu-

tahu aku teringat temanku

mustafa

: mama melarangku main dengannya–

tuhan dan malaikat di pundak

kalian berbeda, nanti mereka bertengkar dan

tak ada siapa pun pada pundakmu–

mama yang bilang begitu

papa mati karena pundaknya

kosong, dan mama ingin aku

bersandar lebih lama

pada pundaknya –angka dan huruf:

berbedakah tuhan dan malaikat mereka?

kuharap mereka berbeda

kuharap mereka bertengkar

lagi pula tak ada yang suka melihat

angka dan huruf bersama

mereka tak semestinya seperti itu

kuyakin mama pasti setuju

dan bu guru bersalah:

pintu neraka akan terbuka di papan

tulis, kami sekelas akan mencatat:

tangan-tangan iblis menarik bu guru

ke tungku berlahar,

matematika kembali berjalan lurus

tiada yang tak bisa kami hitung

dengan sepuluh jemari

(Jakarta, Agustus 2021)

SURYA GEMILANG

LAHIR di Denpasar, 21 Maret 1998. Ia telah lulus dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Buku-bukunya, antara lain, Mengejar Bintang Jatuh (kumpulan cerpen, 2015), Cara Mencintai Monster (kumpulan puisi, 2017), Mencicipi Kematian (kumpulan puisi, 2018), dan Mencari Kepala untuk Ibu (kumpulan cerpen, 2019).

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads