
Karya Jenar Kidjing berjudul Vulcrum-A Sonic Anthology dalam Cumbanarasa Project. (Komunitas Sakatoya for Jawa Pos)
JawaPos.com – Pandemi Covid-19 memaksa orang untuk masuk ke dalam interaksi daring demi keamanan dan kesehatan bersama. Interaksi langsung masih dibatasi, bahkan dilarang di daerah berkategori merah atau hitam. Internet menjadi juru selamat atas kebutuhan interaksi sosial bagi manusia semasa pandemi. Bagaimana jika dalam situasi pandemi seperti kini internet hilang? Pertanyaan itu menjadi titik tolak Komunitas Sakatoya di Kotagede merancang Cumbanarasa Project.
’’Manusia adalah homo homini socius. Saling terikat, saling terkait, saling butuh dengan manusia lain. Saat pandemi, internet sangat penting bagi manusia atas keniscayaannya itu,’’ kata B.M Anggana, Sutradara dan Produser Cumbanarasa Project. Menurutnya, pandemi yang tak terduga beserta melejitnya peran penting internet tersebut memicu beragam bentuk adaptasi manusia hari ini. Di ranah seni, pentas dan pameran daring bermunculan. Cumbanarasa bermain-main pada spekulasi bagaimana rupa seni bila internet lenyap.
Cumbanarasa Project adalah program mandiri penerbitan seni pertunjukan ke dalam bentuk artefak fisik. Istilah artefak fisik dipilih karena adanya kompleksitas penciptaan lintas batas bentuk seni. ’’Cita-citanya adalah melakukan konversi seni pertunjukan menjadi sesuatu yang bersifat collectable sehingga tak hanya selesai di ingatan,’’ kata Anggana. Harapannya penonton dapat menyiapkan ruang dan waktunya secara lebih spesifik ketika hendak menikmati karya dengan atau tidak bersama internet.
Untuk terbitan pertama, Komunitas Sakatoya akan menyajikan sebuah pertunjukan musik yang dikemas secara digital berjudul Vulcrum-A Sonic Anthology karya Jenar Kidjing. Komponis musik teater dan pertunjukan itu akan menghadirkan karya-karya yang beragam. ’’Ada 11 nomor yang tampil di sini. Sebagian muncul seiring proses teater. Seluruhnya disarikan ulang,’’ kata Jenar. Pertunjukan musik itu diproses menjadi video digital dan audio.
Gagasan Vulcrum juga ditafsirkan secara visual menjadi desain grafis yang diaplikasikan ke beberapa produk fisik. Vulcrum dalam Cumbanarasa mulai berproses pada 26-28 Juli mendatang dengan melibatkan 55 partisipan melalui undangan terbuka sebagai penonton. Para penonton tersebut wajib memberikan catatan bebas merespons Vulcrum. Catatan itu nantinya akan turut diterbitkan sebagai bagian dari artefak fisik Vulcrum. Akun Instagram Komunitas Sakatoya menjadi pintu bagi mereka yang ingin terlibat dalam Cumbanarasa Project. (tir)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
