Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Juni 2020 | 04.07 WIB

Bila Malam Bertambah Malam Versi Daring

Bila Malam Bertambah Malam oleh Teater Mandiri yang ditayangkan di kanal Youtube Komunitas Salihara. (Dok. Wicak Widhicahya for Jawa Pos) - Image

Bila Malam Bertambah Malam oleh Teater Mandiri yang ditayangkan di kanal Youtube Komunitas Salihara. (Dok. Wicak Widhicahya for Jawa Pos)

JawaPos.com – Teater Mandiri dan Putu Wijaya kerap diidentikkan dengan teater teror yang jauh dari drama. Namun, Putu Wijaya sebenarnya memiliki karya drama yang kuat. Salah satunya berjudul Bila Malam Bertambah Malam. Naskah lakon itu bersumber dari novel Putu Wijaya yang berjudul sama terbitan 1966. Lakon itu pernah dipentaskan oleh Teater Mandiri pada 1971 dan 1980 dengan menampilkan Renny Djadjusman dan Putu Wijaya sebagai dua pemeran utamanya. Pada 2013 lalu, lakon itu dipentaskan kembali oleh Teater Mandiri di Teater Salihara. Kini, pertunjukan itu dapat diakses melalui kanal Youtube Komunitas Salihara.

’’Penayangan Bila Malam Bertambah Malam adalah bagian dari program stay art home yang diselenggarakan Komunitas Salihara seiring belum meredanya pandemi Covid-19,’’ kata Manager Program Komunitas Salihara Ening Nurjanah. Menurutnya, lakon tersebut menjadi salah satu program yang berasal dari dokumentasi pertunjukan di Komunitas Salihara. Melalui penayangan dokumentasi tersebut Ening berharap para apresiator teater tetap dapat menikmati karya tanpa perlu harus datang ke gedung pertunjukan.

Pementasan Bila Malam Bertambah Malam versi daring tersebut tidak sama persis dengan pertunjukan langsungnya. Ada beberapa penyuntingan yang dilakukan terkait pertimbangan durasi maksimal dari Youtube. Di versi Youtube, Bila Malam Bertambah Malam oleh Teater Mandiri dibagi menjadi tiga babak. Masing-masing babak berdurasi antara 20 hingga 25 menit. Walau ada penyuntingan, tidak ada yang berubah dari cerita Bila Malam Bertambah Malam.

Bila Malam Bertambah Malam mengisahkan percintaan yang membentur kolotnya tradisi. Mengambil latar sebuah puri di Bali, lakon ini menghadirkan sosok Gusti Biyang yang menolak keras putra kesayangannya menjalin cinta dengan Nyoman karena perbedaan kasta. Gusti Biyang menganggap hubungan itu akan mencoreng nama besar keluarganya. Sikap keras Gusti Biyang pada akhirnya menyingkap banyak rahasia. Dari kepahlawanan palsu mendiang suaminya hingga kisah cinta rahasia antara dirinya dengan lelaki yang menjadi pelayan setianya, Wayan.

Pementasan ini menampilkan aktor-aktor senior teater Indonesia. Disutradarai Putu Wijaya, Gusti Biyang diperankan Niniek L. Karim, Wayan dimainkan Yanto Kribo, Ngurah oleh Arswendy Nasution, dan Fien Herman sebagai Nyoman. Pementasan Bila Malam Bertambah Malam amat kental dengan nuansa Bali. Tata musik dari I Gusti Kompyang Raka menebalkan rasa pulau Dewata itu di atas panggung yang tak banyak menggunakan properti. (tir)

 

 

Editor: tir
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore