Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Juli 2020 | 02.45 WIB

Siapkan Sastra Suara Berbasis Bahasa Ibu

Ilona Joline S. saat merekam pembacaan buku cerita anak bersama Difalitera beberapa waktu lalu. (Dok. Difalitera for Jawa Pos) - Image

Ilona Joline S. saat merekam pembacaan buku cerita anak bersama Difalitera beberapa waktu lalu. (Dok. Difalitera for Jawa Pos)

JawaPos.com – Difalitera mencoba terus konsisten menghadirkan sastra suara yang dapat diakses oleh disabilitas netra. Aktivitas pembacaan karya sastra yang direkam menjadi berkas audio agar dapat diakses dengan mudah oleh disabilitas netra mereka kini berkembang lebih luas lagi. Mereka tengah menyiapkan terobosan pengalihwahanaan karya sastra berdasar bahasa ibu nusantara ke dalam berkas audio. Program pendokumentasian bahasa ibu nusantara melalui pembacaan cerita pendek dalam aneka bahasa daerah di Indonesia itu saat ini tengah mereka matangkan.

’’Selama ini yang mengenal sastra daerah setiap suku dengan bahasa ibu masing-masing sangat terbatas di daerah bersangkutan saja,’’ kata Indah Darmastuti dari Difalitera. Diharapkan dengan pendokumentasian bahasa ibu nusantara ini para disabilitas netra bisa mengenali bermacam bahasa ibu di Indonesia sekaligus menumbuhkan apresiasi karya sastra tiap daerah. Indah menyebut walau ditujukan kepada para disabilitas netra, sudah tentu program ini juga berguna bagi siapa saja yang ingin mengetahui kebhinekaan bahasa ibu di Indonesia melalui karya sastra suara.

’’Kami menargetkan setidaknya 100 karya dalam bahasa ibu dari ujung Barat Indonesia hingga ujung Timur Indonesia,’’ kata Indah. Saat ini Difalitera sudah menghubungi beberapa penulis sastra daerah dan sudah ada 30 orang yang bersedia berkontribusi. Bahkan dari Batak, Banyumas dan Cirebon sudah proses produksi. Disusul karya-karya Pamona dan Mori, dua suku yang besar di Poso Sulawesi Tengah.

’’Kami merancang program kerja ini sampai April tahun depan,’’ katanya. Indah menyadari proses eksekusi program ini tidak sederhana. Selain persoalan dari sisi penceritaan, ilustrasi musik yang sebisa mungkin menggunakan kekhasan asal masing-masing bahasa ibu menjadi tantangan lain. Saat ini, Endah Fitriana sebagai illustrator musik Difalitera masih bekerja sendirian untuk menjawab tantangan itu. Tidak menutup kemungkinan program ini juga melibatkan musisi dari tiap daerah. (tir)

 

Editor: tir
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore