Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Juni 2020 | 07.59 WIB

Caligula Seturut Tafsir Kamateatra

Teater digital berjudul Caligula yang disajikan oleh Kamateatra Art Project bekerjasama dengan Teater Komunitas, Malang. (Dok. Kamateatra for Jawa Pos) - Image

Teater digital berjudul Caligula yang disajikan oleh Kamateatra Art Project bekerjasama dengan Teater Komunitas, Malang. (Dok. Kamateatra for Jawa Pos)

JawaPos.com – Albert Camus menulis lakon Caligula pada 1938. Caligula disebut sebagai salah satu karya yang menabalkan Camus sebagai pengusung eksistesialisme dan absurditas ke dalam teater. Naskah tersebut hingga kini masih kerap dimainkan berbagai kelompok teater di dunia. Di Indonesia, Kamateatra bekerjasama dengan Teater Komunitas (Malang) menyajikan tafsirannya terhadap naskah itu melalui pertunjukan teater online.

’’Kami memutuskan untuk menafsir ulang Caligula dalam pertunjukan teater digital berdurasi pendek,’’ kata Anwari, Sutradara sekaligus penafsir Caligula. Menurutnya, pilihan menghadirkan Caligula dalam bentuk semacam itu dilakukan atas pertimbangan selama ini sudah cukup banyak pertunjukan teater digital yang digarap secara eksperimental dari sisi penciptaannya. Selain itu, pilihan tersebut membuka kesempatan bagi sutradara untuk menafsir gagasan-gagasan yang menjadi esensi naskah.

Caligula versi Kamateatra berdurasi tak sampai 10 menit. Ditayangkan melalui kanal Kamateatra Art Project di Youtube, Caligula dimainkan oleh F.N Bagaskara sebagai aktor tunggal. Produksi ini didukung oleh Bedjo Supangat sebagai penata artistik dan videografer Sofyan Joyo. Pertunjukan ini bebas diakses oleh siapa saja tanpa perlu dipungut bayaran. Namun, disediakan informasi nomor rekening bagi yang hendak berdonasi secara sukarela.

Caligula versi Camus membabarkan raja yang hancur setelah istrinya meninggal. Kematian orang yang dicintainya membuat Caligula menyoal takdir, hidup, dan kuasa. Caligula lantas berubah dengan banyak kegilaan yang muncul pada tingkah dan kebijakannya sebagai raja. Lakon ini berakhir dengan kematian Caligula di tangan para pemberontak. Di tangan Anwari, Caligula ditafsirkan dengan sangat bebas.

Karya tersebut dibuka dengan satu pemain yang duduk di samping maneken tanpa kepala. Sepanjang empat menit pertama, penonton disuguhi aksi aktor tersebut melahap kerupuk yang tersaji di atas meja di depannya. Adegan makan kerupuk ini ditutup dengan aksi aktor menuang minuman merahnya ke maneken. Adegan lantas melompat begitu saja dengan kemunculan aktor yang sudah mengenakan topeng kayu. Lalu, hingga akhir dia menggeliatkan tubuhnya hingga terlentang di atas meja.

Caligula versi Kamateatra ini digarap dengan kesadaran pentingnya gambar dan audio sebuah lakon untuk panggung daring. Pengambilan gambar jarak dekat, menengah, dan jauh menjadikan panggung daring ini cukup asyik untuk diikuti. Namun, di saat sama karya ini justru menunjukkan persoalannya. Karya ini melawan keniscayaan teater sebagai peristiwa panggung yang mustahil disunting. Dan tampaknya Caligula versi Kamateatra juga bukan dibuat demi dokumentasi karya semata agar dapat dimainkan berulang-ulang tanpa perbedaan. Terkait tafsir naskah pertunjukan, sudah tentu sutradara adalah pemegang otoritas tertinggi.

Soal apakah tafsir itu sejalan dengan yang ada di kepala penonton atau tidak bukanlah hal penting. Demikian halnya dengan Caligula. Bagi penonton berbekal pemahaman bahwa absurd adalah hal tak masuk akal dan eksistesialisme merupakan persoalan filsafat yang berpusat pada manusia beserta kehendak bebas atas kemauannya, maka pertunjukan ini boleh disebut baik-baik saja. Sebaliknya, bagi penonton yang membayangkan Caligula sebagai lakon dengan dramaturgi kompleks boleh jadi menganggap tidak akan menjadi masalah bila karya ini diberi judul Calikrupuk, Calitopeng atau lainnya. (tir)

Editor: tir
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore