
PENCAHAYAAN HANGAT: Ruang komunal di lantasi dasar yang terhubung dengan inner couryard. Hidden warm lighting pada dinding dan ceiling menambah nuansa hangat.
Bentuk lahan yang memanjang, yakni 8 x 25 meter, menjadi tantangan arsitek Adeline Octavia dari Studio Dinding dalam mendesain WO House. Selain itu, mengakomodasi kebutuhan penghuni yang multigenerasi.
UNTUK menghindari kesan ruang yang bulky, lahan tersebut akhirnya ’’dilubangi’’ Adeline di bagian tengah. ’’Lubang’’ itu berupa taman atau yang biasa disebut inner courtyard. Landscape taman dibuat sederhana. Terdapat satu pohon pule yang tumbuh menjulang ke atas.
Tanah di sekelilingnya ditutup kerikil. Taman itu dibuat tanpa atap sehingga sinar matahari, udara, dan hujan bisa leluasa masuk dan menghidupkan pohon pule tersebut. Hingga tercipta ekosistem yang menyegarkan ke seluruh ruangan di sekitarnya. Taman itu dikelilingi pintu kaca yang dapat dibuka-tutup di lantai dasar.
Meski ukurannya lumayan kecil, taman tersebut menjulang ke atas hingga tampak dari lantai 3. ’’Menyatukan area indoor dan outdoor sehingga rumah terasa lebih luas. Juga mempermudah masuknya udara dan sirkulasi di semua ruangan,’’ kata Adeline kepada Jawa Pos.
PENCAHAYAAN HANGAT: Ruang komunal di lantasi dasar yang terhubung dengan inner couryard. Hidden warm lighting pada dinding dan ceiling menambah nuansa hangat.
WO House dihuni oleh pemilik, orang tua, dan saudaranya. Karena itu, kebutuhan ruangnya pun banyak. Adeline mendesain rumah tersebut menjadi tiga lantai. Lantai dasar merupakan area komunal yang menjadi pusat dari kegiatan bersama. ’’Di bagian belakang lantai dasar terdapat kamar orang tua untuk memudahkan agar tidak perlu naik turun tangga,’’ terangnya.
Lantai 2 difokuskan pada kamar utama dan kamar anak. Kemudian, lantai 3 merupakan kamar dari saudara pemilik rumah, ruang main anak, rooftop, dan ruangan multifungsi. Seluruh ruangan itu dapat menikmati manfaat inner courtyard. ’’Taman di area dasar sekaligus menambah view greenery yang menyejukkan. Pohon juga bisa terus tumbuh ke atas hingga lantai 3,’’ lanjut Adeline.
PENCAHAYAAN HANGAT: Ruang komunal di lantasi dasar yang terhubung dengan inner couryard. Hidden warm lighting pada dinding dan ceiling menambah nuansa hangat.
Untuk menyeimbangkan tema modern tropis yang diusung dalam rumah itu, interior banyak menggunakan material kayu solid. Misalnya, kayu ulin pada kisi-kisi fasad, plafon dari kayu jati, hingga panel dari kayu veneer. ’’Jadi lebih sinkron antara outdoor dan indoor, kesannya lebih hangat,’’ pungkasnya. (adn/c18/nor)
---
Highlights
ELEGAN: Interior banyak menggunakan warna cokelat, krem, abu-abu, dan hitam. Misalnya pada walk-in closet dan kamar mandi.
Selain kayu solid, beberapa material alam yang banyak digunakan adalah marmer. Yakni, marmer travertine. Misalnya, pada fasad, marmer dipadukan dengan material beton.
Area pantry memiliki langit-langit yang tinggi, menjulang hingga lantai 3. Dengan demikian, pantry terasa lebih lega. Terlebih, posisinya tepat di samping inner courtyard.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
